
"Ini semua gara-gara Lara ya?" tanya Lara pada seisi rumah.
"Engga... Dion memang begitu, Lara makan saja." balas Adam.
"Ma'af,"
"Udah Lara, ngga usah diambil hati. Dion hanya belum menyesuaikan dirinya dengan semua keada'an ini. Mungkin juga cemburu." ujar Mama ana.
"Cemburu? Apa Dion cemburu ketika aku bermesra'ab dengan Mas adam? Masih adakah cintanya untukku?" ucap, lalu gumam Lara.
"Iya, cemburu. Dia memang suka cemburu ketika melihat Adam begitu bahagia. Bukankah begitu Pa?" lirik Mama ana pada Papa farhan.
"Owh... Iya, Ma." ucap Lara.
Mereka melanjutkan sarapanya tanpa Dion, dan setelah itu bersiap berangkat kekantornya.
"Lara... Tolong panggil Dion dibelakang. Palingan sedang merokok Dia disana." pinta Mama ana.
"Iya, Ma.... Lara panggilin." ucap Lara dengan senang hati. Ia berfikiran untuk menanyakan perasa'an Dion padanya sa'at ini. Karena Lara berfikir, jika Dion masih menyimpan cinta untuknya.
Tiba diteras belakang, Lara mencari-cari Dion disekeliling taman, namun tak ditemukan. Lebih jauh lagi, Ia mendengar suara Dion dan Dewi sedang tertawa bersama dengan begitu akrabnya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun pembicara'an itu begitu menyenangkan, sehingga membuat Dewi lupa jika sedang menjemur pakaian.
Jantung Lara berdebar, Ia berjalan menghampiri mereka dengan rasa cemburu. Meskipun tak ada hak lagi untuk Lara merasakan itu. Semakin lama semakin dekat, Dion menyadari kedatangan Lara.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Dion.
"Mama manggil. Semuanya udah siap kekantor." jawab Lara.
"Ya... Terimakasih." jawab Dion, dengan nada datarnya.
Dion pergi, meninggalkan Lara yang terdiam, lalu melambaikan tanganya pada Dewi dengan senyuman manisnya.
"Kenapa, ada apa dengan senyum mereka? Seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Tapi apa?" batin Lara.
"Mba Lara, ada apa?" tanya Dewi.
"Hah... Engga, lagi ngobrolin apa tadi?"
"Owh... Iya, selamat ya. Saya permisi." jawab Lara.
Lara berlari kecil, ingin mengejar Dion, namun Adam memanggilnya, hingga Dion telah pergi jauh bersama Sang ayah.
"Sayang, siap-siaplah. Kita mau pergi ini." ujar Adam.
"Kemana, Mas?"
"Baju kebaya Lara kan belum dibeli sayang. Mau jahit sendiri, ngga akan sempet waktunya."
__ADS_1
"Oh, iya... Lara lupa, ma'af ya mas. Lara siap-siap dulu." tukas Lara. Lalu lari kekamarnya, kemudian tak lama Ia keluar lagi dengan dandanan lebib rapi.
"Nah... Gini kan cantik. Yuk, berangkat." aja adam dengan menggandeng tangan Lara.
❤️❤️❤️
"Dion... Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada calon kaka iparmu?" tanya Papa farhan.
"Siapa, Lara? Begitu gimana? Biasa aja sih. Kenapa?" tanya Dion, dengan tetap memainkan Hpnya.
"Biar bagaimanapun, itu calon Iparmu, kesayangan Kak Adam. Simpan bencimu, meski Papa ngga tahu alasan kamu membencinya."
"Dion ngga benci....."
"Papa tahu dari raut wajahmu. Kamu menyimpan kebencian yang mendalam buat Lara. Apa masalah kalian?"
"Kami... Punya masa lalu, tapi jangan ceritakan ke kak adam. Dia bisa syok, Dion takut jantungnya_...."
"Kamu faham, kamu mengerti. Perbaiki sifatmu, setidaknya didepan Kakakamu. Lupakan sementara masalah kalian. Papa juga ngga akan pernah mempertanyakan itu. Anggap saja tak saling mengenal."
"Itu... Yang sedang Dion usahakan, meskipun sulit."
"Setidaknya, Kamu lebih kuat dari Kakakmu Dion. Belum tentu, Kakakmu akan bertahan selama setahun ini. Karena setelah pengecekan, ternyata sebelah dari sel jantungnya sudah mengalami kematian. Sehingga, sulit jika dinyatakan akan sembuh. Dan Ayah tahu, meski Ia begitu kuat kelihatanya. Tapi Ia benar-benar sakit sekarang." ucap Papa farhan, dengan air mata yang mulai menganak sungai.
__ADS_1