
Lara tertegun menatap Dion yang semakin tampan baginya, sampai lupa melepas tanganya digenggaman Dion.
"Dion, Lara.... Ayo, pulang." tegur Mama ana.
"Dion pulangnya ke Apartement, ngg pulang kerumah. Udah biasa sendirian, kayaknya agak rikuh kalau harus ramai-ramai." ucap Dion, tanpa mengurangi rasa hormat.
"Kenapa? Ngga nyaman ada Lara" tanya Papa farhan.
"Ngga juga. Cuma... Terbiasa sendiri aja sih. Mau antar Dion ke Apartement Dion Kan? Bantu beresin juga. Bisa kan, Ma?" bujuk Dion pada Sang mama.
"Mama juga capek sayang. Yasudahlah, demi kamu apapun sekarang. Lara ikut, bantuin Mama, biar tahu apa itu. Apartement." ajak Mama ana.
"Mama tahu banget, kalau Lara pengen nanya itu." jawab Lara, diselingi senyum manisnya.
Perjlanan mereka mulai kembali. Untung saja Pak johan membawa mobil yang besar, sehingga muat untuk keluarga itu beserta barangnya.
Lara duduk tepat disebelah Dion dibangkua tengah bersama Mama ana disisi yang lain. Sedangkan Adam, duduk dibangku belakang karena ingin berbaring tidur sejenak.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di Apartemen Dion karena Pak johan membawa mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi kali ini.
__ADS_1
"Wuuuuekkk.... Pak johan kenapa ngebut-bgebut? Lara mabok." omel Lara.
"Biar cepat sampai, Lihat Nyonya dan Tuan sudah kelelahan." jawab Pak johan.
Lara yang sudah tak tertahan lagi dengan mualnya, ingin cepat-cepat keluar dengan membuka pintu di bagian Dion duduk, namun terlambat. Lara tak bisa menahanya lagi dan muntah diatas paha Dion.
Lara mendelik kaget, lalu menatap Dion yang mengusap wajahnya kesal.
"Dion... Ma'af." lirih Lara.
"Kalau ngga kuat itu minta asoi, biasanya juga gitu." bisik Dion dengan kesal.
"Aish... Sudah lah. Biar Dion bersihkna sendiri diatas. Kalian menyusul saja, dilantai Dua Puluh, ini nomornya." ucap Dion, dengan memberikan sebuah kartu. Lalu Ia berlari kencang menuju Apartementnya.
Lara ikut keluar dari mobil, disusul mama ana dibelakangnya, dan memijat punggung Lara.
"Lara ngga papa?" tanya Mama ana, lalu disusul Adam yang keluar dari mobil.
"Lara kok tumben mabok?" tanya Adam.
__ADS_1
Lara tak menjawab karen pusing, Ia hanya melirik Pak johan yang sedang menurunkan barang milik Dion, lalu berjalan membawanya keatas.
"Adam... Lara lemes, Adam bisa gendong?" bujuk Mama ana.
"Bisa, untung tadi sempet tidur sebentar. Ayo Lara," ajak Dion, agar Lara naik dipunggungnya.
Lara melirik, lalu Mama ana mengangguk agar Lara menuruti untuk digendong Adam sampai keatas.
"Ngga papa, nanti dilift Lara turun." ujar Mama ana.
Lara pun meng'iyakan, lalu naik kepunggung Adam. Mereka berjalan beriringan, dengan Mama dan Papa berjalan bergandengan dibelakang mereka. Menatap mereka dengan senyum gemas dan bahagia.
"Kayak kita dulu ya, Pa?" ucap Mama ana.
"Mama mau digendong lagi?" tanya Papa farhan.
"Pengen, tapi pinggang Papa udah ngga kuat. Takut malah encok," ledek Mama ana, dengan tawanya yang pecah, disusul juga oleh tawa Papa farhan.
Sementara itu, Dion sedang kesal membersihkan dirinya sendiri dikamar mandi, rasa jijik dan marah menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Kampunganya itu masih aja ada. Padahal... Sudah sering naik mobil mewah bersama Kak adam. Apa itu hanya untuk memancing perhatianku, Lara? Oh, tidak bisa. Aku sudah terlanjur menganggap, jika aku tak mengenalimu." gumam Dion, yang sedang berdiri dibawah Showernya.