
"Dion... Mama sama Papa pulang dulu, ya? Sesekali pulang kerumah, kita makan bareng. Ngga enak, sama Lara. Seperti seolah kamu menjauh karena Dia." ucap Mama ana.
"Sebelum Lara disana pun, Dion sudah sering tinggal disini, bukan? Jadi, untuk apa ngga enak?" ucap Dion dengan santai.
"Setidaknya fikirkan Kakak, sayang." bujuk Mama ana.
"Ah... Kak Adam mulu." keluh Dion.
"Dion... Dewasalah Nak." bujuk Mama ana, lagi.
"Iya... Besok Dion pulang. Tapi ngga nginep, ya? Awas loh kalau Maksa. Dion ngga mau."
"Iya, Mama janji. Mama pulang dulu, ya? Yuk, Pa, Papa main Hp terus daritadi." tegur Mama ana.
__ADS_1
"Iya, ma'af. Papa ngontrol proyek kita soalnya. Kan udah ditinggal libur Tiga hari." jawab Papa farhan, lalu berdiri dan bersiap pulang bersama Mama ana.
Selepas kedua orang tuanya pergi, Dion membaringkan tubuhnya.
"Semua yang kubawa dari sini, tak ada yang ku bawa pulang. Ya, semua tentang Lara. Aku membawa foto, barang pemberian, dan semuanya. Namun itu ku tinggalkan. Alih-alih melupakanya, justru kami malah semakin dekat. Dan kenapa masih saja berdebar rasanya, antara debar kebencian, dan debar masih mencintinya. Astaga.... Bisa gila aku nanti. " gumam Dion, dengan memijat kepalanya.
Dion memegangi perutnya, ternyata hari sudah siang dan Ia mulai kelaparan. Ia langsung terbangun dan mencari makanan dikulkas, namun mencium aroma nikmat dari meja makan, lalu Ia pun membuka tudung sajinya.
"Emang, ngga enak makan begini kalau pakai sendok. Apalagi kepanya," ucap Dion, yang menyingkirkan sendoknya, lalu memakanya memggunakan tangan kosong.
Dion mengambil kepala ikan yang penuh dengan kuah gulai, lalu mencoba memakan dan menyeruputnya, namun apa daya, Ia justru tersedak hingga membuatnya menangis
"Hhhh... Kenapa Ia mudah dan terlihat nikmat sekali ketika memakan kepala ikan seperti ini. Kenapa aku tak bisa? Brengsek... Aku justru mengingatnya begitu dalam kali ini. Membuat hatiku pedih, daj air mataku mengalir saja." ucap Dion, dengan menyeka air matanya.
__ADS_1
"Mau kemana lagi aku? Keluar rumah pun malas, Tak ada teman disini. Andaikan Naura ikut pulang, pasti Dia yang akan menemaniku. Tapi sayang, Ia harus lanjut S2nya disana. Aaargh! Makin kesepian saja hidupku."
Kesal dengan kesendirianya, Dion meraih jaket dan helmnya, lalu berlari kebawah menaiki motor sport kesayanganya. Motor sport itu Ia minta pada adam untuk dibawa ke apartement, agar lebih aman.
Dion menjalankan motornya entah kemana, tak tahu arah yang Ia tuju. Asalkan mengikuti kata hati, maka Dion akan berjalan semaunya pergi.
Tiba disebuah danau, Dion duduk dipinggiran dan menatap air danau yang silau karena sinar matahari terik disiang bolong ini. Sangking silaunya, mata Dion terpicing hingga setengah terpejam. Ia memainkan dan melempar batu yang ada dsampingnya. Tiba-tiba terbayang lagi sosok Lara, hingga Ia kembali berteriak.
"Hey, apa kau menantangku? Kenapa. Semakin aku berusaha melupakanmu, kamu semakin sering muncul. Kenapa ketika Aku mulai menjauh darimu, kamu justru semakin dekat? Apa maumu, APA?"
Untung saja Dion hanya seorang diri disana, hingga Ia bebas untuk melakukan apapun yang Ia inginkan. Melangkah mendekati bibir danau, semakin dan semakin dekat.
"Jika kamu memang menantangku, dan benar-benar sulit untuk pergi dariku. Maka aku tak akan menjauh lagi. Mari kita sama-sama tersiksa dengan kedekatan ini. Dengan aku, dan kamu, yang sedang berusaha untuk tak mengenal satu sama lain." ucap Dion, dengan wajah datar.
__ADS_1