
"Lara, siapa Dia?" tanya Uni evi, yang terkejut.
"Temen sekolah, Ni." ucap Lara, dengan memelpas pelukan Dion.
"Lara masih SMA, sebentar lagi kelulusan. Jangan sia-siakan perjuangan Lara selama ini, hanya gara-gara laki-laki labil." omelnya.
"Engga, Uni. Dia cuma lagi bujuk Lara supaya mau ngajarin Dia menjelang ujian akhir, nanti belajarnya dengan pengawasan guru Lara, kok. Uni ngga usah khawatir." bujuk Lara.
"Oke... Uni pegang janji Lara. Kamu, pulang sekarang. Ngga sopan nemuin gadis orang diem-diem." tunjuk Uni evi padanya.
Dion yang sedikit gugup, lalu pergi dengan berat hati. Terus memperhatikan keada'an Lara yang begitu menyedihkan baginya.
Dion menaiki motornya, dan berjalan kencang hingga sampai disebuah taman. Ia buka jaketnya, lalu mengusap wajah serta kepalanya dengan kasar. Lara yang ada difikiranya sa'at ini. Terbayang bagaimana Lara harus memakan makanan sisa yang dijal dirumah makan itu dan ketika Lara harus mulai bekerja ketika Ia masih terlelap, dengan mimpi indahnya.
"Begitu memperihatinkan kah hidupmu, Ra? Kenapa tak ngga cerita dari awal, aku bisa membantumu sedikit melewati kesulitan ini."
Dion masih melamunkan Lara untuk beberapa sa'at, hingga Sang Kakak menintanya pulang.
"Kenapa nyuruh balik? Biasanya juga ngga pernah?" tanya Dion lewat telpon itu.
__ADS_1
"Sebentar lagi ujian kelulusan, kenapa ngeluyur mulu? Ngga kepengen lulus ngga sih tahun ini? Mama udah nyiapin guru privat terbaik buat loe."
"Ngga usah... Gue udah punya guru gue sendiri. Gue pasti lulus tahun ini. Bilang sama Mama, sebentar lagi gue pulang."
"Oke..." ucap Adam, lalu menutup telponya.
Dion kembali kemotornya, dan menarik gas dengan kencang hingga sampai kerumah.
"Dion pulang," ucapnya.
"Darimana saja? kamu tahu, daritadi guru privatmu nungguin? Mau batal les lagi? Mau ngga lulus tahun ini?" ancam Sang mama.
"Engga... Ngga usah repot-rept lagi nyari'in guru les. Dion udah dapet guru Dion sendiri." jawab Dion, yang duduk lalu meainkan Gawainya.
Sebenarnya dion begitu menginginkan itu semua sejak dulu, sehingga Dion sengaja memposisikan dirinya sebagai anak nakal dalam keluarga itu. Dion ingin bebas, meskipun dinegri orang, dan jauh dari keluarganya. Tapi sekarang berbeda, Ia tak ingin pergi, itu semua karna Lara.
"Tapi... Jika Dion lulus, Dion mau minta sesuatu." ujar Dion.
"Apa itu? Mobi baru? Atau motor sport lagi, seperti yang kamu idamkan selama ini,"
__ADS_1
"Tidak, bukan itu. Dion ingin, perusaha'an memberi Beasiswa pada Guru les Dion, masuk ke universitas mamapun yang Ia iginkan."
"Baik... Tapi, Mama ingin nilaimu diatas standar. Bagaimana?" tantang Sang mama.
"Oke, tapi dalam beberapa bulan ini, Dion akan sering telat pulang, mau belajar tambahan." ujar Dion, dengan wajah begitu antusias.
Ke'esokan harinya, Dion berangkat kesekolah dengan wajah begitu ceria, Menanti Lara digerbang sekolah, dan menyambutnya dengan senyum termanis yang dimilikinya.
"Pagi, Lara..." sapa Dion dengan begutu ramah, ketika Lara tiba dengan menggunakan sepedanya.
"Pagi, tumben udah dateng jam segini? Biasanya balapan sama bel masuk?" tanya Lara.
"Nungguin kamu. Murid kan harus datang lebih cepat dari guru lesnya. " goda Dion.
"Jadi?"
"Jadi gimana? Mau kan , ngelesin gue? Aman kalau soal bayaran," ucap Dion.
"Bukan masalah bayaranya, tap dari kamunya serius ngga buat belajar. Aku adalah tipe orang yang ngga punya banyak waktu bermain-main, bahkan ingin tidur dan bermimpi indahpun rasanya sulit. Jadi, jangan pernah mencoba mempermainkan waktuku." pinta Lara.
__ADS_1
Dion menghampiri Lara, dan mentapnya tajam.
"Waktu yang ku curi darimu, akan ku bayar dengan setimpal. Hingga kamu tak akan pernah menyesal memberikanya padaku."