Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Masih cinta?


__ADS_3

"Teriaklah, Teriak sampai semua orang tahu jika kamu masih mencintaiku. Dan aku akan melihat, betapa marahnya mereka semua padamu." ujar Lara, dengen senyum menyeringai.


Dion menghela nafas panjang, dan mengusap wajahnya dengan kasar. Andai saja ini bukan dikantor, ingin rasanya Ia menyeret Lara keluar dengan kasar.


"Pulanglah.... Katakan pada Mama, jika makanannya sudah ku makan dengan lahap."


"Hmmm, kamu mengusirku? Baiklah, adik iparku sayang. Aku permisi." ujar Lara, lalu keluar dari ruangan Dion.


"Dewi... Segera kemari." pinta Dion dengan teleponya.


Dewi secepat kilat datang, dan menenangkan Dion.


"Mas... Kenapa?" lirihnya.


"Bawa makanan itu pergi. Tapi periksa dulu makananya, agar ketika Mama bertanya, kamu bisa mendeskripsikan jika makanan itu kumakan dengan lahap." perintah Dion, yang langsunh dilaksanakan Dewi.


Dewi pergi, dengan banyak tanya dalam hatinya. "Sebenarnya ada apa dengan mereka. Kenapa mereka begini?"


Dion kembali duduk, memukuli meja dan berfikir mengenai sikapnya pada Lara.


"Apa aku terlalu membiarkanya leluasa dirumah itu, sehingga Ia bersikap sebagai ratu. Ia seperti sedang besar kepala karena semua membelanya. Dewi bilang untuk melembutka sedikit hatiku. Tapi untuk apa, bukankan, itu justru semakin membuatnya berada diatas angin?" gumam Dion.

__ADS_1


Sementara itu, Lara turun dengan perasa'an yamg campur aduk, lalu menaiki taxinya kembali.


"Kenapa aku bersikap seperti itu tadi. Kenapa? Kamu bodoh Lara, bodoh. Itu akan membuat Dion semakin membencimu." batinnya Menggerutu, seraya memggigiti kuku jarinya.


"Pulang ketempat tadi, non?" tanya Sang supir taxi.


"Iya, pak."


Mereka lalu berjalan kembali pulang kerumah, dengan perasa'an lara yang kacau. Otaknya sampai sakit memikirkan ini, serta tubuhnya mendadak panas dingin seolah akan demam.


Tiba dirumah, Lara langsung turun setelah membayar taxi. Badanya lemas dan pucat, Ia pun berjalan terhuyung-huyung, hingga akhirnya jatuh dipintu masuk. Mama ana yang sedang menuruni tangga, begitu terkejut melihatnya, dan langsung menghampiri Lara.


"Laraa! Ya Ampun sayang. Kamu kenapa?" Mama ana panik.


Adam yang terkejut seketika terbangun dari istirahatnya, lalu turun menghampiri Mama dan Lara. Begitu juga dengan Paa farhan.


"Lara kenapa?" tanya Adam, lalu bergegas menggendong Lara dan menidurkanya disofa.


"Sayang... Bangun sayang. Lara kenapa sampai pingsan? Kecape'an apa gimana?" bujuk Adam, dengan menggenggam tangan, dan mengusapi rambut Lara.


"Sini, biar Mama olesin minyak angin ketubuh Lara." ujar Mama ana.

__ADS_1


"Lara abis darimana, Ma?" tanya Papa farhan.


"Lara tadi Mama minta antar makanan ke Dion, karena dapat bingkisan tadi. Ma'af, Kalau buat Lara kelelahan." sesal Mama ana.


"Iya, biarkan Lara istirahat setelah inu. Jangan biarkan Dia pergi sendiri lagi." pinta Papa farhan dengan nada begitu tenang.


Beberapa menit kemudian, Lara menggeliatkan tubuhnya lalu perlahan membuka mata. Dilihatnya orang-orang cemas, dan Ia pun penasaran apa yanv terjadi.


"Kalian kenapa?" tanya Lara.


"Lara tadi pingsan waktu mau masuk rumah. Kenapa? Lara sakit?" tanya Mama ana, dengan penuh kecemasan.


"Hah, pingsan? Sepertinya Lara capek. Bisa bantu Lara keatas buat istirahat Mas?" pinta Lara pada Adam.


Adam menuritinya, lalu memapah Lara keatas menuju kamarnya. Setelah itu, Ia membantu Lara berbaring ditempat tidurnya.


"Lara ngantar makanan ke Dion? Apa terjadi sesuatu, yang membuat Lara cemas?" tanya Adam.


"Ngga ada, Mas. Lara capek aja ini, ngga papa kok. Istirahat bentar, nanti sore seger lagi." jawab Lara.


"Baiklah, kali ini Mas percaya. Tapi jika terjadi lagi, Mas akan tegur Dion." ancam Mas adam pada Lara.

__ADS_1


"Bukan Dion, Mas. Aku yang seharusnya kamu tegur dan kamu marahi. Dion ngga salah."


__ADS_2