
Pesta dimulai, Adam dan Lara mulai duduk dipelaminan. Mama ana mengambil posisi disebelah Lara, dan Papa farhan disebelah Adam.
Rasa penasaran Mama ana belum tuntas sebelum berhasil mendapat jawaban dari Lara. Namun, Rasa itu perlahan sirna ketika Ia melihat senyum Adam yang merekah hari ini. Begitu bahagia, hingga Mama ana tak ingin mengganggunya.
"Kak Adam dan Lara...." Dion berdiri diatas panggung dengan microfon ditanganya.
Adam menatapnya dengan senyuman lebar, sedangkan Lara sedang tak nyaman dengan yang dilakukan Dion saat ini.
"Mau apa Dia?" lirihnya.
"Buat kalian, selamat menempuh hidup baru. Gue ngga nyangka banget kalau loe nemuin jodoh secepat ini Kak, terharu gue. Dan gue juga sempetĀ sedih, karena yang seharusnya gue dateng sama cewek gue, tapi kali ini ngga bisa nepatin janji karena kami udah putus. Sedih, perih sebenarnya, tapi mau gimana lagi, itu udah nasib gue. Dan sekarang, gue bakalan sumbangin sebuah lagu buat kalian. Karena jujur, gue ngga bisa kasih apa-apa, sebab Kak adam pasti bisa beli sendiri apapun yang dia mau kan?" Dion mulai mendekati pemain musik, dan merquest sebuah lagu untuk Ia nyanyikan.
Lagu dari grup band ungu dengan judul Cinta Dalam Hati itu begitu apik ketika dinyanyikan oleh Dion dengan penuh penghayatan.
Sorak sorai dan tepuk tangan diberikan padanya oleh para tamu undangan, begitu juga Adam yang dengan bangganya memuji Dion didepan Lara.
__ADS_1
"Suara Dion... Bagus kan? Begitu penuh penghayatan. Sepertinya benar-benar dari hati." ucap Adam.
"Iyw, begitu menjiwai." jawab Lara, dengan mengusap air matanya.
Lara tahu dan faham jika itu dipdersembahkan Dion untuknya, tapi Lara harus pura-pura tak tahu semuanya demi menjaga semuanya. Ini salah Lara sendiri, yang lebih mementingkan obsesinya.
Acara demi acara selesai, para tamu pun mulai berpamitan untuk pulang dan menyalami kedua mempelai dipelaminan.
"Mas capek, apa haus?" tanya Lara yang melihat Adam mulai pucat.
"Lara ambilin minum, ya?" imbuh Lara, lalu pergi meninggalkan Adam yang duduk dikursi mereka.
" Kontrol rokokmu Dion. Kenapa makin hari makin menjadi." tegur Lara, yang berdiri dibelakang nya.
"Urus saja pernikahanmu. Kamu bahagia bukan? Biarkan aku disini mati dengan rokokku ini." jawab Dion, dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Mati hanya karena rokok? Bodoh kamu. Sebegitu frustasinya kamu ku tinggal menikah?"
"Kau fikir aku frustasi hanya gara-kamu Lara? Jangan Ge'er kamu. Masalahku bukan cuma kamu saja, masih banyak yang harus ku fikirkan. Kamu hanyalah wanita yang hanya singgah dalam hidupku, yang mampu merayuku bangkit. Itu saja, tak lebih."
Dion kembali menyulut rokoknya.
" Tapi.... Lagu itu? "
" Lagu hanya lah sebuah kata-kata yang digabungkan dengan sebuah nada. Untuk apa terlalu meresapinya. Sudah kembalilah, tak perlu lagi melirikku, tak perlu lagi menatapku. Hanya akan menambah masalah nanti."
Lara hanya diam, kemudian pergi meninggalkan Dion dalam keadaan kesal. Ia tahu jika Dion bebohong, terlihat ketika Dion dengan penuh emosi menghisap perbatang rokoknya, dan itupun tak dihabiskan hingga akhir. Hanya setengah, lalu akan Ia ganti. Begitulah Dion dimata Lara.
"Lara kenapa?" tegur Adam yang melihatnya melamun sambil berjalan.
"Dion... Perokok berat ya?" Lara pura-pura tak tahu, dan menanyakannya pada Adam.
__ADS_1
"Dulu tak terlalu, apa karena faktor patah hati, atau yang lain. Tapi setahu Mas, ngga ada yang bisa menyakitkan hati Dion kalau jika masalah yang biasa saja. Pasti karena hatinta sedang sakit." Adam meyakinkan.
"Owh, Iya... Kasihan Dion." ucap Lara, kembali dengan rasa bersalahnya.