
Mba asni mulai menjaga jarak dengan Lara, bukan karna benci, namun sedikit kecewa dengan perubahan sikap Lara. Dalam hati kecilnya, Lara tetap menjadi adiknya. Namun kenyata'anya, Mba asni tak mau lagi terlalu ikut campur urusan Lara, terutama kisah cinta nya pada Dion dan Adam nantinya.
🥀🥀🥀
Setelah Lara membereskan semua pekerja'anya, Ia bersiap diri dan membererkan dirinya untuk pulang.
"Pakai pelet apa, Ra, bisa naklukin hati Bos?" tanya seorang rekan kerja.
"Apa'an?" jawab Lara.
"Ya, itu tadi. Lamaran Pak adam ke kamu lagi jadi trending topik dikantor hari ini. Semua ngomongin kalian, dari keberuntungan, hingga ketidak pantasan kalian bersanding"
"Ngga usah didengerin, kalau kami ssling mencintai, itu namanya jodoh." jawab Lara.
"Hmmm, kirain aku, kemaren kamu itu sama Pak Dion. Kan deketnya sama Dia, jadi kaget aja kalau Pak adam yang justru ngelamar kamu, terus kamu terima."
__ADS_1
"Nanda, terimakasih atas perhatianya sama Aku. Jaga bicaramu mulai dati sekarang, karna mau tak mau, aku adalah calon Nyonya disini. Dan aku bisa memecatmu jika aku mau." jawab Lara, dengab wajah datar menatap cermin.
"Belum apa-apa, udah sombong. Ini nih, kalau mau cuma karna harta, pasti juga ngga cinta." ledek nanda, lalu pergi.
Memang, memang Lara sebenarnya belum memiliki rasa cinta untuk Adam. Tapi, Lara yakin, jika suatu sa'at cinta itu akan tumbuh seiring berjalanya waktu. Dan Lara akan segere melupakan Dion, nanti.
Lara melangkah keluar dari kantor. Ia merasa semua mata tertuju padanya, entah apa yang mereka fikirkan, baik atau buruk, mendo'akan atau mencela. Lara hanya bisa melewatinya dengan diam, berusaha tak ambil pusing.
🛵🛵
Adzan isya berkumandang, bahka Lara tak membangunkan tubuhnya untuk melaksanakan shalat. Lara hanya diam ditempat, memandang langit-langit atap kamarnya.
Tak lama kemudian, telepon berbunyi. Lara melihat itu dari Dion, dan bingung ketika akan mengangkatnya, atau mengabaikanya. Karna, Pasti Dion sudah tahu, perihal lamaran Adam padanya.
Lara duduk, lalu mengangkat teleponya.
__ADS_1
"Hallo, Dion?" lirih Lara, dengan penuh tekanan dihatinya.
"Kenapa, kenapa kamu membuangku seperti ini, Ra? Tahukah kamu, seberapa berat perjuanganku untuk meraihmu? Tahukah kamu, apa yang ku rasakan dalam hatiku ketika aku begitu merindukanmu. Tapi, tapi kenapa seperti ini? Menjelang akhir perjuanganku, kamu justru membuangku seperti tutup botol yang tak berguna Ra. Kenapa?" ucap Dion, dengan lirih, karena menahan kecewa yang begitu dalam dihatinya.
Lara mendengarkanya, bulir-bulir air matanya mulai jatuh, namun Lara berusaha tak terisak, apalgi Dion disana.
"Kenapa harus Kak adam, Lara? Tak bisakan mencari orang lain selain Dia? Kamu tahu, hatiku akan begitu sakit dengan semua ini. Sakit, Ra, bahkan terlalu sakit sampai aku tak bisa bernafas. Terutama, ketika aku membayangkan kalian berdua. Lebih baik mati, itu isi fikiranku." imbuh Dion.
Lara membalik posisi hpnya sejenak, lalu menarik nafas tangisanya yang semakin menyakitkan, terisak sejenak dengan posisi hp terbalik agar Dion tak mendengarkan isaknya.
"Ma'af...." ucap Lara.
Terdengar pula suara tangis Dion yang semakin pecah diseberang sana, namun Lara berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegar oleh Dion.
Untuk sementara Dion terdiam, tedlrdengar Ia menghela nafas panjang, dan menghembuskan nya dengan kasar, lalu memulai pembicara'an.
__ADS_1