
"Sayang..." panggil Adam pada Lara yang sedang asyik memandangi bucket bunganya.
"Iya, Mas?"
"Dua hari lagi, Mas mau ke singapur buat wisuda Dion, kamu ikut?"
Lara tercengang, dan memberi respon bingung pada pertanya'an Adam.
"Hmmm, Lara bingung Mas. Lara ngga pernah keluar negri. Takutnya, nanti malah Lara nyasar, terus jadi perusak acara disana." ucap Lara, mencari alasan.
"Hmmm... Kan, ada Mas. Tapi, Mas ngga mau maksa deh. Lara dirumah aja, perawatan. Setelah itu, Dua minggu lagi kita menikah. Papa dan Mama sudah urus semuanya. Menjelang pernikahan, Lara tinggal dirumah Mas. Jadi gampang langsung kepesta." ujar Adam, dengan penuh antusias.
"Ngga papa, Lara tinggal dirumah?"
"Kan, Mama yang minta. Ngga papa lah."
"Dion gimana? Ngga enaknya sama Dia nanti."
"Aman... Santai aja, calon Kakak ipar kan, ngga papa lah. Nanti juga bakalan tinggal serumah." jawab Adam.
Lara menunduk, terfikirkan lagi Dion dalam otak dan hatinya. Dion belum bisa menghilang sepenuhnya, hingga membuat Lara perih meskipun hanya mendengar namanya.
__ADS_1
Mereka sedang makan bersama dikantin kampus sekarang, menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan yang lainya disana. Hampir semua orang tahu siapa Adam, karena perusaha'anya menjadi salah satu penyumbang terbesar diyayasan Universitas itu, bahkan tak segan ketika seorang Dosen senior menyapa dan menundukan kepalanya ketika melihat Adam.
Hp Adam berbunyi, dan dengan cepat Ia mengangkatnya.
"Hallo, Ma? Kenapa?" tanya Adam pada Mamanya.
"Adam dimana? Kok ngga ada dikantor?"
"Lagi nemenin Lara ujian, Ma. Tapi udah selesai."
"Bagaimana nilainya? Baik?"
"Yasudah... Langsung bawa saja pindah kerumah. Ngga perlu mengulur waktu. Lagian, Lara ngga ada kerja'an dirumahnya." ujar Mama ana.
Lara mendengarkan percakapan tersebut, karena Adam meloundspeaker Hpnya. Lalu Lara mengerenyitkan dahinya.
"Apa maksudnya aku ngga ada kerja'an?" fikirnya.
"Iya, Ma. Nanti Adam rundingin sama Lara dulu." jawab Adam.
"Baiklah, Mama akan persiapkan kamar untuk Lara. Semoga Lara mau langsung kemari. Salam buat Dia ya?" ucap Mama ana, lalu mematikan teleponya.
__ADS_1
"Tuh, kan... Mama malah minta Lara tinggal dirumah sekarang." ucap Adam pada Lara.
"Tapi Mas. Ngga enak, kan belum nikah. Nanti kalau, diem-diem~"
"Apa?" potong Adam. "Mas juga ngga akan berani macem-macem sama Lara. Mau cium aja, karena memang sepi. Lagian, kata Mama. Nanti Lara dikamar yang deket kamar Dion."
"Hah? Kok disana?" tanya Lara kaget.
"Iya. Supaya Mas ngga berani ndeket kesana." jawab Adam, dengan santainya.
"Mas bisa bilang begitu. Tapi, bagaimana dengan perasa'an kami. Ah, masih pantaskah aku bilang tentang perasa'an? Setidaknya aku masuk kesana sekarang." batin Lara.
"Yudah, Lara setuju. Tapi, besok ya. Lara mau beres-beres dulu, sama pamitan ke Mba asni."
"Iya, sayang. Yaudah, Mas pamit dulu ya. Masih ada kerja'an dikantor. Lara baik-baik, nanti pulang kerja, Mas mampir kekontrakan." ujar Adam, seraya mengusap rambut Lara.
Ingin rasa mengecup keningnya, namun Ia tahan karena suasana sedang ramai. Adampun bergegas kembali kemobilnya, karena Sang sekretaris sudah menunggunya.
Selepas kepergian Adam, Lara kembali melamun, melamunkan semua yang terjadi dalam hidupnya. Baginya, sampai dititik seperti ini itu begitu sulit, dan semua juga berkat Dion. Dia yang berani meminta dan Membawa Lara keluar dari Zona nyaman. Dion lah yang merubah kehidupan Lara hingga sekarang.
"Andaikan tak diblokir. Setidaknya aku bisa mengucapkan terimakasih padanya." gumam Lara, dengen menyeruput minumanya dengan santai.
__ADS_1