Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Dion pulang 1


__ADS_3

"Apa kabar, Lara?" tanya Dion, berusaha ramah.


"Ba... Baik. Kamu sendiri?" tanya Lara, yang masih gugup.


Dion menyingkir sedikit dari mereka yang sedamg sibuk berfoto ria.


"Aku sudah menjawab tantanganmu bukan?" ucap Dion, dengan senyum devil.


"Iya... Kamu hebat, selamat." ucap Lara.


"Lalu... Bagaimana denganmu? Sudah lulus?"


"Iya... Dengan nilai terbaik, sama sepertimu. Dan wisudanya masih bulan depan, setelah aku dan Mas adam menikah." jawab Lara.


"Hhhh... Aku tak tahu apa obsesimu sekarang. Tapi, setidaknya kita sama-sama menepati salah satu janji kita. Tinggal selanjutnya... Aku, pada janjiku denganmu." ujar Dion, lalu mematikan hp itu secara sepihak.

__ADS_1


"Ha, hallo.... Dion? Aish, sudah dimatikan. Dia serius, dengan kata-katanya. Aku tahu pasti dari nada bicara, dan hembus nafas kebencianya padaku." ucap Lara, yang langsung menangis menringkuk dipinggir tempat tidurnya.


Lara menangis sejadi-jadinya, menyesali, namun tak dapat pula Ia hentikan. Maju, meski sendiri dan begitu menyakitkan baginya. Satu jam berlalu, matanya terasa berat untuk terbuka. Tapi, setidaknya hati Lara lega kali ini. Meskipun akan selaly terulang lagi kejadian yang sama, ketika Ia mengingat Dion.


"Sudah terlanjur, semua pun sudah membenciku. Jalani saja, apa hasilnya, setidaknya aku telah mencoba." Lara bediri, lalu mengusap air matanya.


Lara mengambil tas bahunya, lalu memoles sedikit wajahnya dengan bedak padat, agar tak terlihat pucat dan sembab. Ia bergegas pergi kesuatu tempat, dan karena Mba dewi pun sedang pergi, Lara semakin bebas keluar rumah.


Berbekal Uang yang diberikan Adam dengan jumlah lumayan, beserta sebuah Credit card yang adam miliki, Lara semakin percaya diri untuk pergi. Ia memesan taxi online dengan Hpnya, lalu pergi kesebuah taman bermain, dimana Ia dan Bundanya terakhir kali datang sebelum mereka meninggal.


Lara seolah ingin kembali ke masa kecilnya sebentar saja, untuk memberikan rasa bahagia untuk dirinya sendiri. Lara seolah Dejavu dengan kejadian Dua belas tahun lalu. Ia memainkan semua permainan yang Ia ingat, satu persatu tanpa rasa ragu.


Hari sudah sore, Adam kembali menelpon untuk menanyakan kabarnya.


"Iya, Mas, kenapa?" tanya Lara.

__ADS_1


"Lara dimana? Kenapa ramai sekali?"


"Hehe, Lara lagi ditaman bermain, Mas. Lara bosen dirumah. Ngga papa kan? Lara sendiri."


"Iya, ngga papa. Tapi pulang jangan kemalaman, sekarang banyak begal. Lara naik apa tadi?"


"Naik taxi online, tapi bayarnya Cash. Lara ngga ngerti pembayaran online. Lara juga ngga ngerti caranya pakai Credit card. Untung aja Mas kasih duit Lara." jelasnya.


"Iya, inget aja pesan Mas. Besok Mas pulang, sama Dion juga." ucap Adam.


"Hah, iya Mas. Lara tunggu dirumah ya, Lara rindu. Jangan lupa. Oleh-olehnya tapi Lara ngga tahu mau minta apa. Lara ngga ngerti." ucap Lara dengan nada manja.


"Iya, sudah Mama siapkan yang terbaik buat calon menantunya. Udah dulu, ya. Sekarang mau beres-beres, dan Dion mau ngajak makan diluar." pamit Adam, lalu mematikan telponya.


Lara diam, duduk disebuah bangku ditaman itu.

__ADS_1


"Hah? Dion pulang, astaga, bagaimana denganku nanti? Kamar kami berdekatan." gerutu Lara.


"Ya ampun, baru aja bahagia, baru aja seneng dan bahagia. Kenapa begini lagi? Hari-hariku kini dipenuhi ketakutan, apalagi yang berhubungan dengan Dion. Bahkan, mendengar namanya saja aku gemetaran."


__ADS_2