
Happy Reading 🥰
"Kamu!" Liora terkejut melihat kehadiran sosok laki-laki yang duduk di sampingnya, dengan jarak yang begitu dekat.
"Hai, kita bertemu lagi. Aku rasa kita memang berjodoh," ucap laki-laki yang duduk di samping Liora.
Liora memutar bola mata jengah, ia segera bangkit dari duduknya, namun di tahan oleh laki-laki itu, hingga Liora kembali terduduk.
"Hey! Kamu mau apa, Juna. Huh?" tanya Liora dengan kesal. Ia tak habis pikir kepada laki-laki yang kurang ajar itu, dia selalu muncul disaat yang tidak tepat.
"Ternyata kamu masih mengingat namaku. Pasti kamu sengaja menyimpan namaku di hatimu 'kan?"
"Astaga! Kau benar-benar menyebalkan!"
"Cantik, jangan marah. Aku hanya ingin berteman denganmu."
"Tapi, aku tidak mau berteman dengan laki-laki sepertimu."
"Ayolah Cantik, bahkan kamu sudah mengenal namaku, masa hanya aku yang tidak mengenal namamu?"
"Aku rasa, kau sudah tahu namaku."
"Aku ingin mendengar langsung dari bibir manismu."
"Orang macam apa dia? Kenapa tingkahnya sangat menyebalkan. Terlalu percaya diri, dan aku rasa dia sangat pandai merayu wanita." batin Liora menerka.
Terpaksa Liora menuruti keinginan Juna, ia memperkenalkan dirinya agar bisa lepas dari laki-laki tidak tahu diri itu. "Liora!" Ucap Liora ketus.
Juna tersenyum menang, ia langsung menerima uluran tangan Liora. Setelah berkenalan, mereka mengobrol ringan. Saking asiknya, Liora sampai lupa untuk pulang ke rumah. Sesekali mereka tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. "Ternyata kamu asik juga orangnya," ucap Liora yang masih dengan tawanya.
"Aku asik, hanya untuk orang-orang tertentu saja. Kamu beruntung bisa langsung akrab denganku, karena aku sangat pemilihan jika ingin berteman."
"Cih! Percaya diri sekali. Bukannya terbalik ya, sejak awal yang ngejar-ngejar aku, siapa?"
"Itu karena kamu sangat menarik."
"Modus!"
"Namanya juga mau PDKT."
"Apaan itu?"
"Hah! Kamu gak tahu kepanjangan dari PDKT?"
__ADS_1
"Kalau aku tahu ya gak bakalan nanya, Junaaaaa."
"PDKT itu kepanjangan dari 'PENDEKATAN", masa gitu aja gak tahu."
"Ish, ada-ada saja kamu."
Liora baru menyadari bahwa hari sudah gelap, kakaknya pasti sedang mencarinya di rumah. "Jun, aku harus pulang. Kakak aku pasti udah nyariin."
"Aku antar ya?"
"Gak usah, malah ngerepotin. Lagian rumah aku gak terlalu jauh dari sini."
"Udah aku anterin, gak ada penolakan!"
Juna mengantarkan Liora sampai ke rumahnya. "Makasih ya Jun, udah nganterin aku. Hm, mau mampir dulu?"
"Kapan-kapan aku mampir, sekarang aku masih ada urusan di luar."
"Ya udah, hati-hati ya."
Setelah memastikan Juna pergi dari sana, Liora langsung memasuki rumah. Benar saja, kakaknya sedang menunggunya di ruang tamu bersama dengan Edo.
"Dari mana kamu, Li?" tanya Jesicca dengan penuh selidik.
Wajah Jesicca bersemu merah saat mendengar penuturan Liora. "Lain kali pamit dulu, biar kakak gak khawatir."
"Iya Kak Jesi. Tumben kak Edo diem?"
"Dia lagi males ngomong, Li. Oiya, tadi pulang sama siapa?"
"Oh, teman aku, Kak. Tadi ketemu di pantai. Aku ke kamar dulu ya mau mandi."
Liora langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Edo dan Jesicca masih stay di ruang tamu. "Kamu masih marah?" tanya Jesicca kepada Edo yang sedari tadi diam terus.
"Enggak kok," jawab Edo ketus.
Bukan tanpa alasan Edo marah sama Jesicca, namun beberapa jam yang lalu, sebuah tragedi terjadi di dalam kamar Jesicca.
Flashback on.
Edo mengecup bibir Jesicca dengan lembut. Lama-lama ciuman itu berubah menjadi lu-ma-tan. Edo merubah posisinya berada di atas tubuh Jesicca. Decapan dan des**an memenuhi ruang kamar itu. Edo terus mengabsen setiap inci di dalam mulut Jesicca.
Tangan Edo tak tinggal diam, jemarinya dengan nakal membuka kancing baju, Jesicca. Bibirnya turun ke leher jenjang milik sang pujaan hati. Meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Jesicca terus men-de-sah saat Edo menggigit kecil lehernya.
__ADS_1
Saat tangan Edo menyentuh benda kenyal milik Jesicca, tiba-tiba Jesicca tersadar dari kehanyutannya. Jesicca mencekal pergelangan tangan Edo, kepalanya menggeleng pelan mengisyaratkan agar Edo tidak melakukan itu.
"Sebentar sayang, hanya di sini saja, aku tidak akan melakukan lebih." Edo berucap dengan bersungguh-sungguh. Setelah itu ia kembali me-lu-mat bibir Jesicca dengan rakus. Tangannya terus bermain di benda kenyal itu.
Mereka berdua hanyut dalam permainan panas yang mereka ciptakan. Edo tak hanya me-re-mas buah kenyal itu, namun ia juga mela**p, dan mengigit nya. Jesicca di buat melayang karenanya.
"Eungh ..., Edo!"
Edo terus menyusuri tubuh Liora. Tangannya semakin nakal, turun ke bawah pusar, dan menyusup ke balik celana ***** milik Jesicca. Sedangkan bibirnya terus bermain di buah kenyal itu.
Saat akan memasukkan jarinya ke dalam gua yang terletak di dalam kain tipis itu, Jesicca membelalakkan mata. Dengan cepat Jesicca terbangun dari posisi tidurnya. Reflek kakinya menendang terong jumbo milik Edo, yang masih terbungkus rapi di dalam celananya, namun benda itu sudah tegang dengan sempurna.
Buk!
Aw! Ssssst!
Edo meringis menahan sakit, ia meringkuk di atas kasur dengan kedua tangan yang memegang terong jumbo nya yang tiba-tiba loyo, karena mendapat serangan mendadak dari sang pujaan hati. Wajah Edo memerah karena menahan sakit yang sangat luar biasa. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan suara, hanya meringis dan meringis.
"Edo! Maaf, aku tidak sengaja." Jesicca merasa bersalah karena menyakiti Edo dengan menendang benda pusakanya. Jesicca membenahi pakaian yang tadi sempat terbuka oleh Edo. Ia bingung ingin melakukan apa, karena tidak bisa membantu Edo untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Akhirnya, Jesicca hanya diam menunggu Edo sampai baikan. Selang berapa lama, Edo terlihat membaik, ia merubah posisinya duduk di atas kasur.
Jesicca mendekati Edo dan memegang tangannya. "Ed, maaf ya. Aku benar-benar tidak sengaja. Kamu sih main gitu-gitu aja, aku kan kaget. Jadinya aku reflek nendang kamu. Apakah masih sakit?"
Edo hanya menggeleng saat Jesicca bertanya kepadanya. Edo diam bukan karena marah, malainkan ia malu saat mengalami kejadian seperti itu bersama Jesicca.
Edo memilih memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sempat panas tadi. Jesicca dengan setia menunggu Edo di dalam kamar. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Edo. Namun, ia juga merasa lucu, karena dirinya dengan berani menendang Edo.
Edo dan Jesicca berada di ruang tamu, mereka tengah menunggu Liora pulang. Karena tadi Jesicca sempat mencarinya di semua ruangan yang ada di rumah itu, namun Liora tidak ada. Mereka yakin Liora pasti sedang ke luar rumah. Jadi, mereka memilih untuk menunggunya di ruang tamu.
Flashback off.
Mendengar jawaban Edo yang ketus, membuat Jesicca merasa sedih. Apa sebegitu marahnya Edo terhadap dirinya. "Sebegitu marahnya kamu sama aku, Ed. Aku 'kan sudah bilang kalau aku tidak sengaja." Jesicca langsung pergi ke dalam kamarnya setelah mengatakan itu. Ia bersembunyi di balik selimut dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Edo tercengang saat mendengar penuturan Jesicca. Bukan seperti itu maksud Edo, Ia tidak marah sama sekali terhadap Jesicca, Edo hanya malu kepadanya. "Sayang! Kamu salah faham. Aku tidak marah sama kamu." Edo mengejar Jesicca ke dalam kamar.
Edo melihat punggung Jesicca bergetar di balik selimut. Ia yakin kalau Jesicca tengah menangis. "Aduh, kalau sudah seperti ini, bisa panjang urusannya. Bodoh! kenapa aku harus berbicara ketus kepada Jesicca." gumam Edo dalam hati.
...----------------...
Lopyu pull untuk kalian yang masih setia membaca novel ku😘😘
Semoga kalian sehat selalu.
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, komen, dan giftnya ya😘😘😘