
***
"Mas...?" panggil Lara pada Adam.
"Ya sayang, kenapa?"
"Seberapa dekat, Mas dengan Dion?" tanya Lara, meskipun sebenarnya Ia sudah mengetahui jawabanya.
"Deket, meskipun ngga terlalu deket banget, tapi kami jug atak terlalu berjauhan. Kami saling perduli meskipun diam. Dion sempat menganggap, jika dirinya dianak tirikan dalam keluarga. Makanya Ia sempat menjauh, dan seolah memberontak." jawab Adam.
"Ya... Aku tahu itu, karena selama pemberontakanya, akulah yang selalu disampingnya." batin Lara.
"Sering curhat-curhatan?" tanya Lara.
"Sering," jawab Adam.
"Mas... Jangan terlalu terbuka kalau lagi curhat, apalagi kejadian dikantor ketika Mas cium bibir Lara. Lara bisa malu nanti kalau ketemu Dia."
"Hahahahha, malu ya? Okelah, Mas akan jaga rahasia itu untuk kita berdua saja. Tapi, Lara ngga marah kan?" tanya Adam, diselingi tawanya.
"Ya, gimana lagi, udah terlanjur." ucap Lara, dengan pipi memerah, dan menundukan kepalanya.
__ADS_1
Adam hanya tersenyum dan mengusap rambut Lara, dan memainkan poni selamat datangnya.
Tiba dirumah Lara, Adam turun membukakan pintu untuknya, dan menurunkan semua belanja'an Lara, laku membawanya masuk.
"Mas langsung, ya? Ngga mampir, nanti malah makin gemes sama Lara, bisa bahaya." ucap Adam, menggoda.
"Hah? Gimana?" tanya Lara.
"Engga... Buka poni selamat datangnya." pinta Adam pada Lara, lalu Lara pun menurutinya.
"Kenapa minta buka poni?....."
"Ngga papa, jidatnya jangan sering dibuka. Jidat jenongnya cuma buat Mas." goda Adam lagi.
Lara hanya menatapnya dengan heran, tak tahu harus melakukan apa. Hati, dan tubuhnya kembali bergetar, seolah semakin tak terkendali.
"Mas berangkat, ya? Assalamualaikum." pamit Adam, yang dibalas lirih oleh Lara.
"Wa'alaikum salam."
Sepeninggal Adam, Lara menghempaskan tubuhnya ketempat tidur kerasnya. Menyakitkan pagi pinggangnya, namun hanya itu yang Ia punya.
__ADS_1
Matanya kembali terpejam, kosong dalam fikiranya, tak senang, juga tak sedih. Mengambang, dan seolah melayang-layang tanpa arah dan tujuan.
"Mau ngapain aku, main? Belajar? Temen ngga punya, juga. Masa iya ngeluyur ngga jelas." gerutunya.
Lara meraih Hp yang diberikan Dion dalam laci kamarnya, lalu membuka kembali semua memori lama itu, karena Lara tak akan bisa lagi mengetahui setiap gerak gerik Dion dari sana.
Lara mengsecrol semua foto lama mereka, ketika masih sama-sama busa mengumbar tawa lepas, bebas, dan tanpa tekanan seperti sa'at ini.
"Aku hanya belum terbiasa. Ayolah hati, lupakan Dion. Dion pun sudah melupakanmu bukan? Lalu apalagi yang akan kau kejar." kembali Lara berbicara pada diri sendiri.
Aaaarrrrrrrghhh! Braaaaaaak!!
Lara membanting Hp itu hingga hancur ke tembok rumahnya, hatinya kembali sakit. Tapi itu hasil perbuatan dari ambisinya sendiri.
Lara tak menengok lagi keada'an Hp tersebut, Lara hanya diam menghela nafas panjang, lalu bulir-bulir air mata mengalir kepipinya.
"Apa harus begini? Terasa lega, ketika aku membuang sebuah kenangan paling berarti baginya. Apakah, aku harus membuang yang lain juga, dan menggantinya dengan semua pemberian Mas adam? Agar tak sedikitpun lagi, aku akan mengingatnya?" tanya nya, pada diri sendiri.
Lara kemudian berdiri, dan membereskan apa yang ada dalam fikiranya. Ia membersihkan seluruh. Kamar, dan hatinya, agar tenang tanpa bayang-bayang Dion. Bingkai foto, boneka, bahkan semua perabotan yang diberikan oleh Dion untuknya, ketika pertama kali pingdah kekontrakan itu. Lara menbwanya, dan mengumpulkanta dihalaman belakang, lalu membakarnya hingga hangus tak bersisa.
"Selamat jalan Dion, semoga bahuku akan semakin ringan setelah membuang semua ini." ucap Lara, yang sedikit lega.
__ADS_1