
Seminggu sudah mereka menjalani biduk rumah tangga. Dimana cinta mereka sedang hangat-hangatnya dalam memadu kasih.
Setelah hari pernikahan, Dion kembali ke apartementnya, dan tak pernah menampakan diri dirumah itu. Entah apa alasan Dion, tapi ketika ditanya selalu saja dengan jawaban yang sama.
"Dion cuma ingin menenangkan diri Dion. Bukankah, Papa ingin Dion menjadi seperti Kak adam, yang gigih dan selalu serius dalam pekerjaanya? Dion sedang belajar, agar bisa seperti itu. Dan ternyata itu butuh konsentrasi yang tinggi." hanya itu, dan tak pernah berubah, dengan siapapun Ia menjawab pertanyaan.
" Tapi setidaknya, jenguk Mama dan Papa. Mereka rindu kamu. " Adam sedang merayunya dengan kata-kata yang begitu lembut.
"Mereka sehat bukan? Kenapa harus dijenguk. Mereka bahkan lebih terlihat bahagia, segar, dan lebih terurus sejak memiliki menantu baru disana. Tak perlu dikhawatirkan." tukas Dion, dengan nada yang begitu santai.
Adam terdiam menyaksikan adiknya menjadi sosok yang begitu keras hati sekarang. Ia sendiri bingung, harus melanjutkan permohonanya dengan cara apa. Akhirnya Adampun mengalah diam dan kembali keruanganya, meninggalkan Dion dengan keangkuhanya.
__ADS_1
"Fokus saja Mas dengan Lara. Tak perlu memusingkanku, bahagiakan dia, bila perlu mulailah program agar Lara segera hamil. Dengan begitu, Ia akan fokus pada dirinya dan kehamilanya. Tak perlu lagi terganggu denganku."
Adam abai, tak mau mendengarkanya. Hatinya seolah tak ingin banyak mendengarkan Dion lagi, dan malas menasehatinya. Ia kembali keruangan kerja, lalu diam-diam memanggil seorang karyawan dan Ia memberi tugas tambahan untuknya mengikuti Dion setelah pulang kerja.
"Kamu siap saya beri tambahan? Masalah gaji, akan saya naikkan Dua kali lipat dari gaji kamu semula." Adam menegaskan tentang semua tugas berikutnya.
"Saya siap, tapi saya juga tak bisa Dua. Puluh Empat Jam mengawasi. Bapak tahu kondisi saya." Adim, seorang cleaning servis yang sudah bekerja Lima tahun disana. Ia merupakan sahabat Dion dulu, ketika bersekolah di SMA sebelum pindah kesekolahnya bersama Lara.
Adim seorang anak yatim, yang juga harus merawat Ibunya yang sedang sakit dirumah yang tak jauh dari kantor. Sebuah rumah tua, hanya Ia dan Ibunya disana bersama beberapa tetangga yang ikut membantu mengawasi.
Hingga beberapa bulan semua aktifitas itu dijalankan, Adam juga belum mendapat info apapun tentang Dion, hingga Ia mendapat teguran dari Mama ana tentang pengobatanya yang mulai terbengkalai.
__ADS_1
"Adam... Sudah beberpa bulan ini kau ngga chek up. Kemana saja? Apa yang kamu lakukan diluar sana hingga mengabaikan kesehatanmu?"
"Adam... Ada urusan lain, Ma. Nanti Adam chek up, ditemani Lara. Seklian Lara mau periksa." Adam menjawab, dengan nada santai. Tak terlalu memikirkan emosi Sang Mama.
"Lara sakit?" Mama ana melirik Lara, dengah khawatir.
"Engga, Ma. Mama sama Papa kan pengen cucu. Jadi, Lara mau coba periksa, sama program kehamilan. Biar makin cepet, siapa tahu semua usaha kita berhasil." ujar Lara, dengan penuh antusias.
"Baiklah, Mama dukung usaha kalian. Nanti kalau ada apa-apa, segera hubungi Mama." Mama mirna lalu menyelesaikan sarapanya dan membereskan semua yang ada dimeja, ketika Lara dan Adam bersiap ke Rumah sakit.
♦️♦️♦️
__ADS_1
"Lara, setelah pemeriksaan dari Obgyn, Mas langsung ke dokter jantung, ya. Mau minta obat bulanan." Adam menggenggam tangan Lara yang sedang tegang menunggu hasil pemeriksaan.
Tak lama kemudian Adam pergi, dan Lara menunggu hasilnya sendiri. Dengan terus menghela nafas panjang, seolah menunggu kemungiinan terburuk yang akan didengarnya.