Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Lara dan Dion


__ADS_3

KRIIIIIIIIINGG!!!1


Suara bel berbunyi, memecah keheningan yang dirasakan mereka berdua.


"Masuk." aja Lara, yang berusaha dengan keras menghindari tatapan dari Dion.


"Baru juga mau natap." keluh Dion.


"Natap tembok? Udah, jangan mecem-macem. Nanti pulang sekolah kita mulai belajar." ujar Lara, lalu meninggalkan Dion yang masih ditempat berdirinya semula, mematung dan membisu, dengan hebusan angin lega dalam dadanya.


"Akhirnya, bisa makin deket." lirihnya.


*


Tiba dijadwal pertama, Dion mengikuti semua les yang diberikan Lara hari ini. Namun , Dion belum bisa memfokuskan dirinya. Ia sesekali mencuri pandanganya pada Lara. Dan mengumbar senyumnya pada gadis polos itu.


Tuuukkkk!!! Lara memukul kepalanya dengan pena yang Ia pegang.


"Weyyy, sakiiit...." omel Dion.


"Gaya preman sekolah, diketok pena kecil sakit. Kenapa curi-curi pandang? Fokus lah." ucap Lara.


"Baru bisa mencuri pandang, karna belum bisa mencuri hatimu." 


"Serius!"


"Serius Laraaa!"

__ADS_1


"Dion...." panggil Lara.


"Alhamduliilah, akhirnya kamu menyebut namaku ketika memanggil." 


"Iya, aku jarang meneyabut namamu. Karna apa? Karna aku tak ingin teringat dengan nama itu setiap sa'at. Apa yang kamu fikirkan, ketika melihatku dirumah makan, dengan baju lusuh, tangan keriput, dan memakan lauk sisa?" tanya Lara.


"Sakit...." jawab Dion. 


"Kamu yang melihatnya saja sakit. Bagamana aku yang merasakan? Berhentilah menyia nyiakan waktu. Setidaknya kamu beruntung, masih punya orang tua meskipun sedikit tersisih. Masih bisa makan enak, meskipun kamu tak menyukainya. Bisa keluar masuk sekolah manapun, dan bisa membeli apa saja dengan uang orang tuamu. Nasib kita berbanding begitu jauh, Dion. Kalau kamu masih mempermainkan waktuku. Ma'af,  sudahi saja." ucap Lara , lalu pergi meninggalkan Dion dengan rasa kecewanya.


"Loh, Ra... bukan maksudnya begitu, Ra. Kamu salah faham." teriak Dion, dengan berlari mengejar Lara.


Dion lalu termenung, duduk dipinggir jalan menyesali lagi kebodohanya. Kebodohan karna telah mempermainkan waktu Lara yang begitu penting baginya.


"Kejar aja dirumah makan nya. Kan ngga terlalu jauh." kata Pak satpam.


"Cari siapa lagi? cari Lara?" tanya uni evi.


"I... Iya, Lara ada?" tanya Dion.


"Lagi nyuci piring dibelakang," jawab Uni evi, dengan nada juteknya.


Dion perlahan kebelakang, mencari Lara ditempat pencucian piring. 


"Kenapa lagi?" tanya Lara.


"Ma'af, "

__ADS_1


"Lalu?"


"Janji ngga akan mengulangi lagi, dan belajar dengan baik."


"Kedua kalinya kamu bilang seperti itu." jawab Lara, tanpa menatap Dion sama sekali, dan tetap fokus pada cucianya.


"Aku janji, ngga akan ada yang ke Tiga kali."


"Lalu?" 


"Ayolah, begitu jarang bagiku mengucapkan sebuah janji."


"Mulai besok, kita belajar disini saja. Kamu lebih aman disisni, dengan Uni yang mengawasi." jawab Lara, lalu berdiri dan mulai mengangkat ember penuh piringnya.


"Biar, aku bantu?" ucap Dion.


"Ngga usah, ini berat bagimu, tapi terlalu biasa untuk aku. Pulanglah, besok kita mulai lagi belajarnya, waktu semakin dekat. Jangan mebuatnya terbuang sia-sia."


"Engga... Aku maunya sekarang, udah bilang sama Mama, kalau bakal pulang telat. Yang ada, malah makin dimarahin aku nanti." jawab Dion.


Lara kembali menghela nafas panjang, dan menuruti Sang anak didiknya itu.


Seperti yang telah disepakati, Lara mengajari Dion dirumah makan, desebuah meja kosong dipojokan. Dengan pengawasan Uni evi tentunya, sehingga membuat Dion canggung dan mau fokus dengan semua pelajaranya.


Lara mengajari Dion, semua yang ada dalam isi kepalanya, pembekalan semua materi ujian, yang ternyata sudah ketinggalan begitu jauh oleh Dion. Menemaninya belajar sambil makan, membereskan meja, bahkan ketika mencuci piringpun Dion duduk disampin Lara dengan mengerjakan beberapa tugas yang telah diberikan.


Semoga benar-benar mendapatkan hasil yang baik untuk mereka nantinya.

__ADS_1


__ADS_2