Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Adam galau


__ADS_3

Malam mulai larut, Adam sudah masuk kekamarnya untuk istirahat. Demi menjaga kesehatan jantungnya menjelang hari pernikahan, Adam libur total dari semua pekerja'anya. Bahkan, semua yang harus Ia selesaikan beberapa hari kemudian sudah Ia serahkan pada Dion sepenuhnya.


Kini Adam diharuskan banyak istirahat, menjaga fikiraan dan emosinya. Tapi sepertinya, kata-kata Sang Papa mulai mempengaruhinya. Ya, kata-kata mengenai keturunan. Adam berbaring dan menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kembali semua perkata'an itu berulang ulang.


"Apakah bisa, untuk aku memberikan keturunan untuk Lara? Bahkan mungkin, untuk memberinya nafkah batinpun, itu sulit terpuaskan. Astaga... Aku tak pernah berfikiran sampai kesana. Apakah masih ada keajaiban untuk ku nanti?" gumam Adam sendirian. Jantungnya berdesir, iramanya mendadak begitu cepat, dan Ia menenangkanya dengan menarik nafas dalam, lalu menghembuskanya kembali.


Sementara adam berusaha melelapkan matanya, Lara baru saja menyelesaikan semua tugas dapurnya. Ia merilekskan tubuhnya sebentar disofa, menarik nafas lega, hingga Dewi datang menyapanya.


"Mba Lara, ma'af, Dewi baru pulang. Abis ngerjain tugas dibantu Mas Dion tadi." ujar Dewi..

__ADS_1


"Hah, sama Dion?"


"Iya Mba... Mas Dion bantuin Dewi ngerjain skripsi biar cepet kelar." jawab Dewi. "Mana lagi yang mau dikerjain, biar Dewi selesaikan."


"Udah selesai kok, tinggal nyusun piring aja di rak. Oh iya, kalau Dewi lapar, makananya ada dilemari. Udah dipisahin tadi." tunjuk Lara.


"Iya, makasih. Nanti Dewi makan." ucapnya, seraya menyusun pirinh yang sudah dicuci bersih oleh Lara.


Langkah Lara kenbali pelan. Begitu seterusnya ketika Lara memasuki dunia kesepianya. Dunia dimana jiwanya yang lain datang dan beradu argument tentang kelangsungan hidupnya, antara perasa'an dan kenyata'an yang harus dihadapi. Dan itu semua bertentangan dengan hati.

__ADS_1


"Hari ini kamu tak pulang kemari Dion. Hari ini aku tak dapat mendengar suaramu dari dinding kamarku. Esok pagi, aku tak dapat manatapmu untuk pertama kali setelah bangun tidurku. Semangatku sedikit memudar." gumam Lara, laku merebahkan diri diatas tempat tidurnya.


"Hey, ayolah... Tinggal beberapa hari lagi. Sadar Lara, sadaaaar. Hentikan kekacauan hatimu." Lara kembali memukuli kepalanya. Dan setelah itu, Ia tertidur pulas.


Dion malam ini berkeliling menggunakan motornya, tak tahu arah yang akan Ia tuju. Pulang kerumah Ia tak ingin, ke apartemenpun Ia malas.


Langkahnya membawanya kesebuah club malam tak jauh dari Apartementnya. Dion melangkahkan kakinya masuk ke club itu. Ini bukan kali pertama Dion datang ke sebuah club, karena di Singapur Dion sering ke club yang ada disana, meskipun tak pernah menenggak minuman keras.


Dentuman suara diskotik memekakan telinga, dan Dion sempat menutupkan kedua tanganya. Tapi lama kelama'an Ia buka kembali karena suara itu setidaknya bisa mengalihkan fikiranya sejenak tentang Lara dan Adam. Dion duduk, Ia memesan minuman dengan kadar alkohol rendah. Itu semua Ia lakukan demi Adam, karena suatu hari jika terjadi sesuatu dengan Adam, maka Dion lah yang akan turun tangan. Darah, ginjal, jantung, Dion merupakan nyawa cadangan bagi Adam.

__ADS_1


Dion masih sadar hingga beberapa tegukan. Ia segera pulang ketika kepalanya mulai terasa berat, dan mulai menaiki motornya. Menjalankanya pelan hingga sampai ke apartemetnya. Tanpa mengganti pakaian, Dion langsung tidur dengan pulas, tak bermimpi, atau pun mengingat Lara lagi. Begitu tenang, dan damai.


__ADS_2