
Bebas, dan begitu lega. Itulah perasaan Lara yang kini telah berpindah di kamar lamanya. Bebas dari hembusan nafas Adam yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya. Bebas dari semua yang terasa menghimpit tubuhnya ketika ingin tidur dengan pulas dan nyaman.
Ia tetap melaksanakan tugas rutinnya setiap pagi. Melayani sang suami, dan keluarganya yang lain. Mama ana belum mengetahui apa yang terjadi, sehingga masih bersikap seperti biasa saja saat itu.
"Mas berangkat dulu, Lara hati-hati di rumah." ucap Adam, dengan mengecup kening Lara.
"Iya, Mas." Lara kemudian melambaikan tangannya, melepas Adam yang telah menyetir mobilnya sekarang.
Lara kembali masuk, dan membereskan meja makan agar kembali rapi. Di bantu mama ana, meski hanya diam tanpa suara. Tapi Iel tak canggung, karena sudah terbiasa dengan semua keadaan itu.
Kini semua telah selesai, Lara bergegas kembali ke kamarnya. Melakukan senam untuk wanita hamil agar dapat melahirkan dengan normal. Itu yang di inginkan mama ana, dan Ia malas ketika harus mendengar banyak celotehan ketika semua tak sesuai keinginannya.
"Setidaknya, aku telah berusaha. Dan sisanya, tergantung keputusan Tuhan. Meski, Tuhan kadang tak adil padaku." gerutu Lara, mentertawakan dirinya sendiri.
Gerakan demi gerakan Ia lakukan dengan perlahan, manarik dan mengatur nafasnya agar lebih rileks dalam menghadapi masa persalinan yang semakin dekat. Namun, konsentrasinya buyar ketika Mama ana kembali memanggilnya.
"Iya, Ma... Kenapa?" tanya Lara yang menghampiri ke bawah.
"Kamu menganggur?"
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Antarkan ini ke tempat Dion. Ini makanan kesukaan Dion. Setelah itu, segera pulang, jangan cari perhatian disana."
Lara hanya berdehem, lalu berjalan keatas untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Perasaannya begitu gembira, begitu juga bayinya yang bergerak begitu aktif ketika mendengar nama ayah kandungnya di sebutkan.
" Kamu faham sekali rupanya." ucap Lara dengan mengelus perut besarnya itu.
Dengan begitu semangat, Lara menghampiri bungkusan makanan itu dan membawanya keluar. Ia menggunakan taxi, karena bisa beralasan telat pulang nantinya.
.
.
.
"Dion..." panggil Lara, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kenapa kau kesini?"
"Mama memintaku mengantarkan ini untuk kalian. Dewi ada?"
"Didalam, masuklah dan segera selesaikan urusanmu dan pulang." tegas dan begitu lugas ucapan Dion, tanpa memikirkan perasaan Lara saat ini.
__ADS_1
"Bisakah, sedikit lembut? Setidaknya, meski aku bukan siapa-siapamu, tapi anak ini..."
Dion berangsut dari tempat duduknya, dan segera menutup mulut Lara agar tak melanjutkan ucapannya itu.
"Ra... Sudahlah. Aku sudah mulai tenang, jangan kau ganggu lagi. Jika seperti ini, aku bukan hanya pindah keluar rumah, tapi bisa ke luar kota, bahkan ke luar negri."
"Dion..."
"Shut up...! Diamlah.... Aku mulai jengah, Lara."
Untungnya Dewi keluar, dan menyapa Lara dengan ramah. Hingga perdebatan mereka berakhir ketika itu juga.
"Jangan ngelantur, ketika kau bicara dengan Dewi. Aku bisa kasar, tak perduli dengan bagaimana kondisimu saat ini." ancam Dion, berbisik pada Lara dengan penuh tekanan.
"Mba, masuk yuk." ajak Dewi padanya.
"Iya, Wi- Makasih. Ini oleh-oleh dari mama buat kalian."
"Apa ini, repot-repot sekali?" ucap Dewi dengan begitu bahagia.
Merekapun menghabiskan waktu berdua, layaknya Kakak dan adik ipar yang normal dan saling memahami Satu sama lain. Meski sebenarnya, rahasia besar ada diantara mereka, dan bisa dengan gampang menghancurkan, tak hanya hubungan Dewi dengan Dion. Tapi seluruh keluarga besar mereka.
__ADS_1