
Lara kembali keruangan Adam, dan orang-orang masih berkerumun didepan ruangan itu. Adam terlihat diam termenung, menundukan kepala menatap cincin berlianya dan begitu tegang saa't ini.
Lara berjalan pelan, tertawa getir membayangkan hidupnya. Antara harus, dan berat. Lara masuk kedalam kerumunan orang-orang yang menanti hasil dari lamaran itu, lalu masuk, langsung menghampiri Adam.
"Mas..." panggil Lara.
Adam mendongakkan kepalanya, dan menatap Lara dengan penuh harap.
"Lara... Kamu kembali?" ucap Adam, lalu berdiri dan kembali menghadap Lara.
Lara memberikan jarinya, dengan senyum mengembang menatap Adam, meski lain suasana dalam hatinya.
"Mana cincinya? Lara terima lamaranya." ucap Lara.
__ADS_1
Adam bernafas lega, senyumnya semakin mengembang jelas diwajahnya. Senyum manis dengan gigi kelinci itu, memancing senyum lain yang telah menunggu keputusan itu sejak tadi. Ya, semua tersenyum dan memberi tepuk tangan tanda selamat pada mereka. Kecuali Mba Asni.
Mba asni cemberut, Ia kecewa dengan keputusan Lara yang diambilnya tergesa-gesa, tanpa memikirkan Dion.
"Katanya, Hatinya hanya untuk Dion. Cinta dan hidupnya hanya untuk Dion. Kenapa justru sekarang kamu menerima Lamaran Adam? Ada apa dengan kamu, Lara?" batin Mba asni, yang lalu pergi berlari keruangan kerjanya.
Setelah semua orang pergi, Adam untuk pertama kalinya berani memeluk Lara dengan erat. Dan Lara pun membalas pelukan itu, untuk membahagiakan adam.
"Ma'af, Mas. Bukan beraksud jahat. Tapi, hanya dengan cara ini aku bisa mendekati mereka semua. Pak johan, dan Ibu, mereka semua targetku yang hanya bisa ku gapai dengan bersamamu." batin Lara.
"Mulai sekarang, Kamu ngga usah kerja lagi sebagai OB. Mas akan secepatnya mempersiapkan pernikahan kita." ucapnya dengan antusias.
"Jangan, Mas. Ngga enak sama yang lain, nanti dikiranya Lara memanfa'atkan kesempatan demi jabatan. Biarin aja dulu seperti ini, nanti dekat dengan pernikahan, baru Lara Resign. Lara masih butuh biaya kuliah soalnya."
__ADS_1
"Baiklah, Mas hargai semua keputusan Lara. Karna ,memang dari awal Mas tahu jika Lara adalah wanita yang mandiri." ucap Adam, dengan mencium tangan Lara.
"Yaudah, Lara mau pergi dulu ngelanjutin pekerja'an , ya? Dan, Lara sebenernya khawatir, bagaimana reaksi temen-temen kerja dengan semua ini. Siap-siap aja Lara dijadi'in bahan gosip." senyum Lara.
"Iya, jangan terlalu dnegarkan mereka. Mereka hanya tak bisa mendapat apa yang kamu dapat. Diamkan saja." ucap Adam.
Lara keluar dari ruanga itu dengan perasa'an hampa. Ia mengusap-usap cincin pemberian Adam, dan berada diposisi antara menyesal, dan juga penuh harap dengan tujuanya. Ia benar-benar menggantungkan nasibnya dipernikahan ini. Berharap, agar setidaknya Lara bisa dekat dan menyayangi Ibunya, atau malah membalas semua perlakuan Sang ibu padanya.
Lara seolah memiliki Dua keperibadian sekarang, karna terjebak antara rindu dan benci yang sama besar terhadap Ibunya. Disatu sisi Lara ingin mendekapnya dengan hangat, dan disisi lain Lara ingin melihatnya menangis karna penyesalan telah menelantarkanya. Dan tentang Pak johan, Lara hanya bisa mengambil alih mendekati Pak johan, hanya bila sudah berada dalam keluarga besar mereka.
"Kenapa kamu menerima lamaran Adam, bagaimana dengan Dion?" tanya Mba asni, yang mengejutkan Lara.
"Lara punya tujuan sendiri, dan Mba ngga perlu tahu itu. Dan Dion, itu akan jadi urusan Lara. Mba ngga usah ikt campur dibatas ini." jawab Lara dengan wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Mba asni hanya bisa diam, menatap Lara dengan penuh tanya. Apa yang terjadi dengan adik manisnya yang selama ini begitu baik dan bersikap tulus, yang sekarang berubah seolah menjadi wanita yang penuh dengan ambisi.
"Apa karna harta keluarga yang kaya raya ini, sehingga hatimu yang teguh itu luluh. Atau, ada sesuatu yang kamu smebunyikan rapat-rapat,?" batin Mba asni.