Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Cintanya dewi


__ADS_3

"Iya Mas, kamu memang tampan. Senyummu merasuk hingga ke jantungku. Menekan begitu dalam hingga aku sesak merasakanya." batin Dewi, memandang tatapan Dion dalam-dalam, dengan perasa'an yang bercampur aduk.


"Mas... Pulang yuk. Udah sore nih, ngga enak sama Ibuk." ajak Dewi pada Dion.


"kamu pulang aja, saya mau pulang ke Apartement. Males pulang kerumah." jawab Dion.


"Kenapa? Karena Mba Lara?"


"Kenapa harus Lara?" tanya Dion pada Dewi.


"Tatapan Mas pada Dia berbeda." lirih Dewi.


"Anggap saja sama. Tak perlu difikirkan, Saya sudah berusaha menghilangkan pandangan itu. Jangan diungkit lagi, saya pulang." ujar Dion, lalu pergi meninggalkan Dewi sendirian.


Dewi merenung, mencerna semua ucapa Dion barusan. Ia mencoba tak ambil pusing dan sadar akan posisinya. Siapa Dewi bagi Dion, meskipun Dewi begitu mengharapkan Dion.

__ADS_1


"Semua penemuan ini, seolah mematahkan semua keinginanku, Mas. Aku tahu, jika kamu sudah memuja satu wanita, maka dia lah yang akan selalu dihatimu. Maka akan sulit bagiku masuk." ujar Dewi, yang mengesampingkan fikiran, jika Lara itu milik Adam.


Dewi pun beranjak dari tempat duduknya. Ia hendak membayar minumanya, tapi tak diterima oleh kasir, karena Dion telah membayarnya terlebih dahulu. Dewi berbalik tersenyum, dan kembali berjalan mencari taxi untuk pulang.


Dirumah, mereka sedang makan malam. Lara, Papa farhan dan Mama ana, lalu Adam yang hanya duduk karena sudah terlebih dulu makan.


"Adam ngga makan lagi, kenapa? Ngga papa kalau mau makan lagi." tawar Mama ana, ketika melihat Adan diam termenung sendirian.


"Males ah, udah kenyang. Dion ngga balik kesini lagi?" tanya Adam, dengan air muka yang sedikit kesal.


"Mulai deket? Jadi jadi sekretarisnya?" Adam tersenyum simpul, dengan memainkan Hp ditanganya.


"Sudah, besok Dewi mulai kerja. Tapi kok malah belum pulang. Kemana dia?"


Lara hanya diam, menikmati makan malamnya dengan tenang. Fikiranya sedang menyesuaikan diri dengan hatinya. Berusaha menahan semua rasa yang ada, terutama ketika mendengar nama Dewi dan Dion, yang sebenarnya membuat hatinya bergetar. Berulang kali, setiap waktu, ketika mereja sedang menjadi bahan pembicara'an orang serumah.

__ADS_1


"Udah, Ma? Biar Lara beresin meja makanya." ujar Lara.


Mama ana tersnyum, dan membiarkan Lara mengambil alih pekerja'anya. Ia lalu duduk disofa ruang tamu untuk mengurus undangan mereka. Hanya tinggal sedikit lagi, maka semuanya beres. Hanya tinggal beberapa hari lagi, Lara dan Adam akan SAH menjadi suami istri.


Adam dan Papa farhan sedang memgobrol bersama diteras belakang dengan begitu akrabnya.


"Papa ngga nyangka, jika Kamu sebentar lagi akan menikah. Papa masih begitu ingat ketika kamu berlarian bersama Mama bermain ditaman. Kamu masih kecil, dan Mama sedang mengandung Dion ketika itu." ujar Papa farhan.


"Tapi Adam yang ngga ingat, Pa. Adam masih kecil sepertinya."


"Ya, kamu masih kecil. Masih usia Empat Tahun, wajar jika tak ingat. Jaga kaluargamu dengan baik nanti. Jangan pernah sakiti Lara, sebisa mungkin buat Dia bahagia." pesan Papa farhan.


"Ya, itu memang cita-cita Adam."


Papa farhan mendengus, dan mengusap matanya yang ternyata dialiri bulir-bulir bening di pinggiranya.

__ADS_1


"Papa udah makin tua rupanya. Usahakan, secepatnya memberikan cucu pada Mama dan Papa, ya? Kami sangat berharap itu." harap Papa farhan, dengan mendongakam kepalanya dilangit.


__ADS_2