
Sepeninggal Adam, Lara mencoba memejamkan lagi matanya, dengan kuat dalam hatinya, Ia berusaha membuang semua rasa tentang Dion, meskipun sulit.
"Ayolah, lupakan... Kenapa sulit sekali. Semakin ku lupakan, semakin terbayang jelas semua tentang Dion." gerutunya, dengan terus memegangi kepalanya dan memberi sedikit tekanan.
"Baiklah, ini baru sehari. Sabar, sekarang tidur dulu, aku yakin seiring berjalanya waktu aku bisa lupa. Apalagi, perhatian MAs adam begitu utuh untuk ku."
Lara kembali merebahkan tubuhnya, dan mulai melelapkan kembali matanya. Hatinya sedikit terhibur kali ini. Sehingga kepedihan hatinya sisa semalam sedikit terobati. Namun, bagaimana dengan Dion disana? Apakak Ia bisa melupakan Lara dengan mudah, mengingat hubungan yang terjalin sudah begitu erat. Apalagi, semua yang berhubungan dengan Lara sudah Ia blokir dalam semua Sosmednya, nomor Hp dan Wa nya. Tapi, tak semudah itu pula bagi Dion untuk lupa sepenuhnya dengan Lara.
****
"Bagaimana keada'anmu, Dion? Apakah masih sakit, karna lukamu cukup parah semalam." tanya Erick, sahabat kuliah Dion , yang sama-sama berasal dari indonesia.
"Lua ditangan ini, tak ada rasanya, dibandingkan sakit hatiku yang menjalar sampai ke otak ku, rick."
"Bingkainya sudah ku bersihkan, foto-fotonya sudah ku bantu hapus dari Hpmu, bahkan dari medsosmu. Lalu, bagaimana dengan Mas adam?"
"Biarkan saja, ku yakin mas adam tak tahu menahu tentang Lara dengan ku. Mas adam mencintai Lara juga tulus, seperti aku mencintainya. Sekarang, aku hanya ingin fokus dengan skripsiku yang sebentar lagi akan sidang. Hhh, padahal semua ku percepat demi Lara, agar aku dapat segera kembali dan bersamanya. Tapi ternyata beda lagi hasilnya." ucapa Dion.
__ADS_1
"Yasudah, kau istirahat dulu disini sekarang. Aku akan pergi kekampus sebentar. Kalau bisa, nanti ku absenkan." ucap Erick, lalu meninggalkan Dion diam dikamarnya.
Semalam, Dion yang sedang emosi menatap foto Lara dengan tajam, lalu mengepalkan tangan dan memukulnya bertubi-tubu, hingga tanganya sendiri terluka karna kaca bingkai itu. Para sahabat yang panik, langsung mendobrak pintunya dan mengangkat tubuhnya dari foto itu, dan yang lain membereskanya.
"Di... Kenapa?" tanya Erick.
"Lihatlah foto dan video yang dikirim Kak adam padaku." ucap Dion, dengan nada begitu marah.
Erick lalu mengambil Hp Dion, dan membuka pesan video itu.
"Entahlah, aku pun bingung. Tapi adam tak salah, Ia memang tak tahu tentang aku dan Lara. Tapi Lara, kenapa. Sampai seperti itu, apa inginnya dan apa salahku." tangis Dion kembali pecah setelah itu.
Erick dan yang lain mencoba menghiburnya, dan Naura membalut lukanya dengan rapi. Ketika Dion tidur, mereka semua membersihkan sisa pecahan kaca dan bahkan membuang foto Lara dari kamar Dion.
Merera semua tahu bagaimana cinta Dion pada Lara, dan bagaimana perjuangan Dion menjaga hati untuk Lara. Maka sekarang, ketika Dion kalut, mereka menganggap semua hal wajar. Masih beruntung karena Dion tak sampai nekat bunuh diri.
***
__ADS_1
Lara terbangun disiang hari, tepat ketika adzan duhur berkumandang. Lara segera melakukan shalat, tapi entah mengapa, Ia tak bisa fokus melakukanya.
Setelah shalat, Lara keluar untuk mencari udara segar. Ia mencoba membuka matanya yang bengkak akibat menangis semalaman.
"Tadi pagi belum terlalu bengkak, jadi Mas adam ngga lihat. Kalau lihat, harus jawab apa aku." gumamnya, seraya menatap wajahnya sendiri dikaca jendela.
"Selamat siang, dengan Mba Lara?" tanya seorang kurir yang tiba-tiba datang.
"Ya, saya sendiri." jawab Lara.
"Ini ada paket, isinya Hp. Sudah diprogram semua beserta aplikasinya. Jadi tinggal pakai, sama tinggal masukin akun pribadi aja, mungkin untuk sosmed."
Lara nenerimanya dengan wajah penuh tanya. "Dari siapa?"
"Dari calon suami anda. Silahkan, ini tanda terimanya." ucap Sang kurir, lalu pergi.
Lara membuka paket itu perlahan, dan benar, isinya adalah sebuah Hp android mahal. Lebih mahal dari yang Dion berikan padanya dulu.
__ADS_1