Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Mencari jejak


__ADS_3

Bagaikan petir menyambar, ketika Lara mendengar ucapan Nyonya Ana. Tak pernah Ia sangka, jika akan mendengar jawaban seperti itu dari Ibuya. Berarti selama ini, Ia memang dibuang. Dibuang sejauh mungkin, bahkan jejaknyapun tak pernah di cari, bagaikan tutup botol yang tak berguna setelah lepas dari botolnya.


Sekuat tenaga Lara menahan sakit dalam hatinya, memendamnya dengan senyuman palsu yang Ia tebarkan dihadapan mereka. Lara ingin menangis, tapi nanti ketika Ia telah pulang dan sampai dirumahnya. Dan untuk sekarang, Lara sedang fokus dengan pencarianya.


"Kenapa, Nyonya begitu?"


"Ya... Karna saya memang tak mempunyai anak, dan divonis tak bisa memilikinya. Maka dari itu, meskipun Adam dan Dion adalah anak sambung, saya begitu menyayangi mereka sepenuh hati saya."


"Adilkah, karna setahu saya, Dion merasa tak adil dengan semua itu."


"Kamu kenal Dion?"


"Ya, bahkan saya lebih mengenalnya daripada anda." jawab Lara.


"Dion hanya iri, karena adam mendapat perhatian lebih dari saya. Karna adam sakit. Itu saja,"


"Owh, iya...." angguk Lara, lalu menghentikan pertanya'anya.

__ADS_1


Nyonya Ana lalu pergi meninggakkanya, karena dipanggil pihak perawat untuk menyelesaikan administrasi Adam.


Menyayangi anak sambungnya demgan begitu tulus, tapi membuang anak kandung sendiri, bahkan tak terbesit sedikitpun dalam ingatanya jika pernah memilikiku. Pantaskah kamu untuk aku perjuangkan, Seperti tujuan utamaku selama in?


"Ra, kenapa melamun?" tegur Mas adam, yang menghampirinya.


"Pak, udah sehat? Atau udah boleh pulang?" tanya Lara.


"Alhamdulillah, udah bisa pulang. Tinggal siap-siap aja, dan Mama lagi ngurus administrasinya."


"Iya, Mama begitu menyayangi kami, meski bukan darah dagingnya. Ia begitu tulus, bahkan mungkin rela mengorbankan nyawanya demi Saya dan Dion." balas adam, dengan bangganya.


"Bagaimana kondisi Nyonya ketika menikahi Tuan?"


"Hmmm? Dia janda, yang ditinggal mati suaminya. Lalu datang merantau kekota bersama sahabatnya, Pak johan. Bekerja bersama diperusaha'an Papa, dan akhirnya mereka berjodoh."


"Hhh, ditinggal mati dia bilang. Padahal ketika Ia pergi, kami masih sehat, dan sedang membutuhkan dia." batin Lara yang semakin ingin menghujat. "Sabar Lara, sabarkan hatimu. Ungkap semuanya nanti, ketika Dion kembali, dan kamu sudah bersamanya. Kumpulkan saja semua buktinya sekarang."

__ADS_1


"Adam, ayo kita pulang." ajak Nyonya Ana.


"Iya, Ma... Lara, kamu ikut saya pulang?" tanya Adam.


"Ah, engga, Pak... Saya menemani sampai disini saja, tak apa 'kan? Karna saya masih ada urusan." jawab Lara.


"Baiklah, sampai ketemu dikantor besok, ya." ucap Adam, lalu berjalan pelan keluar dari ruanganya, bersama Lara dibelakangnya. Lalu, mereka berpisah.


Lara mengendarai motornya sedikit kencang. Ia mnegumpulkan serpihan-serpihan ingatanya tentang keberada'an makam Sang ayah, karena ketika Pak johan membawanya, Ia masih kecil, dan masih sulit mengingat jalanan.


"Ayolah, kearah mana lagi? Bukankah ini jalannya? Kenapa lupa lokasinya. Dan nama pemakamanya pun, aku tak bisa mengingatnya." gerutu Lara, sambil menepuki kepalanya hingga sakit.


Hampir Dua jam, Lara berkeliling danĀ  berputar didaerah itu, karna hanya itu yang familiar baginya. Sesekali Ia menanyakan alamat pada orang-orang yang sedang duduk dipinggir jalan. Hingga akhirnya Ia menemukanya. Sebuah pemakaman tua, yang mulai rimbun dengan rerumputan karan kurangnya perawatan warga sekitar.


Lara kembali mencari, dan terus mencari hingga lelah, namun tak menemukan makam bernamakan Sang ayah. Semuanya habis termakan usia, kayu dan semen mulai keropos, sehingga tulisan tak terlihat lagi disana.


"Dimana, yah? Dimana makam ayah? Beri Lara petunjuk, agar bisa menemukan Makam ayah. Lara rindu, Lara begitu rindu bahkan rasanya Lara ingin mati saja dan bertemu dengan Ayah dan Ibu." tangisnya, yang duduk disebuah kursi tua, yang berada ditengah pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2