
Lara puas menangis, meluapkan semua kepedihan hidupnya. Lalu berdiri, menyeka airmata dan menghampiri lagi Pak johan.
"Ada yang ingin Lara tanyakan lagi."
"Apa?" tanya Pak johan, dengan menghisap rokoknya dengan santai.
"Ketika nenek meninggal, Dia datang. Dia memberiku uang Dua Puluh Lima juta. Apa dia tak mengenaliku?" imbuh Lara.
"Iya mengenalimu sebagai yang lain. Saya bilang, jika kamu sudah meninggal bersama Ayah dan Ibumu. Dan nenek mengadopsi kamu dari panti yang lain, dan memberi nama yang sama. Dia... Sudah melupakan semua yang ada dikota itu, bahkan Ibunya."jawab Pak johan.
" Sejahat itu? Wanita yang dikenal berhati malaikan dan berakhlak mulia, ternyata tak lain adalah seorang monster berhati dingin. Lalu, kenapa dia seolah meluapkan semua hasrat terpendamnya padaku... " gumam Lara, yang duduk disebelah Pak johan.
"Iya, itu hasratnya. Hasrat ketika Ia mengandungmu dalam keadaan serba kekurangan. Jangan kan susu dan makanan sehat, hanya untuk makan saja harus penuh keprihatinan. Namamu, Lara Prihatiningtyas. Bukan Lara salsabila seperti yang dikenal sekarang. Aku dan Ayahmu merubah nama itu ketika tahu jika Ana mulai mencari keberadaanmu."
__ADS_1
"Seburuk itukah keadaan-nya, hingga meluapkan dalam sebuah nama?"
"Ya... Seperti itulah. Luka Lara dalam keprihatinan. Pulanglah, akan antar Antar hingga kedepan gang. Karena jika Ia tahu kita bertemu, itu akan mencurigakan." ajak Pak johan pada Lara, dan langsung diturutinya.
Mereka berjalan pulang dalam keadaan sama-sama diam. Tak ada lagi yang akan diceritakan Pak johan, dan ditanya kan oleh Lara. Karena baginya semua sudah jelas, dan seperti itu kenyataan-nya.
"Setelah ini, perhatikan emosimu. Jika kamu ingin menuntut maaf darinya, bersabarlah. Jangan sampai menjadi bumerang bagimu. Ingat, semua orang menganggapnya malaikat putig tanpa noda. Kamu lah yang akan jatuh nanti." pesan Pak johan, yang dibalas anggukan Lara.
" Mas, kangen. Kok pulang ngga bilang-bilang?" suara Lara begitu manja, terlebih lagi karena memang baru saja menangis, sehingga makin terlihat lemah."
"Baru sampai, Lara darimana?" tanya Adam.
"Main-main sebentar, bosan dirumah terus. Dewi sama Dion juga baru aja pulang. Mama mana?"
__ADS_1
"Didalam, beresin pakaian Papa."
"Lara juga mai beresin pakaian Mas. Yuk kekamar...." gandeng Lara dengan begitu mesra pada suaminya itu.
Apa yang terjadi beberapa hari ini, Lara lebih memilih untuk menyimpan-nya rapat-rapat dari Adam. Dan Lara pun berdia agar Dion tak memberitahukan hal itu, agar Adam tak ikut syok dengan semua yang terjadi selama Ia pergi.
Sore harinya, mereka berkumpul kembali untuk melakukan perundingan mengenai pernikahan Dion yang akan dipercepat Dua minggu lagi. Semua orang setuju, dan begitu antusias menyambutnya. Kecuali Lara, yang masih saja perih hatinya. Apalagi, permasalahan kian bertambah sejak pengakuan Pak johan barusan. Membuat Lara ingin segera mengakhiri semua ini.
Persiapan demi perisapan telah dilakukan, tinggal acara hari pernikahan mereka yang digelar esok hari. Dion dan Dewi tinggal terpisah, tak seperti waktu Lara dan Adam yang tinggal dirumah Mama ana dulu. Dion lebih memilih menetap di apartement, bersama beberapa sahabat yang akan mengantarnya esok.
"Udah mantep Yon? Loe ngga nikahin Dewi, buat pelarian aja kan?" tanya Naura, salah satu sahabat terdekatnya.
"Jujur, sebenernya iya. Tapi gue akan berusaha keras untuk membuka hati dan mencintai Dewi dengan tulus." ucap Dion, dengan antusiasme yang tinggi.
__ADS_1