Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perhatian Adam


__ADS_3

Sementara Lara terdiam dan merenung dikontrakanya. Adam ternyata sedang menunggunya didepan kantor, dan menghadang Mba asni.


"Mba... Ma'af, Lara mana, ya?" tanya Adam.


"Hmmm... Lara sedang sakit, Pak. Jadi dia izin hari ini." jawab Mba asni.


"Hah, sakit apa? Bukanya kemarin baik-baik saja?"


"Mungkin, hanya demam karena kelelahan saja. Bapak Tahu 'kan, kalau Lara begitu bekerja keras belakangan ini. Belum lagi, bolak-balik kekampus karena kuliahnya."


"Owh, iya... Boleh saya menjenguk?" izin Adam.


"Hah? Mau jenguk kekontrakan? Bo, boleh, silahkan saja. Kontrakan kami dibedengan depan gang sana." tunjuk Mba asni.


Adam secepat kilat pergi setelah mengucapkan terimakasih. Perasa'anya begitu khawatir terhadap kondisi Lara, dan ingin segera menemuinya.


Tiba dikontrakan, pintu tertutup rapat, dan Adan sedikit canggung dan gugup untuk masuk kedalam.


Adam mengetuk pintu.


"Ra... Kamu didalam?"


"Iya, siapa?" tanya Lara dari dalam.

__ADS_1


"Mas adam."


"Masuk, Mas... Pintu ngga dikunci." ucap Lara, yang masih terbaring lemas dikamar.


Adam perlahan masuk sesuai instruksi Lara, dan menemuinya dikamar yang sedang terbaring dengan selimut rapat.


"Lara kenapa? Sakit kok ngga ngabarin?" tanya Dion, dengan memegangi pipi Lara.


"Kan, Lara belum ada nomor Mas adam. Cuma ada IG, sama Facebook nya aja." jawab Lara.


"Owh iya, Mas lupa ngasih nomor hp ke calon istri sendiri."


Deg... Calon istri, Lara tertegun ketika mendengar kata-kata itu dari bibir Adam. Tapi, itulah kenyata'anya. Lara adalah calon istri kesayangan Adam, dan mulai sekarang, gerak geriknya semua berhubungan dengan Adam.


"Mana, hpnya? Biar Mas save nomor Hp mas." pinta Adam.


"Hp Lara rusak, Mas. Semalem jatuh, karna kepala Lara pusing, terus retak layarnya." jawab Lara.


"Ya Ampun, kasihan sayangnya Mas. Udah sarapan?"


"Belum, tapi ngga selera makan."


"Mas cari'in bubur mau? Didepan kantor ada tukang bubur ayam kan?"

__ADS_1


"Ngga usah, nanti Mas kecape'an, sakit lagi. Lara ada sisa nasi semalam, lumayan buat ganjel perut, tinggal dimasakin Mi instan aja."


"Ngga boleh, kamu ngga boleh makan mi instan. Biar Mas minta Asni belikan bubur aja, kamu tunggu disini." ucapnya, seraya keluar menelpon Mba asni.


Lima belas menit berselang. Terdengar suara Adam dan Mba asni mengobrol diluar, setelah itu Adam masuk dengan membawa pesanan buburnya.


"Mba asni yang ngantar?" tanya Lara.


"Iya, sekarang kamu makan dulu. Ayo duduk, biar Mas suapin." ucap Adam pada lara.


Suapan demi suapan diterima Lara, yang awalnya tak selere, akhirnya habis juga olehnya dengan suapan mesra dari Adam. Adam tersenyum senang, lalu mengusap kepala Lara dengan mesra.


"Lara demam, kok mandinya keramas?"


"Iya, tadi sakit kepala, abis keramas langsung enteng dan tidur." jawab Lara, dengan sesekali menyisir rambutnya dengan tangan. Lara tersipu malu, karena kali ini tampilanya benar-benar konyol dan berantakan dihadapan Adam. Terlebih lagi sekarang Adam adalah calon suaminya.


Adam berdiri, lalu meraih sisir diatas meja. "Sini, Mas sisirin rambutnya. Masa berantakan gitu, ngga enak dilihat."


Lara merubah posisinya membelakangi Adam, dan Adam dengan lembut menyusir rambut indah Lara hingga rapi, lalu mengikatkanya.


"Udah, rapi... sekarang, Lara istirahat lagi, Mas mau balik kekantor."


"Iya," ucap Lara, lalu meraih tangan Ada, dan menciumnya.

__ADS_1


Hati lara terenyuh dengan semua sikap Adam padanya. Adam nampak begitu tulus, dan benar-benar mencintai Lara dengan sepenu hatinya.


"Perhatianmu Mas, begitu membuat hatiku berdebar. Namun, aku tahu jika ini bukan cinta. Aku akan berusaha memberikan cinta itu perlahan setelah kita menikah, setelah aku lega ketika sudah membalas semua padanya."


__ADS_2