Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Yang sebanarnya perhatian


__ADS_3

Dion menghela nafas panjang, menatap tingkah laku Lara yang menggemaskan baginya. Perlahan Ia duduk disebelah Lara dan menggenggam lenganya, lalu mengusap rambutnya dengan mesra.


"Udah, jangan sok mesra." sela Lara, dengan menyingkirkan lengan Adam dari rambutnya.


"Gemes aja, lihat Lara ngomel sama marah begitu." ledek Adam, dengan mencubit pipi Lara yang memerah karena rayuanya.


"Mas... Lara ngga nyaman jadi pengangguran, Lara terbiasa kerja." rengek Lara.


"Yaudah, jadi Asisten pribadi dihati Mas aja, gimana?" goda Adam.


"Masss.... Tapi___"  Cupp! Adam memotong ucapan Lara, dengan mengecup bibir Lara dengan mesra.


Lara terkejut, lalu spontan menggenggam lengan Adam dengan begitu kuat, seraya perlahan membalas kecupan Adam dibibirnya.


Mereka memiliki sedikit kesempatan bermesra'an kali ini, meski dihantui rasa takut jika dipergoki oleh karyawan lain yang tiba-tiba datang dan mengganggu mereka.


Lara perlahan mendorong tubuh Adam dari hadapanya, "Mas... Nanti dilihat orang, Lara malu." bisiknya pada Adam.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Mereka masuk pun ngga ada yang berani ganggu kita." balas Adam, dengan melanjutkan aksinya.


Lara merengkuh, dan menarik nafas dalam untuk mengatur nafasnya ketika Adam mulai liar memainkan lidahnya. Lara benar-benar terlarut dalam suasana itu, karena itu memang kali pertama Lara menerimanya, meskipun Dion sebagai lalaki pertama yang Ia cintai, tapi mereka belum pernah berani melakukan apapun. Ia hanya pasrah ketika Adam terus merayu dengan kata-kata manisnya, meskipun awalnya Lara begitu kesal.


Adam menutup aksinya dengan mengecup bibir Lara, lalu mengusap dengan jempolnya dengan senyum manis penuh kepuasan. Lalu, Lara membuka matanya perlahan, dan menatap Adam dan mencubit pinggangnya.


"Aduh, Ra... Sakit!" teriaknya sambil tertawa lepas.


"Masnya mulai berani sama Lara. Kenapa gituin Lara, kita belum nikah." omelnya.


"Sesekali sayang. Belajar, jadi nanti pas udah nikah ngga terlalu kaku." ledek Adam.


"Lepas, Mas. Malu dilihatin orang." ucap Lara, ketika melihat situasinya yang memang berada diruangan staf lain dan sedang menatap mereka bengong.


"Yang lain, kerjanya lanjutin aja. Ngga usah lihatin saya dan calon istri saya." ucap Adam pada mereka, yang membalas dengan jempol.


Semakin Lara melawan semakin Adam memeluknya, hingga Lara merasa sesak karena Adam. Adam begitu mencintai. Bahkan tergila-gila oleh wanita ini, yaitu Lara, yang selalu menggetarkan hatinya.

__ADS_1


"Udah, Lara nanti lari lagi loh." ancam Lara, yang kemudian dituruti Adam.


"Ma'af... Lara masih kesel sama Mas?" tanya Adam.


"Dikit...." jawabnya.


"Apa obatnya biar ngga kesel lagi? Shoping?" tawar Adam.


"Apa itu?" tanya Lara, polos.


"Ngga ngerti? Yaudah, ikut Mas aja." gandeng Adam pada Lara, kemudian. Keluar dari kantor, menuju sebuah Mall besar dipusat kota.


"Mas... Ngapain kesini?" tanya Lara, dengan mendongakan kepalanya kegedung besar itu. Jujur, Lara belum pernah kesana sama sekali.


"Belanja baju baru buat Lara, biar makin cantik. Mas ngga mau, nanti ada yang ngebully Lara hanya karena penampilan. Ayo, masuk. Lara bebas pilih sesuka hati." ajak Adam lagi.


Adam mengajak Lara kelantai atas, menuju butik langganan Sang mama, karena memang Mamanya lah yang meminta Adam untuk merubah penampilan Lara agar menjadi lebih baik dan terlihat pantas.

__ADS_1


Mama Ana begitu memperhatikan calon menantunya itu dengan baik dari segala segi. Baik sebenarnya, karena itu untuk kebaikan bersama, dan Lara memang harus mulai menyesuaikan dirinya dengan Adam. Tapi, seolah ada keinginan lain dari mama ana untuk Lara.


__ADS_2