
Pov Author.
Lara masih fokus dengan beberapa bukunya, sambil membacanya dalam hati.
Sedang asyik membaca, tiba-tiba terbayang wajah Pria yang mengganggunya seharian ini. Pria tengil yang hanya tahu menilai semua hal dengan uang, yang mungkin belum tahu tentang arti perjuangan hidup yang sebenarnya.
"Aish... Kenapa tiba-tiba mikirkan dia? Senyumnya yang nyebelin itu, mengganggu otak ku saja." gumamnya.
Lara mengganti bukunya dengan materi yang lain, dan kembali membacanya.
"Ra... Lara, tolong Uni sebentar, Nak."
"Iya, Ni. Lara turun." jawabnya.
"Kenapa?" tanya Lara yang sudah dibawah.
"Ada sebuah keluarga, pesan nasi bungkus buat acara dipanti. Lara bantuin Uni, ya?"
"Iya, bentar, Lara cuci muka dulu. Mata Lara sepet baca terus." ucapnya, lalu berlari kekamar mandi.
Semua pegawai termasuk Uni evi sudah mempersiapkan semua bungkusan. Lara mendapat bagian pembungkusan sayur berkuah, dan Iq lakukan dengan begitu rapi, dan tak bececeran dilantai.
__ADS_1
"Lara ikut, ya. Bosen daritadi baca buku." rengeknya pada Uni evi.
"Yaudah, ganti baju, pakai rok panjang. Pakai selendang bila perlu." balas Uni evi padanya.
Lara menurut, dan segera mengganti pakaianya. Dengan mobil Luxio milik Sang bos, Lara naik dibangku tengah memegangi nasi agar tak roboh dari susunan. Hingga sampai dipanti asuhan, dan Lara menurunkan semuanya.
Lara menatap anak-anak yang bermain tanpa beban, bahagia dan ceria meskipun keada'an mereka sulit.
"Kalau Lara diletakan dipanti, apakah Lara akan bahagia seperti mereka?" gumamnya.
"Woy..." ucap seseorang yang menepuk bahunya, sekaligus mengagetkanya.
"Aaaish, siapa ngga sopan banget ngagetin orang." bentaknya, lalu semakin terkejut dengan seseorang didepanya.
"Nganter pesenan nasi bungkus." jawabnya acuh.
"Jadi, orang tuamu pemilik Rumah makanya?"
"Bukan, Bosku. Aku ngga punya orang tua. Tinggal dan numpang makan diruko rumah makan mereka. Lumayan, bisa makan dan tidur gratis." jawabnya.
Dion seolah tak percaya dengan semua ucapan Lara, dan hanya tersenyum mengejeknya karna dinilai berbohong tentang kehidupanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu disini?" tanya Lara.
"Hmmm? Ini yang ngadain acara Orang tua gue, syukuran karna Kakka gue udah membaik kondisinya. Begitu terus tiap ada perubahan. Padahal belum sembuh juga."
"Itu tandanya mereka orang baik, masih mau berbagi dengan sesama. Meskipun entah apa alasanya, setidaknya mampu membantu yang lain. Rumah makan kami pun terbantu karnanya." jawab Lara.
"Ra... Main yuk," ajak Dion, dengan menarik tangan Lara.
Lara yang terkejut terpaksa mengikutinya, dan berbaur dengan anak panti yang lain. Bermain kejar-kejaran, seperti anak kecil yang bebas tanpa beban fikiran.
Tubuh Lara terasa ringan, tertawa lepas, berlarian mengitari lapangan. Sedang Dion menatapnya takjub, menatap senyuman Lara yang begitu manis. Tak seperti beberapa waktu lalu, yang terlihat begitu lelah, marah, dan tak memiliki semangat dalam hidupnya.
"Senyum itu, senyum yang membuatku berhenti mengeluhkan dunia ini sejenak. Senyuman yang indah, yang bahkan membuatku tak bisa berpaling ketika menatapnya. Senyum Lara," gumamnya, dengan terus menatap Lara tanpa mengedipkan matanya.
"Lara...." panggil Uni evi, dengan suaranya yang nyaring itu.
"Iya, Ni, Bentar." jawab Lara, lalu berlari menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Lara.
"Kok main sama anak kecil? Lara kan udah besar. Bantuin bagi-bagi'in makananya sana."
__ADS_1
"Iya," jawab Lara, lalu berlari menuju kepembagian makanan tanpe menghiraukan Dion.
"Itu siapa, ganggu pemandangan indah orang aja." gerutu Dion.