Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Work time


__ADS_3

Dion berbaring dibawah pohon didanau itu, hingga terlelap sebentar hingga rintik hujan membngunkanya.


"Aiiiih, kenapa harus hujan?" gerutunya. Ia lalu menyetir motornya kembali dengan begitu kencang, hingga sampai di apartemenya.


Karena tubunya basah, Ia kembali mandi agar tak masuk angin, lalu membuat teh hangat dan meminumnya dengan menonton tv. Kebetulan, ada cara bola pavoritnya malam ini. Ia menonton sendiri hingga bosan, lalu tertidur disofa dengan tv masih menyala sampai pagi.


Jam weker berbunyi, bersautan dengan suara Hp, karena telepon dari Adam. Dion meraba-raba meja didekatnya, lalu mengangkat telepon itu.


"Hmmm, Hallo?" sapa Dion yang masih terpejam.


"Dion? Astaga, belum bangun kamu?" tanya Adam.


"Kenapa?" tanya Dion dengan mengucek matanya dan melirik jam. "Baru jam Sembilan, kan?"


"Hey, baru loe bilang. Jam segini waktunya kerja, Loe bukanya mau kekantor buat perkenalan?" tanya Adam.


"Iya, bentar lagi gue kekantor." ucap Dion, lalu mematikan HPnya dan beranjak dari tidurnya.


DIon hanya mencuci wajahnya dan menyikat gigi, karena begitu malas utnuknya mandi pagi ini. Setelah itu, Ia mengganti pakaianya dengan kemeja putih, celana dasar hitam dan jas senada dengan warna celananya. Tak lupa Ia memakai pomade agar rambutnya lebih rapi, lalu memakai parfum kesayanganya.

__ADS_1


"Aishhh. Mobilku dibawa Kak adam, dasar menyebalkan. Terpaksa pakai motor lagi aku kekantor. Mana udah rapi begini." keluh DIon.


Dion lalu nekat membawa motornya dengan kencang kekantor, Jasnya yang tak terkancing melayang-layang seolah ingin membawanya terbang karena terpa'an angin yang berhembus melawan arah perjalanan Dion.


Ia tiba dikantor, lalu memarkirkan motornya diparkiran dan tak lupa menitipkan helmnya dipost satpam.


"Ehhh, Mas Dion sudah pulang?" sapa Pak bandi, satpam senior dikantor itu.


"Iya dong..... Masa mau kuliah terus. Pak bandi sehat? Makin keren aja nampaknya." goda Dion.


Pak bandi hanya tersenyum, dan menyimpan helm Dion dibawah meja kerjanya agar aman.


Dion tak menjawab, hanya berjalan maju dan mengarahkan jempolnya pada Pak bandi. Dion lalu berjalan dengan semangat menuju ruangan Ayahnya dengan seseklai melirik para karyawan yang memberi hormat padanya. Ketampananya membuat semua karwayan wanita terperanga, sampai menggetarkan hati. Pegawai lama menyapanya dengan ramah, sedang pergawai baru bertanya-tanya akan siapa dia, hingga jatuh hati padanya.


"Selamat pagi...." ucap  Dion ketika memasuki ruangan Papanya, dan ada pula Adam disana yang sudah menunggunya.


"Pagi? Ini udah siang woy. Udan mandi apa belum sih loe?" ucap Adam.


"Di singapure, ini masih termasuk pagi." jawab Dion, duduk santai didepan Sang ayah.

__ADS_1


"Jangan disamainlah," balas Adam.


"Dah, jangan tengkar. Adam, duduk disebelah Dion." pinta Papa farhan, lalu Adam menurutinya.


"Dion... Sebentar lagi Kakakmu akan menikah, jadi Papa harap kamu menggantikanya sebentar untuk mengurus perusaha'an. Setelah itu, kamu akan Papa tempatkan dikantor cabang. Bagaimana?"


"Pa, kan disini ada Papa. Lagian Mas Adam kan hebat, masa ngga bisa ngurus nikahan sama perusaha'an. Emang mau sebesar apa pestanya?" ucap Dion.


"Yang mewahlah, Kaka pengen buat pernikahan berkesan buat Lara." balas Adam.


"Yaelah, begitu aja. Tinggal Wo suruh ngurusin. Prewednya dikantor, aja kan, simple." ucap Dion.


"Tidak sesimpel itu ferguso. Kenyata'anya, tamu undangan puluhan ribu, dan rencana pesta nya kudu diperhitungkan matang-matang. Aah, loe jomblo mana ngerti." ledek Adam.


"Ya... Gue jomblo, tapi jomblo terhormat." balas Dion.


"Maksudnya?" tanya Adam.


"Sudah... Kalau ingin bertengkar, sekalian saja diatas ring. Papa carikan pendukung masing-masing, dan Papa berikan hadiah piala. Bagaimana?" omel Papa farhan yang mulai kesal.

__ADS_1


__ADS_2