
"Ayah jangan bercanda. Ngga usah bikin cerita sedih untuk membuat Dion takluk pada kalian."
"Bodoh...!" ujar Papa farhan dengan menonyor kepala Dion. "Bagaimana Papa bisa bermain-main mengatasnamakan nyawa Kakakmu."
"Kakak terlihat baik-baik saja. Dia bahagia bersama Lara, tak terlihat sakit sedikitpun." jawab Dion.
"Itu kelebihan Dia. Hanya donor jantung yang bisa menyelamatkanya. Andai Papa bisa, pasti sudah Papa lakukan. Sayangnya jantung Papa pun sudah lemah sekarang."
"Papa berkata seperti itu, bukan untuk membujuk Dion mendonorkan jantung bukan?" tanya Dion.
"Tidak... Papa tidak ingin mengorbankan salah satu dari kalian untuk kebahagia'an yang lain. Kalian punya jalan sendiri-sendiri yang harus saling diperjuangkan. Maka dari itu, meskipun tak bisa memberi, setidaknya jaga yang sudah ada. Karna Ia seperti Bom waktu, yang akan bisa merenggut Adam kita kapan saja."
"Iya, Baiklah. Tapi tidak denganmu, Lara."
Dion merasakan sakit, sakit ketika mendengar kondisi adam. Tapi, Ia pun sakit ketika Lara yang bersama Adam. Dion sudah terlanjur menganggap Lara tak baik, bahkan untuk bersama adam pun tak pantas.
Mobil berhenti, mereka pun turun dan memasuki kantor. Ini hari pertama Dion menggantikan Adam. Dan nanti Dion akan mendapatkan Dewi sebagai sekretarisnya.
Tiba diruangan, seorang staf datang dan memberikan banyak sekali laporan yang harus dibaca dan ditandatangani Dion.
__ADS_1
"Shiiit...! Sebanyak inikah pekerja'anku?" omelnya.
"Ini baru beberapa, nanti akan banyak lagi yang menyusul. Oh iya, Pak. Sudahkah dapat calon sekretaris baru?"
"Sudah... Nanti siang dia mengirim lamaran. Dan langsung terima saja, Dia anak yang kemarin magang disini atas asuhan Kak Adam. Jadi meskipun belum lulus, tapi sudah memenuhi kriteria." ujar Dion.
"Baiklah, akan segera saya laksanakan." jawabnya.
Dion mulai membaca satu persatu berkas itu, dan sesekali memijat pelipisnya karena lelah. Meskipun.Ia lulusan terbaik, tapi itu dalam materi, sedangkan sekarang Ia harus mempraktekanya langsung dengan terjun keposisi CEO.
"Pertama kerja, dengan jabatan setinggi ini. Astaga, meledak otak ku." keluhnya.
Sementara itu, Adam dan Lara sedang asyik memilih kebaya dan gaun untuk pernikahan mereka.
"Senyamanya Lara aja. Kan ngga enak juga, kalau bagus, mewah, tapi Lara ngga nyaman. Tapi Mama pengenya sih begitu, karena ini pesta besar." jawab Adam.
Lara lalu duduk disamping Adam, untuk membicarakan sesuatu.
"Mas... Kalau semewah dan seramai itu undanganya, apa Mas kuat?"
__ADS_1
"Kuat apa ini?" ledek Adam.
"Kuat nyalamin tamu Mas. Apa'an sih?" kesal Lara.
"InsyaAllah kuat, sayang. Lagian, itu nanti ngga semua boleh nyalamin Mas. Mereka akan diambil alih oleh Mama dan Papa." jawab adam.
"Owh iya, syukurlah. Kalau begitu,. Lara pilih yang ini aja, kesanya memang mewah, tapi sebenarnya simpel dan ngga ribet. Mas ngga milih?" tanya Lara.
"Milih apa? Mas mentoknga pakai jas sama celana dasar doang. Paling warnanya yang dibuat senada."
"Owh, iya ya... Lara lupa." senyum Lara, tersipu malu.
Kebahagia'an mereka kembali terpancar, Lara dengan bahagianya kembali memilih acesoris untuk pernikahanya agar semakin gemerlapan. Tanpa Ia sadari, dibelakang sana, Adam berkal-kali memegangi dadanya yang nyeri.
Adam lalu merogoh tas yang ada disampinya. Ia selalu membawa obatnya setiap waktu. Ya, obat penahan nyeri. Karena hanya itu yang bisa menguatkannya selain keberada'an Lara disisinya.
Setelah dirasa puas, Lara pun kembali menghampiri Adam ditempat duduknya dan untung saja, Adam sudah kembali tenang.
"Mas, kok keringetan?" tanya Lara.
__ADS_1
"Hah, Iyakah? Mas kepanasan rasanya. Lara udah? Pulang yuk? MasĀ capek." ajak Adam.
Lara pun mengangguk, dan duduk menunggu Adam membayar semua belanja'anya, lalu mereka pulang dengan Lara yang terus menggelendot manja dipundak Adam yang sedang menyetir.