Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Awal mula


__ADS_3

Rintikan hujan membasahi malam, Lara sedang berpacu dengan waktu, menyelesaikan semua tugasnya yang menumpuk, mencuci piring, kuali yang besar dan bebagai macam perlengkapan masak dirumah makan padang, tempatnya bekerja beberapa tahun ini.


Kemiskinan, itulah yang menjadi alasan utama Lara mau mengerjakan semua itu di usianya yang baru Lima belas tahun. Demi menghidupi Sang nenek yang sedang sakit keras, tanpa mampu mengobatinya.


Lara masih memiliki Ibu kandung sebenarnya, namun keberada'anya entah dimana, dan bagaimana wajahnya, Lara tak pernah tahu. Sejak kecil, Lara dibesarkan oleh Ayah dan Ibu tiri yang begitu menyayanginya. Hingga sebuah kejadian memilukan hati terjadi.


Lima Tahun yang lalu.


Ini adalah hari ulang tahun Lara, Ibu dan Ayahnya, membawanya kesebuah wahana bermain, ke restaurant langganan keluarga, dan merayakan Ulang tahun disana. Bahagia, itu yang mereka rasakan.


Setelah malam tiba, Lara dan keluarganya pulang untuk beristirahat. Dan Lara tidur memeluk boneka hadiah dari kedua orang tuanya dengan rasa bahagia yang begitu luar biasa.


Tengah malam.


"Lara, sayang." panggil Sang ayah.


"Iya, yah. Kenapa?"


"Ayah mau bawa Bunda ke Rumah Sakit sebentar, ya. Bunda pusing,"


"Lara ditinggal?" tanya Lara, yang masih dalam keada'an mengantuk.

__ADS_1


"Iya, nanti kalau ternyata Bunda harus dirawat, Lara ayah jemput. Ngga papa 'kan?"


"Iya, Yah. Hati-hati, ya." jawab Lara.


Sang ayah pun bergegas pergi, memapah Sang bunda yang begitu lemah, lalu berangkat menggunakan mobilnya.


Lara menengok dari jendela tanpa ekspresi, entah apa yang dirasakanya. Jantungnya berdebar, seolah Ia akan menerima sebuah kejutan besar dalam hidupnya.


Satu Jam kemudian, telepon rumah berdering. Dengan sigap Lara mengangkatnya.


"Hallo, siapa ini?"


"Hallo dek, adek dengan siapa dirumah?"


"Ngga ada orang dewasa yang menemani?"


"Ngga ada, Lara sendiri."


"Yaudah... Begini, Bapak sama Ibu Fajar mengalami kecelaka'an, dan nyawa mereka tak bisa tertolong. Kami sudah menelpon anggota keluarga lain yang akan mengurusnya, dan Beliau akan kemari besok. Jadi, kami hanya memberi tahu berita ini saja, ya sayang."


Lara bingung, tak tahu harus menjawab apa. Diusianya yang baru Sepuluh tahun, Lara hanya bisa diam, dan duduk dipojokan meja telepon dirumahnya.

__ADS_1


"Ibu, sama Ayah kenapa pergi? Lara sendirian?" tangisnya, masih memeluk boneka.


Siang hari, Ia mandi, dan makan sisa sisa semalam yang sempat Ia panaskan sebentar, lalu kembali duduk termenung sendirian, menanti seseorang menjemputnya, untuk menemui Sang ayah di Rumah Sakit.


Seharian Ia menunggu, tak ada yang datang. Perutnya lapar, tapi semua makanan sudah habis untuk sarapan tadi pagi.


Brummm, brummm,! Suara mobil berhenti diluar rumah.


Lara menengoknya, dan melihat seorang berjas hitam datang. Ia takut, lalu bersembunyi disudut meja telpon kembali, berusaha diam dalam ketakutanya.


Pria itu masuk, dan menatap tajam seluruh ruangan.


"Keluarlah, saya bawa makanan untukmu. Setelah itu, kita pergi ke makam Orang tuamu, dan pergi ke suatu tempat, dimana kamu bisa tinggal." ucap Pria itu.


Lara dengan ragu melangkahkan kakinya keluar, mengendap-endap mengambil makanan dimeja."


"Jangan berusaha mencuri. Saya memberikanya padamu, bukan untuk mencurinya dariku. Cepat makan, tak usah banyak melamun. Perjalanan kita panjang hari ini." ucap Pria itu pada Lara.


Lara menurutinya, makan dengan lahap, lalu Pria itu menyeretnya kemobil setelah makan selesai.


"Lara mau dibawa kemana?" tanya Lara.

__ADS_1


"Ke makam orang tuamu. Ucapkan perpisahan pada mereka. Lalu, kita pergi." jawabnya, tanpa menengok wajah Lara sama sekali.


__ADS_2