
"Neng... Kenapa duduk sendirian dimakam?" tegur seorang Bapak, dengan cangkul dipundaknya.
"Saya... Nyari makam ayah saya, Pak." jawab Lara.
"Siapa namanya?"
Lara diam, "Ah, kayaknya salah alamat, Pak. Saya langsung permisi aja, ,mau cari pemakaman lain." pamit Lara, langsung pergi.
Lara kembali menjalankan motornya, dan kali ini Ia berjalan pulang karena tak punya arah dan tujuan lahi.
"Kenapa ngga ada disana, dimana makamnya. Ah, pak johan yang membawaku dulu maka, Ia juga lah yang harus membawaku esok." ucap Lara, lalu mengencangkan laju motornya.
Sekembalinya Lara dirumah, Ia langsung masuk dan mengecek Hpnya yang ternyata tertinggal dimeja. Dion menelpon, Lima Puluh panggilan tak terjawab, lalu Lara menelponya balik.
"Hallo, Dion?"
"Hallo, Ra. Kemana aja? Aku cemas seharian ngga ada kabar dari kamu."
"Hari ini, ada sedikit tugas jadi aku pergi. Dan sayangnya, Hp ketinggalan. Ma'af, ya." ucap Lara, yang terpaksa berbohong kali ini.
__ADS_1
"Owh, tugas kuliah. Kadang, otak dan hatiku sempat berfikir macam-macam ketika kamu telat membalas, atau menjawab telponku. Jujur, aku takut jika kamu-..."
"Kecelaka'an?"
"Engga...." jawab Dion.
"Lalu?"
"Aku begitu takut, jika kamu mencintai orang lain. Tapi sekali lagi aku berfikir, apa Hak ku untuk melarangmu. Tapi kembali, bahwa, untuk memikirkanya saja aku cemburu dan sakit, Apalagi jika itu menjadi nyata,"
"Dion, aku fikir kamu takut aku mati karna kecelaka'an." balas Lara.
"Dion... Kenapa bicara seperti itu?" Lirih Lara.
"Entahlah, perasa'nku sedikit labil belakangan ini. Kamu baik-baik saja 'kan disana? Tidak sedang didekati Pria lain?"
"Engga, aku hanya ingin fokus kuliah dan bekerja sekarang. Kamu tahu, perjuangan hidupku berat. Aku ngga mau membuatnya sia-sia."
"AKu sangat mengerti. Ma'afkan, jika perasa'anku berlebihan. Sekarang, tutup saja telponya, dan istirahatlah." pinta Dion.
__ADS_1
Memang sejak awal, Dion yang selalu meminta Lara menutup telponya, dan Dion akan terus menunggu Lara untuk mematikan, meski dalam waktu yang lama, dan Dion tak akan mematikanya sendiri.
Pernah suatu ketika, Lara ketiduran untuk waktu yang lama, dan Dion tetap menunggunya sambil melakukan aktifitas seperti biasanya. Bagi Dion, hanya mendengar hembusan nafas Lara saja sudah membuat hatinya begitu bahagia.
Lara mematikan telpon itu, setelah Ia rasa puas berbicara, lalu kembali dengan semua isi fikiranya. Isi kepalanya terasa bwgitu berat, hingga menyakitkan sampai kebahunya, serta dadanyanya yang sedikit sesak karnanya.
"Kenapa,kenapa malah sakit. Lara ngga boleh sakit, berfikiran untuk lemah pun jangan. Lara harus kuat, meski kenyata'an hidupnya penuh Luka dan Lara." gumamnya.
Tok...Tok...Tok! Seseorang mengetuk pintu rumah Lara. Ia berdiri, lalu membukakan pintunya.
"Siapa?"
"Mba asni, Ra. Bawain makanan nih, buat Lara." jawabnya dai luar.
"Owh, kirain siapa Mba. Ngga tahu, perasa'an Lara lagi parno'an nih. Masuk yuuk." ajak Lara pada mba asni.
Mba asni masuk kerumah Lara, dan duduk dilantai ruangan yang cukup luas tanpa kursi dan meja itu. Mereka menyantap makanan itu bersama dengan nikmatnya, karna memang Lara begitu lapar sekarang. Makanan itu adalah makanan yang diberikan dari kantor setiap hari jum'at rutin, sebagai apresiasi para pegawai yang sudah mau bekerja keras untuk mengembangkan BUANA Group dengan sepenuh hati mereka. Telebih lagi, karna Adam sudah diperbolehkan keluar dari rumah Sakit hari ini.
"Mereka orang baik sebenarnya. Tapi, apa mereka sadar, jika ada satu iblis diantara mereka?" batin Lara.
__ADS_1