
Lara masuk tanpa menutup pintu itu lagi. Perlahan melangkah, hingga sampai ke meja rias yang ada dilemari Dion, lalu mengambil sebuah parfum. Lara menatap parfum itu, dan mencium aromanya dalam-dalam.
"Wangi khasmu, Dion. Aku bahkan tak pernah melupakan bayangan wangi ini sekian lama setelah kita berpisah." ucap Lara, dengan memejamkan matanya.
Lara serasa menari-nari diatas awan, terlena dengan kerinduanya pada Dion, hingga melupakan pencarian kamarnya, hingga Adam menghampirinya.
"Sayang.... Kenapa nyasar disini? Ini kan kamar Dion." tegur Adam dengan lembut.
"Oh, iya Mas, ma'af. Lara kecium bau parfum ini, wangi banget, enak. Kayaknya parfum mahal, meskipun ngga dipakai, tapi baunya nyebar kemana-mana." dalih Lara.
"Iya, parfum kesayangan Dion. Dan Lara tahu? Bahwa setiap pagi, Mama menyemprotkan parfum ini keseluruh kamar, agar kami semua selalu mengingatnya. Meskipun Dion dianggap nakal, tapi Mama juga begitu menyayangi dia." jelas Dion.
__ADS_1
"Owh... Hebat mama, meskipun bukan Ibu kandung. Tapi bisa sesayang itu sama anak sambungnya. Meski harus membuang anaknya sendiri. Dasar, Iblis."
"Iya... Mungkin karena pernah kehilangan, Mama jadi begitu menghargai arti sebuah kedekatan. Ayo, kita kekamar Lara." ajak Adam, dengan menggandeng tangan Lara.
Krreek...! Adam membuka pintu kamar itu dengan perlahan.
Lara masuk, dan begitu takjub melihat kamar barunya yang besar, seluas seluruh ruangan dikontrakanya.
"Kamarnya gede banget, Mas." kagum Lara, dengan ruangan bernuansa abu-abu dan hitam itu.
"Iya, Mas tau banget. Makasih, ya." ucap Lara, dengan mendekati Adam, lalu melingkarkan lenganya dipinggang pria tampan bersenyum khas gigi kelinci itu.
__ADS_1
"Iya, asal Lara senang. Tapi....." Adam menunjuk-nujuk pipinya.
"Kenapa? Malu ah, nanti Mama lihat. Udah sana, Mas balik kekamar Mas sendiri. Lara mau beres- beres, udah itu bantuin Mama masak." usir Lara dengan lembut.
"Iya... Kalau Lara capek, istirahat aja kata Mama."
"Iya..." ucap Lara, yang mulai membereskan lemarinya.
Disini, batin Lara terasa lebih ringan. Langkah demi langkah sudah Ia gapai. Dan hanya beberapa langkah lagi dengan semua ambisinya. Hanya kata MA'AF, dan menyesal. Itu yang Lara nantikan dari bibir Ibunya itu. Sebuah kata yang mungkin akan begitu berat Ia ucapkan, karena untuk mengakui kebenaran tentang masa lalunya pun sulit.
Lara dan ayahnya sudah mati, itulah yang ada dalam fikiran Ibunya sekarang. Tapi, untuk sekedar memintanya saja dengan baikpun tak mungkin. Lara tak memiliki bukti yang cukup dengan semua ini. Akte, foto, bahkan Lara sudah tak punya, semua, Lara akan lalah sebelum berperang. Jalan yang paling tepat, adalah test DNA namun Lara pun tak mungkin melakukanya, karena Lara tahu pasti jika Mama ana, didampingi Pak johan itu adalah orang yang kuat sekarang. Yang tak akan bisa ditembus, oleh kekuatan Lara seorang diri.
__ADS_1
"Status inilah, yang akan membuatku kuat. Status inilah, yang akan membantuku menjalankan semua rencanaku. Dengan hidup sebagai Nyonya Adam, semuanyaa akan bisaa kulakukan dengan mudah."
Lara kembali bergumam sendiri, ketika Ia berada diruang kosong. Karena memang hanya itu tempat tenryaman bagi Lara sekarang. Ia tak memiliki tempat untuk mengadu, bahkan hanya sekedar bercerita. Dion telah berbalik membencinya. Sedang Mba asni, Ia sudah berkata dengan lantang, jika tak mau lagi mencampuri semua urusan Lara, terlebih lagi balas dendamnya.