Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Hari pernikahan


__ADS_3

Hari yang ditunggu tiba. Hari pernikahan Adam dan Lara. Keduanya telah dipersiapkan dikamar mereka masing-masing.


Adam dengan jas dan celana serba hitamya, begitu tampan dan gagah. Tak terlihat sedikitpun, jika Ia sebenarnya tengah sakit dan bisa jatuh kapan saja dan bahkan tak kenal situasi. Hari ini Ia begitu ceria, tersenyum lebar menjelang peresmian Cintanya untuk Lara.


"Udah siap, Sayang?" Papa farhan menghampiri Adam dengan dandanan yang tak kalah tampan dan keren, bagaikan mereka seusia saat ini.


"Siap..." Adam menghela nafas panjang, dan menjawab dengan penuh antusias.


Sedangkan diruangan yang lain, Lara dan Mama ana juga telah bersiap dengan dandanannya masing-masing.


Lara memakai kebaya warna ungu, sesuai dengan warna pavoritnya selain abu-abu. Dihiasi aksen kerlap kerlip yang menambah mewah dandanannya yang natural namun begitu cantik.


"Lara siap?" Mama ana menghampiri dengan kebaya yang berwarna sama begitu juga dengan Dewi.


Mereka semua bahagia, kecualu Dion yang masih santai dikamarnya. Menghisap rokoknya dengan memandang keluar jendela, menatap keraimaian dibawah. Ramai dengan persiapan pesta, dan para tamu yang mulai berdatangan.

__ADS_1


"Hancurkan, atau biarkan hancur dengan sendirinya?" Dion bergumam sendiri, entah apa yang ada dalam hatinya.


Adam sudah menunggu dimeja penghulu yang merangkap wali hakim untuk Lara. Jantungnya berdegup kencang dengan irama yang tak beraturan, Ia mulai cemas dan wajahnya berkeringat.


"Tidak sakit kan?" Papa farhan bertanya dengan mengusap keringat di wajah Adam.


"Tidak... Iramanya masih terkontrol, hanya perlu mengatur nafas." Adam memegangi dadanya, lalu berkali-kali menarik nafas dalam hingga irama jantungnya kembali normal.


Sambutan demi sambutan diutarakan, acara akan segera dimulai. Mama ana menggandeng Kara turun, bersama Dewi disisi yang lainya dengan begitu anggun.


Lara membayangkan, andai Sang ayah ada disini, pasti Ia akan lebih bahagia sekarang.


"Maaf, Ma... Lara inget ayah."


"Wajar saja jika ingat. Hari ini adalah hari dimana seharusnya beliau yang mengantar Lara untuk menikah. Usap air matanya, ngga enak dilihat tamu."

__ADS_1


Lara menuruti Mama ana, dan dengan perlahan mengusap air matanya dan berusaha tersnyum seperti sedia kala.


Ketika mulai berjalan lagi dan hampir keluar dari pintu rumah menuju keluar, Dion tiba-tiba datang fan mengambil posisi Dewi untuk menggandeng Lara disisi sebelah kanan. Mama ana menghentikan kembali langkahnya dengan melirik tajam kearah Dion.


"Jangan macam-macam." ucap Mama ana pada Dion.


Dion hanya membalas tatapan Mamanya dengan senyum lebar, lalu berganti menatap Lara dengan begitu tajam.


"Hanya ingin mengantarkan Calon Kakak iparku ini ke pasanganya, tak lebih. Dan ini demi Kak adam, bukan demi yang lain. Setidaknya dengan ini, Dia akan semakin bahagia. Bukan begitu, Kakak ipar?"


Senyum Dion kembali mebyeringai, membuat Lara bahagia bercampur bingung. Namun, Lara tetap mengikuti langkah Dion yang mengantarnya pada adam.


Mereka tiba, Adam memberi tangan kananya lalu disambut oleh Lara. Mereka duduk berdampingan sekarang.


" Saudara Adam Prasetya. Aku nikahkan Engkau dengan Lara Salsabila Binti Fajar Antoro, dengan Mas kawin seperangkat Alat shalat, dan Emas Dua Puluh Lima Gram, dibayar Tuuunai." Pak penghulu dengan lantang mengucapkanya dengan menjabat tangan Adam.

__ADS_1


Adampun menjawabnya dengan lantang, dengan satu tarikan nafas hingga semua saksi mengatakan SAH dengan semua sorak sorai yang begitu bersemangat. Kecuali Mama ana, yang sepertinya sedang memikirkan sebuah keterkejutan dalam hatinya.


"Fajar Antoro? Semirip itukah, mengapa tak ada bedanya dengan nama orang itu?"


__ADS_2