Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Sang Nyonya


__ADS_3

Lima belas menit dalam perjalanan penuh ketegangan. Lara perlahan melepas genggaman Adam, dan Adam mulai diturunkan dari ambulance untuk mendapat perawatan di IGD.


Lara duduk, menunggu semua pemeriksa'an dengan perasa'an cemas, selagi dokter memeriksa kondisi adam didalam.


Tap... Tap.. Tap..!


Suara langkah berjalan cepat, menghampiri Lara. Seorang wanita paruh baya yang begitu anggun dengan dandanan natural, tapi maosh begitu cantik.


"Dimana adam?" tanya nya pada Lara.


"Di... Dalam, Nyonya." jawab Lara.


"Kamu yang menolongnya?"


"Iya, kebetulan saya sedang membersihkan ruangan disamping ruangan Pak adam."


"Baik, terimakasih. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana. Saya masih ada perlu dengan kamu."


"Baik... Nyonya." angguk Lara.


***


"Dokter, bagaimana keada'an anak saya."


"Dia tertidur sejenak karna pengaruh obat. Untung saja, lekas diberikan pertolongan pertama, sehingga hanya butuh tindakan lanjutan ketika sampai disini." jawab dokter.


"Harus dirawat?"

__ADS_1


"Semalam saja, hanya untuk observasi. Besok boleh pulang, saya permisi dulu." jawab Dokter.


"Ma...." panggil adam.


"Iya, sayang. Kamu kenapa bisa begini?"


"Mungkin kelelahan, Lara mana?"


"Hmmm? Gadis itu namanya Lara? Dia diluar, mau ketemu?"


"Iya," jawab adam, menganggukan kepalanya.


Nyonya Ana memanggil Lara masuk kedalam, dan mengikutinya dari belakang.


"Ra...."


"Terimakasih, sudah membantu saya."


"Iya, itu sudah kewajiban saya." ucap Lara.


Perawat mengambil alih adam, dan mulai membawanya keruang perawatan. Lara membalikan tubuhnya, Ia akan pulang kerumah karna hari mulai malam.


"Lara, ini ucapan terimakasih saya buat kamu. Ambil," ucap Nyonya ana, dengan memberikan sebuh amplop.


"Apa ini, Nyonya?"


"Imbalan, lumayan buat ongkos lelah kamu menemani adam sampai kemari."

__ADS_1


"Ma'af, saya menolong atas dasar kemanusia'an. Bukan karna mengharap imbalan." jawab Lara.


"Udah, ngga usah munafik. Kamu butuh kan? Apalagi, kamu kerja sambil kuliah, pasti butuh banyak biaya." ucap Nyonya anak, dengan nada halus, tapi menusuk.


Lara menolak dan mengembalikanya, namun terus dipaksa menerima, hingga tas lengan Nyonya ana jatuh.


"Kamu, jatuhin tas saya, ngga sopan." omelnya.


"Ma, ma'af Nyonya, saya ngga sengaja." ucap Lara, lalu dengan sigap membereskan isi tas yang berserakan itu, dan tak sengaja membaca sebuah KTP yang Ia temukan.


"Ana Pertiwi Lestari?" lirihnya.


"Kembalikan KTP saya, pakai lihat-lihat segala." tegur Nyonya Ana.


Lara bergeming, Lara semakin dalam menatap foto yang ada diKTP tersebut. Jantungnya berdetak hebat, kaki dan tanganya gemetar. Air matanya seolah ingin membanjiri pipi, namun Ia masih bisa menahanya.


Nyonya Ana lalu merebutnya dengan kasar, dan berlalu pergi meninggalkan Lara yang masih diam, merenung sendirian.


"Apakah benar Dia itu? Tapi, kenapa bisa menjadi Ibu dion dan Mas adam, kenapa semua jadi begini?" gumam Lara, yang masih bertanya-tanya dalam hatinya.


Ia kemudian berlari keluar Rumah Sakit, menghentikan angkot yang lewat dipersimpangan jalan. Lalu, pergi untuk kembali kerumhnya.


Sepanjang jalan Ia menggigiti jarinya,. Antara cemas, terkejut, namun perasa'anya pun begitu sedih bercampur aduk dengan bahagia, bahwasanya, orang yang Ia cari selama ini sudah ada didepan mata. Ia tak harus kemana-mana lagi untuk mencarinya.


Lara berhenti di depan gang, membayar angkot lalu berlari menuju kerumahnya. Dibukanya lemari dan sebuah kotak peninggalan Sang nenek untuknya, yang berisi fotonya bersama Sang Ibu yang ternyata begiti mirip dengan Nyonya Ana.


"Satu orang... Satu orang dengan panggilan berbeda. Pantas aku tak menyadarinya selama ini. Penampilanya pun begitu berbeda, ya Dia lah yang menghampiriku dan memberikan cek itu. Dia memang sempat bilang, kalau sudsh terlanjur menganggapku tak ada. Tapi kenapa harus menjadi Ibu Dion.... Kenapa...!" ucap Lara yang begitu kalut, dengan air mata yang sudah menganak sungai.

__ADS_1


__ADS_2