Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Mengenal Adam


__ADS_3

Lara kembali dengan segudang aktifitasnya. Bagi Lara yang memang hidupnya keras, semua pekerja'an ini tak seberapa. Ia biasa melakukan semuanya, bahkan lebih berat dari itu.


Di waktu makan siang, Lara mulai berjibaku dengan semua pesanan dari karyawan yang ada disana. Karna Lara anak baru, Lara mencatat semua pesanan itu dikertas agar tak lupa bagaimana requestnya.


"Hey, OB baru. Jangan salah sama pesenan gue. Kalau salah, abis loe ama gue ntar." ucap salah seorang staf.


Lara meng'iyakan, dan mulai mencari pesananya, nasi padang yang semua isinya dibuat terpisah. Bukan sulit, tapi sedikit merepotkan pemilik rumah makan, karna itu menambah banyak pekerja'an dan perbungkusan.


"Seuprit-seuprit lah, kenapa ngga dicampur saja biar enak."


"Perminta'anya begitu, Da. Saya hanya mencari pesanan."


"Aaah, repot." omel pemilik kedai.


Setelah menerima pesanan itu, Lara segera kembali kekantor.


"Ini, Kak. Pesananya," ucap Lara, sembari mengusap peluh dikeningnya.


"Eh, jorok banget sih loe. Ngelap keringet didepan gue, mana bawa makanan lagi. Ngga sopan, jangan-jangan ini makanan kotor lagi." omelnya.

__ADS_1


"Engga Kak, ini bersih. Kan kakak sendiri yang minta semuanya dipisah. Yang bungkus juga bukan saya." jawab Lara dengan sedihnya.


"Alesan, ngga mau nerima gue. Makan aja tuh sendiri, lagian duit juga duit loe." balasnya.


Lara kembali mengambil bungkusan nasi itu dengan perasa'an sakit dihatinya, namun tetap mencoba sabar, dengan kembali menghela nafas panjang.


"Bisa buat makan sore nanti. Lauknya dipisah kan, jadi aman." gumamnya.


"Ada apa ini?" tanya Adam, yang tiba-tiba datang.


"Eh, Pak adam. Ini, OB baru kerja'anya ngga bener." jawab Staf itu.


"Gimana?" tanya Adam.


"Hah? Pesenan udah bener, Pak. Hanya karna saya kelelahan, ngelap keringat sedikit, lantas Beliau ngga mau menerima pesananya." sahut Lara.


Staf yang bernama Fira itu melebarkan matanya kearah Lara, seolah ingin mencengkramnya dengan kukunya yang tajam. Lara hanya menunduk, sebenarnya takut, namun ternyata Adam membelanya.


"Fira, kenapa tak menghargai pekerja'an orang? Dia baru, seharuanya kamu ajari, bukan kamu Bully. Kamu terima, atau saya akan menghukum kamu, tidak boleh memesan makanan lewat OB saya. Pergi sendiri jika mau makan." ujar Adam.

__ADS_1


Fira lalu tersentak kaget dengan peringatan itu. Lalu mengambil kembali bungkusan nasi ditangan Lara secara kasar, dan membyar uang belanjanya dengan tatapan penuh dendam.


"Terimakasih, Pak." ucap Lara.


Adam mengangguk, dan meninggalkan Lara, lalu Lara pun kembali ke ruanganya untuk makan siang.


"Ganteng, mapan, tegas, berkarisma. Kurang apalagi? Hanya butuh kesadaran diriku, agar tak terlalu mengaguminya. Dion saja sudah ku hindari sedemikian rupa, apalagi Pak Adam, lebih dari mustahil." gumam Lara.


Adam memang begitu tampan dan berkarismatik. Mungkin karna memang usianya lebih dewasa daripada Dion adiknya, atau hanya menjaga emosinya, karna penyakit jantung yang Ia derita.


Di usianya yang sudah lumayan matang, Dion masih menyandang predikat jomblo. Bukan karna tak ingin menikah, tapi beberapa wanita enggan mengambil resiko untuk menikahinya, karna hanya menjadi beban hidup, meskipun Ia kaya raya.


"Pssst, Ra. Lagi makan?" goda Dion, dari balik pintu.


"Iya, lumayan dapet bonus gado-gado karna order banyak tadi." jawab Lara.


"Bisa ngobrol?"


"Ngobrolnya nanti aja, kalau udah pulang. Aku males, kalau nanti jadi bahan pembicara'an. Inget, ini kantor, dan aku orang baru disini." ucap Lara.

__ADS_1


"Hmm, tumben ngomongnya panjang lebar. Yaudah, nanti pulang. Kita ketemuan ya, dhaaaaaaa." lambai Dion padanya.


"Hhh, konyol. Tapi, kenapa begitu nyaman denganya." gumam Lara lagi.


__ADS_2