Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Kemiripan kesuka'an


__ADS_3

"Ra..."


"Iya, Mas?"


"Makanan kesuka'an Lara sama Mama kok sama, ya? Sama-sama suka kepala ikan." ujar Adam.


"Ya beda lah, Mas. Kalau mama kan, kepala ikan kakap. Lah, kalau Lara, kepala ikan sisa yang ada dirumah makan. Itu aja udah bersyukur Lara bisa makan."


"Serius... Kadang, mama suka masak santan ikan gitu, bagian bawah dipisah buat Mas, bagian kepala dimakan mama. Padahal masaknya banyak loh."


"Owh... Kebetulan banget ya, Mas?" balas Lara dengan senyum menyeringai. Kebetulan yang pas, Dia memang Ibuku.


💞

__ADS_1


"Ra... Mas ngga bisa mampir, ya? Mama nunggu soalnya. Lara dirumah langsung istirahat aja, jangan kemana-mana." ucap Adam, setelah tiba dirumah Lara.


"Iya... Mas hati-hati, ya. Sampaikan ma'af Lara sekali lagi buat Mama dan Papa." jawab Lara, lalu turun dari mobil, setelah mencium tangan adam.


Lara masuk, setelah melambaikan tangan ketika Adam pergi dari rumahnya.


Lara merebahkan tubuhnya dengan kasar dikasur yang tak berranjang itu. Kasur kempot yang sudah tak tak ada rasa empuknya sama sekali, bahkan kadang membuat tubuh Lara sakit ketika berbaring diatasnya.


Kembali Lara mengingat fotonya yang disimpan Dion di album itu, yang bertuliskan "Gadis Aneh, cinta pertamaku." sesak bagi Lara, tapi itu lah kenyata'anya. Lara adalah cinta pertama bagi Dion, begitupun sebaliknya.


Tapi, keputusan sudah tak bisa dirubah lagi. Lara sudag terlanjur masuk kehati Adam dan diterima dikeluarga itu sebagai calon istri kesayangan Adam. Lara tak bisa lagi mencabut kata-katanya yang trlah Ia lontarkan pada Adam. Dan Dion, Ia tak akan mungkin mau menerima Lara kembali. Dion sudah terlanjur sakit, dan lebih sakit dari yabg difikirkan Lara sa'at ini.


"Nikmati keputusanmu, Ra. Semuanya sudah tak bisa dikembalikan seperti awal mulanya. Nikmati saja permainanmu sekarang. Toh, mereka baik. Hanya untuk memberi pelajaran Mama ana esok, hingga akhirnya hatimu terpuaskan." gumamnya, sambil tertawa sengit, mengingat wajah orang yang kini Ia panggil Mama itu.

__ADS_1


Lara terlihat berantakan sekarang, bukan hanya dari penampilan. Hati, otaknya pun berantakan, tatapannya sering kosong dan buram. Hanya obsesi yang mengisi hidupnya sekarang. Lara terus diposisi itu, hingga sore menjelang, tak berubah sedikitpun, tak ada lapar ataupun haus yang Ia rasa. Hingga akhirnya Adzan ashar berkumandang.


"Hah? Selama itukah aku merenung? Merenungkan apa? Ooowh, Damn... Aku telat kuliah sore ini." ucap Lara yang kesal, ketika melihat jam dilayar Hpnya.


Lara bangun, lalu Ia membersihkan semua sisa make up diwajahnya. Setelah itu, Ia menatap dirinya sendiri dicermin.


"Aku dan dia begitu mirip, tapi kenapa tak ada yang menyadari itu? Bahkan, Dia sendiri pun tak merasakanya? Kenapa, apa karena benar-benar telah menganggapku mati?" gerutunya lagi.


Lara mengusap wajahnya dengah kasar, menjambaki rambutnya hingga rontok beberapa ditanganya. Bagaikan sedang frustasi, dan tak terkendali oleh obsesinya sendiri. Ingin rasanya Ia mengamuk sejadi-jadinya, namun masih Ia tahan.


"Sabar, Lara. Kalau begini, semuanya bisa gagal, bukan bahagia yang kamu dapat. Semuanya bisa meninggalkanmu gara-gara meganggapmu gila!" ucapnya tertekan.


Lalu Lara nelepas gaun indahnya, dan lari kekamar mandi. Ia memasukan dirinya kedalam bak mandi besar disana, menenggelamkan seluruh tubuh hingga kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2