Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Rindu....


__ADS_3

"Kalian serius, nikahin Dion sama Dewi?" tanya Lara.


"Iya, kenapa?" Adam balik bertanya.


"Ngga papa.... Lara lupa, kalau Lara juga dari kelas bawah, yang kalian terima dengan baik. Ma'af, Lara sempat berfikiran buruk." jawab Lara. Semoga Dion menolak, aku bisa merelakan Dion dengan siapapun. Tapi, jangan Dewi. Jangan, aku mohon.


"Iya... Semoga Dion setuju ya sayang. Karena memang, kami belum membicarakan hal itu padanya." ucap Adam.


Tak berapa lama kemudian, Adam dan Lara tiba dirumah. Lara langsung masuk karena kepalanya yang masih pusing, sedangkan Adam menyusul setelah menyimpan mobil.


Lara merebahkan tubuhnya disofa, mendengus nafas kesal, lalu memijat mijat kepalanya.


"Lara kenapa, masih pusing?" tanya Adam yang menghampirinya duduk disofa.


Lara kemudian meerubah posisinya duduk, dan menyandar ke pundak Adam.


"Mas..."


"Iya? Kenapa?"


"Mas cinta sama Lara?"

__ADS_1


"Kalau ngga cinta, mana mungkin Mas lamar. Kenapa tanya itu?" tanya Adam.


"Engga... Kadang hati kecil hanya meragukan rasa yang Mas berikan pada Lara. Dikit tapi, sisanya yakin, bahkan yakin banget." jawab Lara.


"Lah... Ini kenapa? Kok tiba-tiba galau?" tanya Adam.


"Ngga papa, mungkin efek mabok tadi, jadinya ngelantur. Ah... Udahlah, Lara mau ambil minum dibelakang." ucap Lara, dengan sedikit kesal.


"Kenapa lagi Dia? Rindu, atau butuh perhatian lebih?" gumam Adam, lalu Ia perlahan mengikuti Lara kedapur.


Lara meraih sebotol air dingin dari kulkas, lalu meneguknya dengan posisi berdiri. Ia minum sambil melamun hingga Lara tersentak kaget ketika ternyata Adam dibelakangnya.


"Ish... Mas bikin kaget aja, untung ngga keselek Lara." omelnya pada Adam, lalu meletakan botol minumnya diatas kulkas.


"Mas, kenapa? Haus juga kah? Lara ambilin minum ya?" tanya Lara, dengan berusaha meraih kembali botol minumanya.


"Haus, tapi...."


Cuuupp! Adam mengecup dan ******* bibir Lara.


Lara terbelalak, dan seketika mendorong Adam menjauh dari tubuhnya.

__ADS_1


"Katanya haus, tapi malah nyium!" ucap Lara.


"Mas cuma mau minum yang tersisa dibibir Lara aja kok, biar ngga mubazir." ucap Adam, lalu mengelap bibir Lara yang basah.


Lara balik menatap Adam, lalu melingkarkan lenganya dileher Pria jangkung itu lalu balik ******* bibir Adam. Adam yang balik terkejut, lalu mengangkat tubuh Lara keatas meja disebelah kulkas itu. Mereka asyik dengan dunia mereka sa'at ini. Rumah itu kosong, hingga mereka bisa bebas disana. Adam dan Lara merengkuh nikmat dnegan aksi mereka itu. Namun, syukurnya Adam masih sadar dan bisa mengontrol dirinya. Ia lepaskan kecupanya dari Lara.


"Sabar ya, sayang. Dua minggu lagi kita menikah." ucapnya, lalu melepaskan lengan Lara secara perlahan.


"Mas... Lara rindu." ucap Lara.


"Mas faham. Mas juga rindu, bahkan terlalu rindu hingga Mas tak dapat tidur semalaman ketika di Singapur. Mas terus memikirkan Lara disini. Tapi, Mas ngga mau merusak kesakralan pernikahan kita. Mas mau,  kita melakukanya setelah menikah nanti, dan Mas akan memilki Lara seutuhnya ketika itu." bujuk Adam.


Lara bergeming, tak ingin bicara lagi. Ia menenggelamkan wajahnya didada Adam, lalu menangis disana.


"Ma'afin Lara. Terimakasih, sudah menjaga kesucian cinta kita. Terimakasih, Mas." ucap Lara.


"Hey, Lara kenapa nangis? Kita sama-sama menjaga. Nanti, kalau udah Sah, kita puas-puasin." goda Adam pada Lara, dengan mengusap air matanya.


Lara tersenyum tipis, lalu mencubit perut Adam, hingga Pria itu meringis kesakitan.


"Hussst... Sakit sayang. Sekarang mainanya nyubit loh."

__ADS_1


"Biarin, Mas ngeselin."


"Ngeselin, tapi nggemesin kan?" goda Adam lagi, dengan mengedipkan matanya.


__ADS_2