
"Cuma mba asni yang Lara anggep sebagai saudara, malah begitu. Kan ngeselin." gerutu Lara, sepanjang perjalanan pulang.
"Kita kemana lagi, Mba?" tanya supir taxi yang dikedarai Lara.
"Pulang aja ketempat tadi, Pak. Sudah selesai tugas saya."
Supir taxi itu hanya menangguk, dan membawa Lara kembali ke tempat pertama Ia menjemputnya.
"Ini, Pak... Terimakasih ya." ucap Lara dengan memberikan ongkos taxi, lalu turun dari mobil.
"Lara darimana?" tanya Adam.
"Dari rumah Mba asni, Mas." jawab Lara.
Adam hanya mengangguk, dan kembali dengan laptopnya sembaru duduk diteras depan.
"Ma... Mama masak apa, kok harum banget?" tanya Lara, menghampiri Mama ana didapur.
"Hey, Mama lagi masak ikan saus padang. Lara suka?" tanya Mama ana.
"Suka lah, Lara suka makan itu, waktu dirumah makan. Tapi makan sisa-sisanya."
"Dan hari ini, Lara bebas makan sepuasnya." Jawab Mama ana, mempersilahkan.
"Makasih, Ma...". Jawab Lara dengan kembali tersenyum manis.
__ADS_1
"Yaudah, Lara bantuin goreng ikanya aja. Mama mau mandi sebentar. Beberapa jangan terlalu garing, buat Adam sama Papa. Mereka ngga boleh kebanyakan makan yang berminyak soalnya." ujar Mama ana.
"Iya...." jawab Lara.
Lara melaksanakan tugas yang diberikan Mama ana dengan baik, sesuai anjuran yang diberikan. Tiba-tiba, sebuah tangan memeluk pinggang Lara.
"Mass... Lara lagi masak loh, nanti dilihat Mama malu." tegur Lara.
"Toh, Mama juga ngga pernah marah kan?" ucap Adam.
"Ngga marah, tapi kesel. Udah ih, sabar seminggu lagi nikah."
"Terus?"
"Ya terusnya bebas... Lara milik Adam, dan Adam hanya milik Lara." rayu Lara pada adam.
"Udah sih, tapi yang lain belum pulang, gimana?" tanya Lara.
"Siapin aja dulu yang buat Adam, ngga papa makan duluan. Nanti kalau telat malah lemes." sahut Mama ana, yang datang dari tangga.
"Iya, Ma..." jawab Lara, lalu segera mempersiapkan semua keperluan makan Adam dimeja.
Peran Lara sudah baik sebagai calon istri dan calon menantu keluarga itu. Andai saja Lara bersyukur dan mengikuti alur, pasti akan lebih bahagia, seperti yang dikatakan Mba asni padanya. Tapi sayangnya semua perkata'an itu hanya dilewatkan saja oleh Lara, bagai angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Tak di'indahkanya sama sekali.
"Makananya Mas, mau disuapin?" tanya Lara.
__ADS_1
"Ah, engga... Mas makan sendiri aja. Malah Mas yang mau nyuapin Lara. Sini, duduk...." tawar Adam.
Lara menurutinya, Ia duduk disamping Adam yang sedang santai diteras belakang. Lalu makan bersama dengan satu piring bersuapan.
"Ra...?"
"Ya Mas, kenapa?"
"Pengenlah, nanti suatu sa'at kalai kota udah punya anak. Kita bikin runah ditengah sawah, ada kolamnya, kayaknya sejuk banget."
"Iya Mas, bagus... Tapi, emang ngga papa? Kan jauh dari kehidupan modern gitu, nanti Masnya ngga betah."
"Betah, asal sama Lara. Lara kan pinter semuanya. Pinter masak, pinter ngerawat Mas, pinter ngerawat taneman."
"Iya, Mas... Aamiin aja, semoga bisa keturutan semua maunya. Sekarang, sehatin badan dulu menuju halal, ya?"
"Iya, Mas juga udah hafalin ijab qabulnya, biar lancar dalam Satu tartikan nafas. Biar Lara tahu, seberapa cintanya Mas sama Lara."
"Iya sayang, Lara ngga pernag sama sekali meragukan Mas adam. Sedikitpun engga." jawab Lara, lalu menyuapi Calon suaminya itu suapan terakhirnya.
"Dah, kenyang? Lara beresin piringnya dulu, ya?" jawab Lara.
"Iya... Mas disini aja."
Lara lalu pergi kedapur membereskan semuanya, termasuk mencuci alat-alat yang dipakainya memasak tadi.
__ADS_1
Ia sejenak tersipu membayangkan kejadian barusan, dimana Adam mengajaknya bermesra'an dan membicarakan masa depan. Tiba-tiba, terdengar suara vas bunga pecah dari teras belakang. Lara yang terkejut, segera menghampirinya.