Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Lara Hamil


__ADS_3

"Lara hanya menawarkan, karena Mas ngga bisa berangkat. Tapi...."


"Baiklah, Lara berangkat. Tapi setelah itu Lara pulang, jangan kemana-mana. Minta bantuan supir taxi untuk membawa Dion ke apartementnya. Karena ngga mungkin dibawa pulang kerumah jika Ia mabuk." Adam memotong, dan menerima tawaran Lara.


Lara dengan sigap mengganti pakaianya, lalu mengendap-endap keluar dari rumah dengan bantuan Adam. Dan pergi dengan taxi online yang dipesannya dari tadi.


"Hati-hati sayang." Adam mencium kening Lara.


"Doakan semoga Dion ngga mabuk parah ya, Mas." imbuh Lara, lalu pergi dengan taxinya.


Dion sedang berpesta pora dengan para teman malamnya. Tak perduli dengan apapun resiko yang terjadi pada tubuh, jantung dan ginjalnya. Minuman itu yang bisa membuatnya melupakan Lara dan kenangan mereka yang masih saja hadir hingga kini begitu mengganggu.


Dentuman suara music dj yang begitu kencang, dengan beberapa penari latar yang sedang menggodanya sekarang, membuat Dion semakin gila.


"Dion.... Dion ayo pulang. Kamu udah mabok berat." Lara menghampirinya, dan mencoba menariknya keluar.


"Apa urusanmu? Aku datang kesini demi melupakanmu, kenapa malah kamu yang datang?" teriak Dion pada Lara.

__ADS_1


"Mas adam nyuruh aku jemput kamu. Ayo pulang." Lara menyeret Dion dengan kasar.


Dion tak melawan, hanya teruse berjalan dalam kemabukannya dan tersenyum sepanjang perjalanan pulang.


"Lara.... Akhirnya kita bersama." goda Dion, ketika Lara memapahnya memasuki apartemenya.


"Diam, jangan macam-macam. Aku istri Kakakmu." ucap Lara, dengan menduduk-kan Dion diranjangnya.


"Tapi kamu mencintaiku." Dion meraih lengan Lara yang akan mengambil minum untuknya.


"Dion... Lepas tanganku atau......"


Entah ini paksaan atau tidak, yang jelasĀ  mereka berdua menikmati moment itu. Dimana Dion benar-benar melakukan hubungan terlarang itu dengan Lara.


Tak lama kemudian, Lara bangun dan memakai pakaiannya, lalu pulang dengan perasaan yang tak karuan. Malu, jijik pada diri sendiri, bahkan menyesali, namun semua sudah terjadi. Ia pergi, dengan membiarka. Dion yang terlelap bagai anak Bayi yang lepas dari rasa hausnya.


"Kenapa seperti ini? Kenapa aku tak menolaknya? Padahal... Dion masih dalam keadaan sadar. Apa aku selingkuh?" gumamnya, diperjalanan pulang dengan taxi.

__ADS_1


Lara lalu masuk kekamar, dan tidur memeluk Adam yang dalam posisi membelakaanginya sekarang. Menyesal tiada guna, itu semua sudah terjadi.


"Maaf, Mas...." bisiknya, yang bahkan Adam tak mendengar itu semua.


Sebulan berlalu pasca kejadian itu. Lara dan Dion sama-sama berusaha tenang ketika bertemu. Berusaha bersikap seolah tak terjadi apapun diantara mereka. Dan Adam pun sama sekali tak curiga atau memiliki firasat aneh tentang itu semua.


Hari ini Lara merasa tak enak ditubuhnya. Ia melihat kalender, dan mendapati jika sudah telat beberapa minggu. Hatinya galau, pusing Tujuh keliling dengan sikap yang harus diambil.


"Sudah telat, apakah aku hamil? Jika iya, anak siapa? Bukankah Mas adam dinyatakan sulit memiliki keturunan." Lara kembali bergumam sendirian, dengan memeluk kalender kecilnya yang berbentuk buku.


Ia mengingat, jika masih menyimpan sebuah testpack dilaci kamar mandinya. Lalu, Ia memberanikan diri untuk mengetes dengan alat itu.


Beberapa menit menunggu, Lara perlahan mengangkat dan melihat hasilnya.


"Dua... Garis biru. Astaga... Bagaimana ini?" Lara yang syok, langsung meninggalkan testpack itu begitu saja, dan berlari keluar rumah.


"Lara mau kemana?" tegur Mama ana.

__ADS_1


"Keluar sebentar, Ma. Bentar aja." jawab Lara dengan berlari, lalu menghentikan taxi yang lewat.


"Temui aku ditaman. Sekarang." Lara mengirim Wa pada Dion, dan tetap menunggu meskipun tak dibalasnya.


__ADS_2