
Lara terus menatap Pria itu, ingin mendekatinya, dan memgajukna beberapa pertanya'an. Namun, langkahnya terhenti.
"Tidak... Jangan sekarang. Yang penting, ada titik terang tentang keberada'anya. Cukup dengan aku terus bersama Dion, maka aku akan bisa menemuinya lagi. Aku akan menemui Ibu, dengan keada'an ku, yang membanggakan. Ibu akan bangga kepadaku, itu pasti." batin Lara, penuh harap.
"Ra... Aku pamit dulu, besok aku jemput diruko, dan bawa kamu ke kosan baru kamu, lalu ke kantor untuk memperkenalkan diri ke Papa, oke?"
"Iya... Ditunggu besok, ya. Aku mau beres-beres dulu." jawab Lara.
Mereka kembali kerumah masing-masing. Lara mulai membereskan pakaianya dengan rapi. Ya, karna pakaianya pun tak banyak, hanya beberapa lembar dan itu pun sudah usang.
"Ra, udah siap-siap?" tanya Unu evi.
"Sudah, Ni. Lara besok pamit, ya. Sebelum pergi, pasti Lara beresin semuanya." ucap Lara.
Uni evi merasa perih dalam hatinya, persis seperti yang dirasakan Uni ema dulu. Ia datang lalu memeluk Lara erat, dan menangisinya.
"Lara, baik-baik disana. Kerja dan kuliah yang pinter, kami semua bangga denganmu. Fokus sama tujuanmu, Nak. Jangan sampai, semuanya hancur ditengah jalan. Ingat, Lara baru saja memulainya."
"Iya, Uni, Lara faham. Terimakasih karna sudah mau menampung Lara dengan baik disini. Do'akan, Lara bisa ketemu Ibu secepatnya."
"Masih itu, tujuan terbesar Lara?" tanya Uni.
"Itu... Salah satu tujuan terbesar Lara, Ni."
__ADS_1
"Iya, pergi lah sayang." Tapi, Uni takut jika kekecewa'anlah, yang kamu dapat setelah bertemu dengan Ibumu, Nak.
"Ikut Uni lah, Uni mau belikan sesutu untuk Lara." ajak Uni evi.
"Apa?"
"Ada 'lah, ikut saja. Kita pakai motir Uni saja biar lebih cepat." ajaknya.
Lara meng' iyakan, lalu bersiap mengikuti Uni evi yang ternyata mengajaknya berbelanja beberapa pakaian Baru. Lara begitu senang, namun sedih dan terharu. Ternyata Uni evi pun begitu menyayanginya selayaknya anak kandungnya sendiri.
"Ni....?"
"Iya sayang?"
"Iya, anggap saja ini sebagai gaji Lara dari Uni. Itu, uang dari Uni ema. Katanya digabung dengan uang hasil kontrak rumah Nenek bulan ini."
Lara dengan begitu bahagia menerimanya, terucap rasa syukur yang terus menerus dari bibir manis dengan lesung pipit itu.
Ke'esokan harinya seperti rencana, Dion menjemput Lara.
"Ra, udah siap?" tanya Dion, yang datang menggunakan mobil Toyota Yaris putih miliknya.
"Udah, kok bawa mobil?" tanya Lara.
__ADS_1
"Kan mau angkut barang, masa pakai motor?" ucap Dion.
"Oh, iya, Lara lupa. Tapi, barang ku ngga banyak, cuma ini." ucap Lara, menunjukan Dua buah tas miliknya.
"Hanya ini?" Dion menekankan.
"Iya, aku ngga punya apa-apa soalnya. Sepedapun punya Uda, Aku cuma pinjem buat bolak balik kesekolah."
Dion kembali menatapnya nanar, ingin rasanya membelikan semua keperluan Lara untuk dikamar kost barunya nanti, tapi Lara pasti menolaknya.
"Kita mau kekost baru 'kan? Temenin beli perlengkapan, yuk? Ada uang sedikit soalnya. Buat beli kompor, piring, sama galon. Jadilah, yang penting ada isinya."
"Lemari ngga perlu?" tanya Dion.
"Lara ngga punya duitnya lah, udah itu aja cukup. Adapun sedikit, tapi buat biaya beberapa bulan. Kan kerja juga masih butuh training."
"Tapi, kalau untuk awal ini, kerja jadi OB ngga papa? Ma'af, belum bisa kasih posisi yang lain." sesal Dion.
"Itu aja udah bersyukur, Dion. Udah bisa kerja dibantu kamu, sambil kuliah, kuliahnya pun dibiayain. Aku kurang bersyukur apalagi coba?" ucap Lara.
Dion menyunggingkan senyumnya, dan membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Lara masuk bak cinderela dengan pangeranya.
"Aku harus memberikan Lara sesuatu hari ini. Mana mungkin, Ia tinggal dikost dengan alat seadanya, bahkan begitu minim perlengkapan."
__ADS_1