
Lara menatap api yang berkobar membakar semua barang itu. Hatinya berkecamuk, ingin rasanya menyiram api itu, dan menyelamatkna beberapa barang didalamnya, meskipun harus membakar dirinya sendiri. Tapi, Ia menguatkan hatinya kembali.
"Jangan, biarkan habis. Dan ketika barang itu habis, aku yakin jika semua isi kepala dan hatiku tentang dia pun ikut habis terbakar." gumam Lara.
Diterik matahari yang bersinar cerah itu, Lara merebahkan tubuhnya di atas rumput yang ada dihalaman belakang. Menatap langit yang silau, meskipun matanya sedikit sakit karena itu.
"Ingin menjerit, tapi malu sama tetangga. Aku bisa dianggap gila, meskipun sebenarnya, Iya." ucap LRa, sambil menjambaki rambutnya.
Beberapa lama kemudian, Lara membangunkna tubuhnya, lalu menatap perapian yang sudah kembali rata dengan tanah itu.
"Huftzzz.... Akhirnya, habis. Bye, Diom..." ucapnya, dengan nada datar, lalu berbalik arah kembali kerumahnya.
"Lara darimana?" tanya Mba asni, yang baru pulanh dari kerja.
"Dari belakang, bakar barang yang udah ngga kepake." jawab Lara.
"Barang apa?" tanya Mba asni, yang mulai menatap Lara dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Hmmm, mau nyuruh lihat. Tapi, barangnya udah habis. Yaudah, ngga usah. Barang dari Dion." jawab Lara lagi.
"Keterlaluan, kenapa dibakar?"
"Terus, diapain? Disimpen sebagai kenangan, sampai akhirnya Lara sakut karena ngga bisa move on?"
"Yang cari penyakit itu, ya kamu sendiri, kenapa yang lain yang jadi korban." omel Mba asni.
"Lara harus menyakiti diri Lara sendiri, demi bisa melihat Ibu, yang akan tersakiti oleh Lara." ucapnya dengan senyum mengembang, lalu masuk kekamarnya tanpa menghiraukan yang lain.
Mba asni mengelus dada melihat perubahan Lara ini. Lara masih terlihat seperti biasanya ketika dikantor, dan bersama orang ramai. Tapi, Ia akan seketika berubah ketika Ia sendiri.
Perjalanan Lara terhenti disebuah kedai pecel lele diujung gang. Tempat Lara dan Dion sering makan bersama.
"Aish... Kenapa kemari lagi, menyebalkan. Tapi, tak apalah, daripada ngga jadi makan. Bungkus aja." pikir Lara, lalu memasuki kedai itu dan memesan makanan.
Lara menunggu dengan sabar, ketika pedagang sedang menyiapkan pesananya. Tiba-tiba, tatapan Lara tertuju kesebuah meja, dimana Ia dan Dion sering duduk bersama. Lara sampai tersenyum sendiri, ketika membayangkan kegila'an mereka dahulu.
__ADS_1
"Neng, udah. Kebayang pacarnya, ya?" goda penjual.
"Ah, engga Mang. Ini uangnya, terimakasih, ya." ucap Lara.
Disepanjang jalan pulang, Lara kembali teringat dan kembali terkenang akan Dion. Jujur, itu begitu menyakitkan hingga membuat Lara setres.
Lara mengencangkan motornya, sekuat tenaga hingga sampai dirumah, lalu memasukan motornya, dan tidur. Makanan yang Ia beli, dibiarkan saja tergelantung dimotor hingga pagi.
***
Lara terbangun, pada jam biasanya Ia akan berangkat kekantor. Tapi, kali ini beda. Ia tak akan lagi menggunakan seragam itu sekarang.
"Kemana hari ini?" tanya Lara pada dirinya sendiri.
Lara lalu berdiri, mengikat rambutnya dan mengambil laptopnya. Ia bertekad melanjutkan skripsinya, agar segera lulus kuliah, dan bisa fokus dengan urusan berikutnya.
Skripsi Lara sudah mendekati proposal, yang sempat Ia tinggalkan tanpa menengoknya selama beberapa minggu, karena semua pekerja'an ditambah obsesinya yang lain. Dan sekarang, seolah otaknya kembali refresh, dan ingin segera menyelesaikan semua pekerja'an yang tertunda.
__ADS_1
"Nunda wisuda ngga papa, abis nikah baru kejar. Setidaknya nanti bisa foto wisuda bareng Ibu. Hmmm, bahagianya." ucap Lara, dengan membayangkan semua rencananya berjalan dengan baik.