
Suasana dirumah Mama ana dan Papa farhan saat ini begitu meriah. Tenda dan hiasab disertai pelaminan yang begitu megah telah terpasang dan memukau mata semua yang memandangnya.
Semua orang kini sibuk dengan urusanya masing-masing untuk menyambut pesta yang meriah itu. Berdandan dengan style nya masing-masing agar terlihat semakin menarik nantintnya ketika berfoto bersama dengan sempurna.
"Dewi, cantik banget. Biasa sederhana, giliran didandanin manglingin." ujar Lara, yang menghampiri Dewi dikamar pengantin-nya.
"Ah, mba Lara terlalu berlebihan. Terimakasih pujian-nya." balas Dewi yang tersanjung dengan ucapan Lara itu.
Dengan kebaya serba putih dan menggunakan hijab dengan warna yang senada, Dewi begitu terlihat sempurna untuk hari ini. Wajahnya begitu nampak bahagia, seolah tak ada satupun yang bisa menandingi kebahagiaan yang akan Ia dapat dihari istimewanya itu.
"Lara, kenapa make up kamu menor sekali? Itu ngga baik buat janin kamu." tegur Mama ana yang tiba-tiba datang membawa ketengangan.
"Ini, produknya aman buat Bumil kok Ma. Ngga usah khawatir, Lara udah konsul juga sama petugas nya." sanggah Lara.
__ADS_1
"Benar? Awas aja nanti, kalau terjadi apa-apa sama calon cucu Mama. Udah, ayo keluar, Dion dan rombongan udah datang." ajak Mama ana pada mereka.
Lara menggandeng lengan Dewi, seperti ketia Dewi mengantar Lara menikah waktu itu. Begitu bahagia dan harmonis terlihat, meski dihati Lara begitu berbeda rasanya.
Lara tak membencinya, tapi menyayangkan, kenapa Dewi yang harus bersama Dion. Karena Lara sama-sama menyayangi mereka berdua.
Dion telah duduk disinggasananya, menunggu Sang ratu datang menghampiri, dan Ia akan mengucapkan Ijab Qabulnya disana.
Terdengar langkah kaki itu ditelinganya, Ia berbalik menatap Dewi dan Lara yang bergandengan berjalan menuju tempanya berdiri sekarang. Tatapan-nya takjub, ketika melihat sosok sederhana itu seolah berubah menjadi bidadari yang begitu mempesona, hingga membuat jantungnya begitu berdebar.
Acara dimulai, semua berlangsung khidmat. Sambutan demi sambutan diutarakan oleh keluarga besar untuk para tamu. Dan kini, tiba waktunya untuk Dion mengucapkan Ijab qabulnya.
Begitu lugas Dion mengucapkanĀ dengan satu tarikan nafas, hingga saat semua orang mengucap SAH atas pernikahan mereka.
__ADS_1
Air mata Dewi mengalir membasahi pipi. Ia benar-benar bahagia ketika orang yang begitu Ia cintai akhirnya menikah dengan-nya. Meski Ia taj tahu betul, bagaimana cinta itu sebenarnya bagi Dion.
Kini mereka berdiri di pelaminan, mulai dengan aktifitas raja dan ratu sehari. Menyalami semua tamu ynag datang dengan ramah dan senyuman.
Lara hanya diam disudut keramaian, menatap kebahagiaan mereka berdua yang sebenarnya menyakitkan untuknya. Tapi, itu harus Ia tutup sempurna dengan senyuman manis dibibirnya. Entah munafik atau apa, tapi itulah kenyataan-nya.
"Lara, kok duduk disin?" tanya Adam yang dari tadi mencari istrinya itu.
"Hmmm... Pinggang Lara sakit, mas. Capek banget rasanya. Minta maaf sama sanak saudara yang lain ya Mas. Nanti kalau nekat seneng-seneng malah terjadi apa-apa." jawab Lara, dengan wajah memelasnya.
"Istirahat aka dikamar kalau capek sayang. Kasihan dedek bayinya kalau dipaksain."
"Ngga usah lah, duduk aja disini ngga papa. Yang penting kelihatan daripada engga sama sekali." jawab Lara yang berusaha meyakinkan Adam.
__ADS_1
"Baiklah, Mas gabung ke mereka dulu. Kalau ada apa-apa, panggil aja Mas, atau langsung istirahat kekamar. Mas ngga mai kenapa-napa nanti." tukas Adam, lalu pergi bergabung dengan keluarga besarnya.
"Aku ngga akan kemana-mana. Hanya ingin melihat, Ayah kandung dari Bayiku ini sedang menikahi orang lain untuk menghindari keberadaan-nya."