Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Melanggar Janji


__ADS_3

Hari ini, tiba sa'at dimana Lara dibawa kerumah keluarga Adam.


Adam menjemputnya, dan sebelumnya, Ia memgirim sebuah dress mewah, begitu indah berwarna hitam, lengkap dengan perhiasannya.


"Ra... Kamu akan diajak kekeluarga Adam. Itu tandanya merekapun setuju dengan Lara. Adam begitu serius, sampai langsung mengajak Lara menikah. Jangan permainkan dia." ucap Mba asni, yang membantu Lara berdandan.


"Lara ngga akan permainkan adam. Lara sayang sama Mas adam, perlahan Lara pasti akan melupakan Dion." Meskipun itu terlalu sulit dan menyakitkan.


"Baiklah, cukup tahu saja, jika hanya sebatas ini perjuangan kamu untuk Dion. Padahal Dion mati-matian menjaga hati disana."


"Mba... Bisa ngga, ngga usah bahas Dion? Ini acara Lara dengan Adam. Jangan bawa-bawa Dion." tegur Lara, dengan nada kesal.


"Cukup tahu saja, Ra. Mba permisi," ucap Mba asni, lalu pergi meninggalkan Lara dan kembali kerumahnya.


Lara diam, hanya bergeming menatap dirinya sendiri didepan meja rias yang dibelikan Adam untuknya.


"Syukuri saja, Ra. Syukuri semua yang ada dihadapanmu. Bukankah, kamu selama ini mencarinya. Selangkah lagi kalian akan bertemu, tinggal bersama. Bukan kah kamu rindu Dia? Ya, Ibumu. Ibu yang bahkan telah menganggapmu mati, atau bahkan tak pernah lahir dimuka bumi ini." ucap Lara, dengan tawa menyeringai.


"Assalamualaikum, Ra... Mas didepan." panggil Adam, yang sontak membuyarkan lamunan Lara.

__ADS_1


"Iya, Mas. Bentar," jawab Lara. Lalu Ia membawa tas beserta Hpnya, dan menemui Adam diluar.


Tap... Tap... Tap... Lara keluar dengan begitu anggun. Dengan dandanan yang natural, namun tampak begitu cantik karena memang Lara tak pernah berdandan.


Adam menatapnya tanoa berkedip, seolah sedang melihat seorang bidadari, atau bahkan malaikat didepan matanya. Jantungnya berdegup kencang, kakinya nyaris gemetar. Mungkin akan jatuh, jika Lara tak menegurnya.


"Mas..."


"Hah... Iya, Ra? Kenapa?" kaget Adam.


"Kok malah ngelamun? Kenapa?"


"Ish... Jadi selama ini, Lara jelek?"


"Eng... Engga gitu, maksudnya, sekarang beda aja, lebih cantik. Siapa yang dandanin?"


"Mba asni, Lara mana bisa." jawabnya, dengan nada yang manja.


"Yuk, berangkat." ajak Adam, dengan memberikan tanganya pada Lara, dan Lara pun menerima, lalu menggandengnya keluar rumah

__ADS_1


Adam membukakan pintu mobil BMW 330iM Sports miliknya yang berwarna biru dan begitu mewah itu. Dengan kecepatan sedang, Adam menyetirnya sendiri, membawa Sang calon permaisurinya ke istana mewah milik keluarganya.


Sesekali Adam melirik Lara yang tak bisa menyembunyikan perasa'an tegangnya, lalu menggenggam tanganya dengan erat.


"Deg-deg'an?"


"Iya," jawab Lara, lirih.


"Santai aja, kelola nafas. Mama sama Papa orangnya welcome kok, ngga terlalu bahas status sosial. Mereka juga sudah menyetujui hubungan kita, bahkan sudah mendukung penuh, jika kita akan menikah."


"Benarkah? Mereka setuju, termasuk Mama?" tanya Lara, untuk meyakinkan.


"Iyaz makanya Mas berani langsung lamar, ngga usah pakai nembak, terus pacaran. Langsung nikah aja,"


"Hmmm, gimana sama adik Mas yang diluar negri, siapa namanya?" tanya Lara, pura-pura tak tahu.


"Dion? Sebentar lagi Dia lulus kuliah, mungkin dalam bulan ini, Dia akan diwisuda. Kamu mau ikut kesana, waktu wisuda?" tanya Adam.


"Hah, engga. Lara belum pernah keluar negri, nanti takut malah ngerepotin. Mana ngga mgerti bahasa inggris, kalau ilang 'kan, Mas yang sedih." ucap Lara, menutupi kepanikanya.

__ADS_1


"Dion, kamu akan wisuda. Selamat, sesuai janjimu, yang akan selesai di Tiga Tahun kuliahmu. Tapi ma'af, aku yang melanggar janjiku untuk menunggumu." batin Lara, terisak.


__ADS_2