
Tiba dirumah kembali, Lara menyuruh Adam langsung istirahat karena sudah nampak kelelahan. Ia melihat Mama ana sedang mengurusi undangan sendirian dan begitu sibuk.
"Lara bantu, Ma." tawarnya.
"Eh, Lara... Iya, bisa bantu misahin undanganya, terus nanti distaples buat misahin daerahnya biar gampangĀ waktu mau bagi'in." ucap Mama.
Lara menurutinya, lalu memilah semua undangan sesuai daerahnya, lalu menuliskan nama daerah tersbeut disebuah kertas.
Mama ana terkejut melihat cara Lara menulis, ketika pena dipengang dengan cara menyelipkannya diantara jari tengah dan telunjuknya.
"Lara... Itu cara nulismu memang begitu?" tanya Mama ana.
"Iya, dari kecil begini. Coba dirubah dan dibenerin malah aneh rasanya. Kenapa, Ma?"
"Kok, sama kayak Mama." herannya.
"Iya kah? Wah, kebetulan banget ya, Ma? Ya iyalah, aku kan anakmu. Satu bukti lagi kudapatkan."
__ADS_1
"Iya, sama Mama juga gitu. Tapi udah sekian lama ngga nulis. Makanya daritadi gagal terus. Tulisanya jelek."
"Yaudah, biar Lara aja yang tulis. Lara free kok, paling minta istirahat sebentar nanti, ngga papa kan?"
"Iya, ngga papa. Mama tahu, Lara capek. Soalnya Dewi lagi dikantor sama Dion."
"Owh, jadi ngelamar kerjanya?" tanya Lara yang berusaha tenang.
"Jadi dong... Malah mengkin besok mulai kerja. Kok Lara tahu?"
Kali ini Lara berhasil menahan perasa'anya. Dan Ia pun bangga dengan itu. Meskipun sebenarnya hati itu masoh begitu bergetar, sedikit demi sedikit berkurang.
Tulisan demi tulisan selesai. Lara dan Mama ana membereskan semuanya dan memisahkan sesuai nama kotanya, agar si pengantar paket tak salah alamat.
"Lara... Ada yang mau diundang ngga?" tanya Mama ana.
"Ada, Ma. Tapi... Biar Lara aja yang kesana langsung. Cuma Mba asni, sahabat Lara dikontrakan kemarin. Aku tak mungkin mengundang Uni evi, karena Ia tahunya adalah aku dengan Dion. Ataupun Uni ema, yang Ia tahu sosok Ibu. Itu akan menghancurkan semuanya. Mba asni lah, yang sedikit mengerti, meski tetap tak mendukungku."
__ADS_1
"Baiklah, tapi kalau bisa cepat ya. Karena sebentar lagi, Lara akan dipingit. Ngga boleh keluar rumah lagi."
"Mama dulu begitu?"
"Engga... Mama kan janda, jadi ya tinggal nikah aja. Ngga ada pesta mewah, yang penting sah. Meskipun nikah sama orang kaya sih." jawab Mama ana.
"Sesedehana itu kamu tampak kan didepan orang baru. Tapi, sejahat itu untuk keluargamu sendiri. Hebat kamu, Bu." batin Lara, dengan menatap kagum Mama ana.
Ya, Lara kagum. Kagum atas kehebatan Mama ana yang seolah memiliki Dua wajah sekarang. Manis, baik, pengertian, dan begitu perhatian. Seolah berbanding terbalik jika dilihat dari masa lalu yang tega membuang dan tak mengakui anak sendiri. Demi apakah itu, apakah demi harta? Hanya Mama ana yang bisa menjawabnya.
Tapi, setidaknya ada ketulusan seorang Ibu dihatinya, meskipun salah sasaran. Cinta itu begitu tulus Ia berikan pada anak sambungnya, sementara anak kandungnya sendiri dianggap telah mati.
Anak itu sekarang ada dihadapanya, gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantu kesayanganya. Dan dengan kata lain, Ia sebenarnya telah mengasuh musuh besarnya dengan penuh kasih sayang. Hanya tinggal menunggu waktu, dimana semua akan terungkap.
Seperti biasa, Lara akan berubah jika berada didalam kamat sendiran. Tersenyum puas, ketika satu langkah tercapai, dan menangis ketika menilik kembali pengorbananya akan cinta.
"Lagi dan lagi.... Tapi setidaknya, aku sudah sedikit bisa menahan sikapku didepan Ibu. Sikap, untuk tak terlalu. Terkejut dengan sebutan namanya. Yang biasanya aku akan bergetar hebat." gumam Lara, seraya menutup wajahnya dengan bantal, hingga membuatnya sedikit sesak.
__ADS_1