
Sebulan berlalu. Kesibukan demi kesibukan Lara jalani dengan semua aktifitasnya. Hari ini Lara akan melaksanakan ujian skripsinya, dan Ia pun sudah bersiap dengan semua perlengkapan, dan berdandan rapu dengan kemeja putih dan rok hitamnya.
"Mas, Lara pamit mau ujian dulu." telepon Lara pada Adam.
"Sekarang? Kok baru ngabarin, mendadak pula? Mas ngga bisa nemenin." ucap Adam.
"Ngga papa, cuma sidang. Yang penting, pas wisuda Mas temenin." jawab Lara.
"Oke... Hati-hati ya sayang, do'a Mas selalu untuk Lara. Sukses selalu...." pesan Adam padanya.
Lara lalu menaiki motornya, dan berjalan santai menuju kampus, dengan hati yang resah, dan gundah gulana. Tapi Lara tetap optimis, terlebih lagi, Ia sudah mempergunakan waktu belajarnya dengan baik.
Sesampainya dikampus, Lara langsung menuju ruangan, dan duduk bersama beberapa rekan yang menunggu antrian sidang. Sembari mengecek lagi semua peralatan, bibir Lara komat-kamit, mengulang kembali semua hafalan yang ada dikepalanya.
"Lara?" tegur salah seorang rekan.
"Iya?" jawab Lara.
"Kamu ujian juga? Bisa ya, seorang OB, nenyelesaikan tugas tepat waktu." ucap orang itu dengan nada menghina.
__ADS_1
"He'eh, saya memang OB. Tapi, saya bisa mengatur waktu dan otak saya." jawab Lara dengan tenang.
"Ngapain lanjut kuliah, kan udah ada kerja'an. Pertahanin kerja'anya jadi OB. Daripada ntar repot cari kerja lagi."
"Abis lulus, saya ngga perlu kerja. Saya hanya diam dan jadi ibu rumah tangga. Dan kebutuhan saya tercukupi." jawab Lara.
"Makanya ngga usah kuliah, kalo cuma mau jadi Ibu Rumah tangga. Sia-sia itu ilmunya ngga kepake. Kuliah pontang panting, ngabisin duit orang tua."
"Ma'af, saya yatim piatu. Kuliah dengan biaga sendiri, dan beasiswa yang saya raih. Jadi bukan karena ngabisin duit orang tua, dan ngabisin duit kamu. Jadi kamu ngga berhak banyak bicara tentang saya." jawab Lara.
Orang tadi hanya bisa mendengus kesal, dan merencanakan sesuatu untuk menghina Lara lagi. Karena menurutnya, Lara itu kampungan, dan tak pantas lulus dengan prestasi baik.
Lara tak mengindahkannya, hanya fokus dengan ujianya, karena setelah ini. Ia akan masuk dan melaksanakan tugas akhirnya.
Salam perkenalan diri, dan perkenalan materi Ia ucapkan dengan lantang dan penuh keyakinan. Lalu, dengan perlahan Ia membuka materi, dan mulai menjelaskan perBab yang Ia tulis, berikut keteranganya.
Sementara itu, Adam dikantor ikut merasakan kecemasan Lara. Ia menghentikan semua aktifitasnya sejenak, setelah rapatnya berakhir, lalu memanggil sekretarisnya untuk memesan bucket bunga besar untuk Lara.
"Fitri, segera siapkan bucket bunga bserta ucapanya untuk Lara. Dan kita kesana, untuk memberinya ucapan selamat. Dengan kepintaran diatas rata-rata seperti Lara, mana mungkin tak lulus bukan?" ucap Adam.
__ADS_1
Sang sektetaris pun menurutinya, lalu memesan sesuai yang diminta. Mereka langsung menuju mobil dan menuju kampus Lara, dan tak lupa mengambil bucket bunga itu.
***
Mobil mewah Ia parkir diparkiran kampus, dan sontak membuat mata yang memandang berdecak kagum dan menatapnya takjub. Tapi itu bukan tujuan Adam. Ia fokus pada Lara dan bertanya dimana ruanganya sekarang.
"Kenapa Mas?" tanya orang yang menghina Lara tadi.
"Saya, cari calon istri saya yang lagi ujian. Apakah sudah masuk?" tanya Adam.
"Calon istri? Tidak ada, karena yang ada didalam sana, adalah seorang OB. Jadi calon istri anda tidak disini." jawabnya.
"Yang kamu bilang OB itu, adalah Calon istri saya." ucap Adam, yang menatap orang tersebut dengan senyuman devilnya.
Kreeeek....! Lara keluar dari ruangan.
"Sayang.... Bagaimana?" tanya Adam.
"Loh, Mas kenapa kemari? Katanya sibuk?" tanya Lara yang terkejut.
__ADS_1
"Demi kamu, apa yang tidak." ucap. Adam, dengan memberi bucket bunga beserta ucapan selamat itu.
Lara dengan hati gembira menerimanya, karena memang sesuai dengan prediksi Adam, jika Lara lulus dengan nilai terbaik.