Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Pembuangan


__ADS_3

Mobil berhenti, Pria itu turun dan menghampiri Lara.


"Mau lihat makam orang tuamu 'kan? Itu, disana." tunjuknya tanpa mengantar Lara.


Lara berjalan, perlahan sambil mencari keberada'an makam ayah dan Ibunya, hingga Ia menemukannya. Lara bersimpuh, dan menangis, terisak tanpa ada yang bisa menepuk bahunya, atau pun memeluknya sa'at itu.


"Udah belum? Nanti kesiangan, perjalanan masih jauh." teriak Pria yang tak ramah itu pada Lara.


"Yah, Bunda. Lara pergi dulu. Tapi Lara ngga tahu mau dibawa kemana, Lara ngga tahu Om itu siapa. Kenapa kalian pergi, tanpa bawa Lara. Lara pengen ikut aja." ucapnya dengan memegangi batu nisan itu.


"Ayo, daritadi lama banget. Mereka udah meninggal, do'ain aja cukup." Pria itu menarik lengan Lara, dan membawanya masuk kedalam mobil.


Lara kembali diam, Ia tak mau bertanya lagi, bahkan menyapa lagi. Hingga tiba disuatu tempat. Disebuah kota kecil, lumayan ramai namun masih sepi dibandingkan tempat tinggalnya dulu.


Pria itu membawa Lara kesebuah rumah tua, dan seseorang sudah menunggunya.


"Laraaaa, akhirnya datang juga. Nenek kangen, sayang." peluk sang nenek, bernama Ratmi tersebut.


"Nenek... Siapa?" tanya Lara.

__ADS_1


"Nenek, adalah Nenekmu, dari pihak ibu kandungmu." jawab Nek ratmi.


Mendengar itu, timbul sebuah harapan dalam hati Lara untuk bertemu dengan Sang ibu, dan harapan agar Ia bisa kembali bersama ibu kandungnya, yang bahkan tak pernah tahu, seperti apa wajahnya.


Lara berlari melepas pelukan Nek ratmi, masuk kerumah tua itu, dab mencari harapanya disana, meskipun harus pupus seketika itu juga.


"Ibu... Ngga ada disini?" tanya nya lemah.


"Engga, Ibumu dikota bersama keluarga barunya." jawab Pria itu tanpa rasa simpati sedikitpun.


"Bisa kah kamu bersimpati sedikit dengan Lara?" tegur Nek ratmi.


"Kenapa? Memang dia harus tahu yang sebenarnya, supaya tak terlalu banyak berharap. Sudah, aku pergi.. Masih banyak pekerja'anku." ucap Pria itu, dengan nada datarnya.


"Om... Jangan tinggalin Lara disini. Om, tunggu." teriak Lara.


"Sudahlah, percuma mengejarnya. Ia tak akan perduli padamu." tegur Sang nenek, lalu kembali masuk kerumah.


Lara pun akhirnya menyerah, lalu ikut masuk kedalam rumah usang itu.

__ADS_1


"Itu kamar Lara, bereskan sendiri. Nenek mau antar bawang kerumah makan diujung sana." ujar Nenek Ratmi.


Lara hanya mengangguk, dan mulai berbenah, sembari membereskan semua ruangan dalam rumah itu agar terlihat lebih rapi dan bersih.


Disebuah laci, ditemukanya sebuah foto seorang wanita dan seorang Pria yang menggendong seorang bayi dengan wajah ceria.


"Ini, ayah 'kan? Terus, ini siapa? Apakah Ibu Lara?" tanya nya dalam hati.


Setitik harapan Ia temukan dari foto tersebut, lalu Ia menyimpanya, dengan harapan, bisa bertemu Ibu nta suatu sa'at nanti, dan bisa berkumpul bersama. Meskipun, sebenarnya, akan mengecewakan dirinya sendiri, jika itu terjadi.


Hari semakin larut, Lara mencoba tidur, namun tak bisa. Butuh penyesuaian baginya disebuah tempat yang baru Ia datangi, terutama untuk tidur disana.


"Lara..."


"Iya, Nek?"


"Besok, Lara mulai sekolah disini. Sudah didaftarkan kepindahanya."


"Siapa yang daftarin?" tanya Lara.

__ADS_1


"Udah... Ngga usah banyak tanya. Yang penting masih bisa sekolah, belajar yang pinter, angkat derajat keluarga." ucap Sang nenek padanya.


Keluarga? Keluarga yang mana? Bahkan sekarang Ia tak tahu, yang mana kuarganya, dan dimana mereka sebenarnya. Hanya Ayah dan Bunda lah, yang Ia anggap keluarga terdekat. Justru sudah meninggalkanya pergi untuk selamanya.


__ADS_2