
"Mas... Bisa antar Lara pulang?" tanya Lara, dengan nada tertahan.
"Kenapa, kok Lara mau pulang? Dan, kok pucat?" tanya Ada.
"Pusing, sesak rasanya." jawab Lara, memegangi dadanya.
"Mama baru masak, masa ngga makan?"
"Tapi... Lara ngga tahan, Lara bisa pingsan disini." tarik nafasnya dalam-dalam, dan akhirnya Lara pingsan dibahu Adam.
"Loh, Ra... Lara! Kenapa pingsan. Maaaa... Mama... Lara pingsan!" teriak Adam dari kamar tersebut.
Nyonya Ana beserta seorang pembantu yang masih muda usianya, lalu menghampiri mereka dengan cemas.
"Lara kenapa, Dam?"
"Ngga tahu, mungkin masih demam sisa kemarin, Ma. Jadi masih lemes." jawab Adam, lalu merebahkan tubuh Lara perlahan.
"Dewi... Ambil air hangat, dan Adam keluar dulu. Mama mau kompres badan Lara."
"Iya, Ma...." jawab Adam, lalu keluar dari ruangan itu.
Nyonya ana dengan perlahan membuka pakaian Lara, agar sirkulasi udara mengalir dengan lancar ketubuhnya.
__ADS_1
"Nyah, ini air hangatnya." ucap Dewi, membawa sebaskom kecil air hangat.
Nyonya Ana meraih kain yang ada dibaskom itu, dan mengkompres Lara dengan penuh perhatian.
"Kenapa rasanya familiar." gumamnya.
Lara mengigau, dan tiba-tiba menggenggam lengan Nyonya Ana dengan begitu erat.
"Eh... Lara, kamu kenapa?" kagetnya.
"Bu... Ibu jangan pergi lagi, Lara ingin Ibu peluk lagi" rengeknya.
"Hey, Ra... Bangun, jangan mengigau. Saya Mamanya adam, bukan Ibumu. Ayo, bangun." bujuknya, dengan menepuki pipi Lara pelan.
Nyonya Ana menatapnya dengan tatapan aneh, lalu berteriak memanggil Adam, dan tak lama Adam datang.
"Kenapa, Ma?"
"Lara mungkin kelelahan, sehingga mengigau bertemu Ibunya. Ajak pulang aja ngga papa, biar istirahat dirumah." ucap Nyonya Ana.
"Hah, mimpi bertemu Ibu. Untung saja tidak menyebutkan nama Dion." batin Lara.
"Ngga papa, Ma? Mama kan udah masak."
__ADS_1
"Ngga papa, nanti dianter aja, atau kirim ke panti, daripada mubazir." ucap Nyonya Ana pada Adam.
Adam mengangguk, lalu membantu Lara berdiri dan memapahnya hingga kemobil.
"Mau, Mas gendong aja, apa gimana?" tanya Adam.
"Ngga usah, bentar lagi sampai." ucap Lara, lalu menuju mobil Adam.
Adam membukakan pintu untuk Lara, dan membantunya masuk disusul Ia dibagian setir.
Adam menyetir mobilnya pelan, dengan sesekali menatap Lara yang melamun menghadap kedepan jalanan. Tatapanya kosong, Ia bingung sendiri dengan keada'anya sekarang.
"Lara kenapa?" tanya Adam, dengan menggenggam tanganya.
"Mungkin, Lara hanya tersentuh aja, karena akan memiliki keluarga baru yang tulus menyayangi Lara. Dan.... Calon suami yang mau menerima kondisi Lara." jawabnya.
"Seperti memikirkan sesuatu, apa itu? Ceritakan saja, Mas bisa memahami, dan ngga akan marah sama Lara." bujuk Adam.
"Engga, ngga ada rahasia kok. Lara cuma tersentuh aja, sangking senangnya sampai Lara lemas dan pingsan. Lara lebay banget ya, Mas?"
"Engga sih, kalau menurut Mas. Soalnya, ketika mendekati Lara pun, Mas juga sempat merasakan itu. Jadi, itu wajar bagi Mas." jawab Adam, yang kembali memberikan senyum indahnya pada Lara. Senyuman manis yang bisa membuat Lara sejenak melupakan Dion dihatinya.
Perjalanan sedikit lambat kali ini. Lara dan Adam bisa sejenak menghabiskan waktu berdua untuk saling mengenal satu sama lain, meskipun sebenarnya Adam sudah tahu sosok Lara dari detektif yang Ia sewa.
__ADS_1
Adam mempertanyakan tentang pribadi Lara, dari yang terkecil, seperti warna dan makanan kesuka'an Lara. Dan Lara pun menjawabnya dengan terbuka, tak ada yang ditutupinya kali ini.