
"Begitu sayang dan cinta nya, Mama pada Mas adam. Hingga demi melindunginya, harus mempertaruhkan hati Dion. Aaaah, sudahlah, aku pun melakukanya sekarang. Kami sama-sama jahat, karena mengorbankan Dion demi ambisi masing-masing." batin Lara.
"Tapi, besok wisuda Dion, semuanya datang, bukan?" tanya Lara
"Iya, setidaknya... Hari kebahagia'an Dion kali ini, kami juga harus bahagia. Adam meminta kamu datang?" tanya Mama ana.
"Iya, tapi Lara menolak."
"Bagus... Berarti kamu dan Dion tak akan bertemu. Kamu dirumah, persiapkan pernikahan sebaik-baiknya." ucap Mama ana, dan Lara hanya mengangguk, meng'iyakan perintahnya.
Hari demi hari berlalu. Kini tiba sa'atnya keluarga Adam pergi ke singapur untuk menghadiri wisuda Dion. Mereka datang Dua hari lebih cepat, agar tak terburu-buru nantinya.
"Lara... Kami. Pergi dulu, pesan Mama jangan lupa dilaksanakan. Semprot parfum Dion dikamarnya agar selalu terjaga wangi. Dan... Jangan mengobrak abrik kamar Dion." bisik Mama ana.
"Iya, Ma. Kalian hati-hati disana. Mas, kalau udah nyampe, kabari Lara, ya?" ucap Lara, dengan manja.
"Pasti... Pasti akan Mas kabari secepatnya. Lara baik-baik dirumah. Kalau mau belanja, pergi aja nggapapa, Credit Card Mas kan udah sama Lara. Mas cuma Tiga hari disana." ucap Adam, dengan mengecup kening Lara.
__ADS_1
Lara melambaikan tangan, ketika mereka pergi dengan mobil yang disetir Pak johan. Ia merasa bebas, lega, dan damai, meski Iapun tak pernah merasa terkekang dirumah itu.
Lara berlari-lari, dan berputar mengelilingi rumah. Memeluk foto Dion yang begitu tampan dipajang diruang tengah rumah itu.
"Aku bisa bersamamu sekarang. Berdua, aku menyukai itu." ucap Lara.
Lara sengaja menyambangi kamar Dion, Ia tidur disana beberapa lama. Tidur dengan begitu tenang dan damai.
"Mba... Kok tidur disini?" tegur Dewi.
"Oh, Mba dewi. Ma'af, seneng aja sama harumnya. Soalnya Mama nyuruh, jangan lupa semprotin parfum terus." jawab Lara.
"Dion... Langsung pulang?" tanya Lara.
"Iya, kabarnya langsung dibawa pulang. Syukur-syukur, mau tinggal disini." jawab Dewi.
"Kok, gitu?"
__ADS_1
"Iya... Dulu Mas Dion pernah bilang. Sepulang dari Singapure, mau langsung tinggal di apartement, bahkan udah rencana mau nikah sama pacarnya, dan ngajak tinggal disana." ujar Dewi.
"Lagi-lagi, semua karena aku. Ooooh, Dioooon, kamu membuatku galau." batin Lara, yang terus bergumam, seolah menyesali keada'anya.
"Yaudah, saya balik kekamar, ya. Lagi haid hari pertama, bawa'anya lemes." ucap Lara pad Dewi.
Lara sedang asyik dengan kesendirianya disana, menari-nari dalam khayalan dan obsesinya. Srmentara itu, Adam dan keluarganya sudah sampai di Bandara Singapore, dan mencari-cari Dion disana.
"Kak!" teriak seorang Pria bertubuh tegap, tinggi, dan berotot yaitu, Dion.
"Weh... Dion! Keren sekali kamu. Rajin ngeGym kah disini?" goda Adam, dengan memegangi ototnya.
Dion hanya tersenyum, dan mencium tangan kedua orang tuanya. Seraya celingukan, mencari Lara yang disangkanya akan ikut kemanapun mereka pergi.
"Mana calonmu? Ngga ikut?" tanya Dion.
"Ngga mau, takut nyasar. Kenapa? Penasaran ya?" tanya Adam.
__ADS_1
"Hehe... Iya," jawab Dion. Aku hanya penasaran, bagaiman reaksinya ketika melihatku.
"Yasudah... Kita langsung kekontrakanku saja. Kalian pasti lelah. Apalagi, besok acaraku pagi." ajak Dion, lalu membantu membawakan tas Papa dan Mamanya.