
Hari itu tiba. Hari dimana Dion memakai Toga nya dengan begitu tampan, dan gagahnya. Semua memandangnya takjub, karena tak disangka-sangka, jika Anak nakal dan bandel itu bisa memenuhi janjinya untuk lulus dengan cepat dan dengaj nilai yang baik.
Mereka berjalam bersama menuju kampus Dion yang berada tak jauh dari rumah kontrakanya disana. Mama ana tak kalah anggunya dengan menggunakan kebaya wara merah maroon, dan sanggul yang rapi. Dandanan natural, dengan lipstik senada dengan warna kebayanya, sungguh anggun berciri khas Indonesia. Sedang Adam dan Papa farhan, menggunakan setelah dengan kemeja hitam, sungguh kompak.
Tiba digedung kampus Dion, mereka memasuki ruangan yang telah disediakan. Dion duduk sesuai dengan nomor urutan, dan kali inu Ia berada diurutan terdepan karena mendapat nilai Cumlaude dikampusnya. Sungguh prestasi yang membanggakan untuknya. Andai saja, hubunganmya dengan Lara masih seperti dulu, pasti Ia akan lebih bahagia sa'at ini.
Acara dimulai, dari petmbuka'an, kata sambutan, semua berlangsung kidmat. Hingga sa'atnya pemanggilan para Wisudawan dan Wisudawati sesuai urutan dan Prestasi akademik mereka masing-masing.
Tiba ketika nama Dion dipanggil dengan semua prestasinya, Mama ana, Adam, dan Papa farhan menatapnya dengan bangga, hingga berurai airmata. Menatap Bangga pada Dion.
Dion menyampaikan beberapa kata sambutanya dengan menggunakan bahasa inggris secara fasih. Satu persatu orang yang berarti dalam hidupnya, Ia sebutkan dengan penuh rasa terimakasih, kecuali Lara. Nama Lara Ia skip dari ucapanya, namun tersebut dalam hatinya yang terdalam.
__ADS_1
"Terimakasih juga, buat Lara. Lara yang sempat memberi semangat dihidupku. Lara yang sempat menjadi semangat untuk masa depanku, meski harus berakhir seperti ini. Terimakasih Lara, aku tak berhak lagi memimpikanmu, dan berusaha membahagiakanmu. Tugas itu sudah berpindah tangan sekarang. Sekali lagi, TERIMAKASIH. "
Dion memberikan senyum kepada semuanya, lalu menundukan kepalanya tanda hormat pada mereka yang telah menemaninya berjuang selama di Singapur. Susah, senang, sudah mereka jalani bersama. Bahkan, ketika Dion frustasi pun, mereka yang selalu memberi semangat Dion untuk kembali bangkit. Dion beryukur memiliki mereka.
Acara demi acara selesai. Mereka membubarkan diri dari ruangan, dan menuju tempat ternyaman masing-masing. Rata-rata dari mereka menghampir taman besar dikampus itu, dan berfoto dengan keluarga masing-masing. Begitu juga Dion daj keluarganya. Bahkan, Dion menyewa seorang fotografer untuk memotret moment mereka bersama agar semakin berkesan.
Adam meminta Sang fotografer untuk memotret dengan Hpnya, lalu mengirimkanya pada Lara dirumah, agar Lara bisa melihat moment mbahagiakan tersebut. Ya, Lara menerima foto itu, membukanya, dan menatapnya dengan deraian air mata yang mengalir membasahi pipi.
Tak berapa lama kemudian, Adam menelpon ke Lara.
"Hallo, sayang? Udah nerima fotonya?" tanya Adam.
__ADS_1
"Udah Mas... Lara turut bahagia dengan kelulusan Dion. Selamat, ya." ucap Lara, menahan hatinya.
"Mau ngomong sama Dion? Ucapin selamat sendiri, ya?" balas Adam.
"Hah? Engga, Mas.... Ngga usah......." ucapan Lara terpotong dengan suara yang lain.
"Hallo?"
Deg.... Jantung Lara berdebar begitu cepat, hingga tak terkontrol. Ia bingung, apa yang harus dijawab dan dikatakan ditelepon itu. Suara itu menyesakan dada, sekian lama Lara tak mendengarnya, tapi sekarang hadir lagi suara merdu itu ditelinganya.
"Dion....." lirih Lara.
__ADS_1