
"Dion? Bagaimana perjalanan kamu selama disini?" tanya Mama ana.
"Perjalanan apa?"
"Cinta lah.... Kaka udah mau nikah, pengennya Loe langsung nyusul, kalau bisa, nikah barengan." goda Adam.
"Ah... Ntar dulu lah. Gue masih mau santai, karir juga masih panjang. Santai aja." jawab Dion, dengan tenang.
Mereka baru saja bertemu, mereka asyik meluapkan rindu masing-masing. Papa farhan, Mama ana, bahkan Adam. Mereka begitu merindukan Dion.
Mama ana, selama ini memang mendidik Dion dengan tegas, karena tahu, jika Dion orang yang kuat dan tahan banting. Dan Dion, lebih bisa mengontrol diri, dibanding Adam. Karena Adam tak pernah bisa tertolak keinginanya. Semua terbiasa dituruti, karena ketika tidak, maka jantungnya akan sakit. Entah, itu memang takdir, atau hanya sebuah sugesty dihidupnya.
Kreeek! Dion membuka pintu kontrakanya. Sebuah rumah sederhana ditengah kota yang dekat dengan kampusnya. Dion lebih senang disana, karena bisa berangkat kuliah dengan bersepeda dengan para sahabatnya.
"Dion... Kenapa disini? Ngga di apartemen aja? Dion nyaman disini, Nak?" tanya Mama ana.
"Nyaman sih... Enak-enak aja, disini seger, di Apartement sumpek." jawab Adam, yang menyiapkan minuman untuk mereka.
__ADS_1
"Kan bisa cari yang besar. Uang yang mama kirim juga ngga kurang, kan?" ujar Mama ana.
"Bukan masalah Uang, Ma. Tapi masalah kenyamanan." jawab Dion, yang duduk disebelah Papanya, dan menyender manja.
"Kenapa kamu ini? Macam anak kecil saja." ucap Papa farhan pada Dion.
"Ngga papa. Kangen, setelah kalian membuangku begitu lama, akhirnya mengunjungiku, dan akan membawaku pulang." ujar Dion.
Plakkkk! Papa farhan menepuk bahu Dion dengan kemcang, hingga Diom. Meringis kesakitan.
"Sakiiit, Pa..." ucap Dion, mengelus bahunya.
"Iya, ma'af, cuma bercanda. Kalian, istirahatlah. Dion pamit dulu, mau ambil Toga. Nanti ngga kebagian pula." ucap Dion, lalu pergi.
Mama ana menjelajahi seisi rumah Dion bahkan kesudut kamarnya.
"Ngga ada foto Lara? Bukankah mereka begitu dekat?" gumam Mama ana, ketika melihat kamar Dion yang kosong.
__ADS_1
"Apakah, mereka sudah benar-benar jauh, atau bahkan bertengkar. Ah, masa bodoh, yang penting tak ada yang bisa menghalangi cinta Adam dan Lara." imbuhnya, lalu keluar dari kamar itu.
Mama ana kembali berselancar. Sekarang tujuannya adalah dapur. Ia berencana memasak makanan untuk makan malam, karena Adam tak cocok jika harus makan makanan diluar, apalagi makanan luar negri.
Berjam-jam, Mama ana uprek didapur, asyik dengan masakanya disa'at yang lain sedang istirahat tidur siang.
"Mama lagi apa?" tanya Adam, yang terbangun dari istirahatnya.
"Masak, buat makan malem. Daripada beli diluar kan. Makanan luar negri ngga cocok buat kamu." ucap Mama ana.
Adam merasa terenyuh melihatnya. Ia memang faham betul jika Mamanya memang begitu perhatian, bahkan hingga sedetail itu. Tapi, perasa'an Adam masih saja gampang tersentuh dengan perlakuan itu.
***
"Mba... Ternyata sendirian dirumah segede ini, bisa bosen juga ya? Fikirku, kalau semua lengkap, bisa enak aja gitu." ujar Lara pada Mba dewi ketika makan malam berdua.
Mba dewi hanya menjawabnya dengan senyuman. Wanita berusia Lara itu, sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini sejak dulu. Bahkan, sudah Lima tahun Ia mengabdi pada keluarga ini, sejak Ia lulus SMP.
__ADS_1
Gadis manis bertubuh mungil itu, dipekerjakan dirumah Adam sejak diangkat oleh Mama ana dari panti asuhan, lalu dibina dan disekolahkna lagi hingga sekarang sedang kuliah semester Empat dikampus yang sama dengan Lara dulu. Tapi, karena berbeda jurusan, mereka tak pernah bertemu satu sama lain.
Lara merasa cocok denganya, karena dari Mba dewi, Lara bisa dapat banyak info tentang Adam, Dion, dan keluarganya. Apalagi, usia mereka seumuran, sehingga nyambung ketika berbicara dengan topik yang mereka sama-sama sukai.