Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Kelemahan Adam


__ADS_3

"Bu Lara... Anda baik, semua bagus. Tapi, Tuan Adam karena penyakit jantungnya... Mungkin akan sulit memiliki keturunan." Dokter Prasetyo, Spesialis Obgyn terbaik di Rumah Sakit itu tak akan mungkin salah diagnosa.


"Apa... Ada pengobatan atau alternatif lain, agar Mas adam bisa memiliki keturuan, Dok?" tanya Lara.


"Semua bisa terjadi kalau Pak adam sendiri sembuh dari penyakitnya. Operasi, ataupun mendapat donor jantung. Atau.... Ibu ingin program bayi tabung?" tawar dokter Pras pada Lara yang sedang galau.


"Kalau itu... Nanti akan saya bicarakan sama suami saya. Saya... Permisi dulu." Lara memberi salam, lalu keluar dengan perasaan yang luar biasa perihnya.


Ia berjalan pelan menuju ruangan Dokter spesialis jantung yang menangani Adam. Namun, sebekum Ia sempat masuk, Adam sudha keluar dari ruangan itu.


"Sayang.... Udah selesai?" Adam bertanya pada Lara yang menghampirinya.


"Udah... Mas." Lara menjawab dengan tetap berusaha tenang.


"Hasilnya baik?" pertanyaan yang membuat Lara sedikit gugup dan bingung ketika hendak menjawab.


"Baik... Tinggal berserah diri sama yang kuasa lagi. Lara juga udah dikasih vitamin buat kesuburan." jawab Lara.

__ADS_1


Dengan raut wajah bahagia, Adam merengkul Lara untuk pulang, lalu Ia sendiri bergegas pergi kekantornya.


"Lara, udah pulang?" Mama ana menghampiri Lara didepan pintu, ketika Ia sedang menyiram tanaman.


"Udah, Ma. Lara cuma dikasih vitamin buat kesuburan." jawab Lara.


"Minum susu juga, supaya makin sehat." saran Mama ana.


"Lara... Ngga suka susu, Ma." jawab Lara, menolak dengan halus.


"Miris ya, Ma. Siapa itu?" tanya Lara.


"Salah seorang sahabat. Tapi mereka kemudian bercerai karena Sang istri tak tahan dengan semua itu. Meninggalkan anaknya bersama Sang mantan suami. Bahkan sekarang rak diketahui lagi kabarnya bagaimana." lanjut Mama ana.


"Wanita itu?"


"Dia sudah menikah, bahagia dan mendapat keluarga yang begitu baik. Mama ikut senang melihatnya." ujar Mama ana, dengan tersenyum kebar ketika mengatakan itu.

__ADS_1


"Dan aku tahu, perempuan itu adalah kamu. Orang yang tega membuang anakmu demi kebahagiaan diri sendiri."  batin Nana dengan penuh amarah.


"Sudah, Lara istirahat saja. Siapa tahu, setelah minum vitamin. Proses untuk hamil akan segera terwujud. Mama ngga sabar mau punya cucu." imbuh Mama ana, dengan mengelus perut Lara.


Lara menurutinya, lalu masuk kekamar dan merebahkan diri sejenak, sebelum melakukan aktifitas yang lain.


"Bosan seperti ini. Aku ingin bekerja, ingin punya aktifitas. Tapi mau kerja apa? Pasti Mas adam melarangnya." gerutunya sendiri didalam kamar yang besar itu.


♦️♦️♦️


"Dion.... Kakak mau bicara!" Adam mendatangi Dion diruanganya.


"Apalagi? Mau nyuruh pulang lagi? Kak, Dion ingin mandiri, itu saja." tukas Dion, dengan tetap pada pekerjaanya.


"Kakak ngga nyuruh pulang. Cuma jenguklah Mama sama Papa sebentar sepulang kerja. Setelah itu, kamu boleh pulang lagi." balas Adam.


"Sama Papa juga ketemu setiap hari kan. Dan Mama ana? Tak mungkin Ia rindu. Bukankah Ia justru bahagia jika aku tak pulang kesana. Lagian... Dia bukan Ibu kandung kita, kenapa begitu membelanya." jawab Dion, dengan menatap tajam sebuah foto keluarga, dimana belum ada Mama ana disana.

__ADS_1


__ADS_2