Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Wanita pemberi amplop


__ADS_3

Uni deni terus memeriksa denyut nadi, dan detak jantung nenek ratmi, namun kenyata'anya nenek sudah takbisa ditolong lagi.


"Lara yang sabar, nenek sudah meninggal." ucap uni deni.


Lara menatap kosong, dengan bulir airmata yang mulai jatuh perlahan.


"Kenapa nenek meninggal? Nenek bahkan tidak sakit, dan tak ada keluhan sama sekali." ucap Lara.


"Sepertinya, Nenek tersedak duri kepala ikan, Ra. Ucap Pak acik, yang menunjuk piring berlumuran darah dimeja."


Lara terduduk lemah, perasa'an bersalah seketika menyelimuti dirinya. Andai saja Ia memakam habisa kepala ikan itu, pasti Sang nenek tak akan tersedak hingga meninggal. Nenek akan selalu bersamanya, menyaksikan acara kelulusanya nanti, dengan nilai yang memuaskan, dan memeluknya erat ketika itu.


Kematuan nenek ratmi diumumkan, para pelayat mulai berdatangan. Karna hari masih sore, pemakaman dilakukan hari itu juga, hingga gelap dan selesai, mereka akhirnya pulang.


"Lara tidur dirumah Ibu aja, disini sendiri." tawar Bu ema.


"Disini aja, siapa tahum Ibu datang dan bawa Lara pergi." harapnya.

__ADS_1


Suatu harapan yang begitu besar bagi Lara, meski harapan itu tak sesuai kenyata'an yang disapat. Hingga larut malam, tak seorang asing pun datang kerumah itu. Hanya para tetangga, yang berniat menemani kesendirian Lara, meskipun harus pulang juga akhirnya.


Paginya, Lara bersiap untuk kesekolah, berusaha seperti biasanya meski perasa'an gamang menyelimuti hatinya.


"Lara..."


Panggil seorang wanita berpakaian hitam modis, dan berkaca mata hitam tebal. Begitu cantik nan anggun.


Ia menghampiri Lara tanpa ekspresi, dan menepuk bahunya beberapa kali.


Lara hanya menatapnya bingung, dan tak bisa menjawab apapun, hanya mengangguk dengan semua perkata'anya, sambil sesekali menatap jam dinding.


"Tante, siapa?" tanya Lara.


Wanita itu hanya tersenyum kecut, lalu menarik nafas lega.


"Bagus, jika kamu tak tahu siapa saya. Dan lebih baik lagi, jika tak pernah tahu sama sekali. Ini, buatmu. Manfa'atkan sebaik-baiknya." ucapnya, dengan memberi sebuah amplop, lalu menaiki mobil mewahnya.

__ADS_1


Lara tak perduli dengan amplop itu, Ia juga tak mengerti apa-apa. Yang Ia tahu, Ia harus segera berlari kencang menuju sekolahnya, agar tetap bisa mengikuti ujian sekolah terakhirnya.


"Ma'af Bu, Lara telat." teriaknya, ketika sampai dikelas, dan ujian ajan segera dimulai.


Sang guru menghela nafas, ingin marah, tapi tahu akan keda'an Lara. Dan tak ada cara lain selain mena'afkanya kali ini.


"Duduk, dan kerjakan ujianmu." ucap Sang guru.


Lembaran demi lembaran soal Ia kerjakan. Ia hilang kan semua duka dihatinya, demi nilai terbaiknya.


Setidaknya sudah tak ada beban untuknya pergi sekarang. Ia bebas melangkah kemanapun Ia inginkan. Ia bebas mencari apapun yang Ia mau. Tanpa terhalang oleh sebuah tanggung jawab.


Hari kelulusan tiba, Lara dengan targetnya begitu bahagia mendapat peringkat Pertama, terbaik, dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan jenjang selanjutnya kekota besar dan disekolah terbaik.


Namun suasana berubah hampa, ketika semua teman yang ada didampingi orang tua mereka, dipeluk dan dicium dengan ucapan selamat yang begitu membanggakan. Dan hanya Lara yang sendirian. Duduk dibangku paling depan sesuai urutan nilai, namun serasa paling dibelakang, karna kesepian.


Tak ada tangis lagi, tak ada sedih lagi. Ia hanya menarik nafas, dan kemudian berdiri dari bangkunya, lalu pergi untuk pulang. Mengemasi pakaian, dan semua keperluanya untuk pergi kekota minggu depan.

__ADS_1


__ADS_2