Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Tempat baru


__ADS_3

Tiba sa'atnya Lara berangkat, dilepas oleh 'uni ema, dan Uda herman, menaiki Bus antar kota.


Begitu berat Uni ema melepas gadis kecil itu. Berkali-kali Ia mencium dan memeluk Lara, seolah tak ingin melepaskan genggamanya.


"Lara bai-baik disana, patuhi semua peraturan dari Uni evi. Semua perlengkapan sduah mereka carikan, jadi Lara hanya tinggal bawa badan saja. Bantu mereka seperti Lara membantu kami disini. Faham?"


"Faham, Bu. Lara pamit." ucap Lara, dengan mencium tangan Ibu angkatnya tersebut.


Uni ema sangat Faham, jika sebenarnya Lara pun berat untuk pergi, dan Lara sedang menahan tangisnya dengan begitu kuat sekarang. Sehingga Ia pun menahan tangisnya dihadapan Lara.


"Memangislah, anaknya sudah pergi." Ledek Uda herma pada istrinya.


Terang saja, tangis Uni ema langsung pecah dalam pelukan Sang suami, beberapa sa'at setelah Lara benar-benar pergi dari hadapanya.


"Ayah, Bunda... Akhirnya Lara kembali kesana. tapi sayangnya bukan dirumah kita, melainkan diruko milik orang lain sekarang. Lara harus menjadi orang lain, agar lebih kuat menghadapi kenyata'an, dan tak terjebak dalam bayang-bayang kenangan bersama kalian." ucap Lara, dengan memandagi foto kedua orang tuanya.

__ADS_1


🥀


🥀


"Lara! Kenapa melamun?" tegur Uni evi, adik uni ema.


"Oh, ngga papa, Ni. Cuma. Keinget Ibu ema aja."


"Telpon, kalau kangen. Mereka juga kangen Lara, katanya."


"Engga, ah. Nanti kalau Lara nelpon, malah tambah kangen, nangis, kan Lara malu." ujar Lara, dengan nada tertekan.


Lara mengangguk, lalu membereskan semua pekerja'an, lalu mengistirahatkan tubuhnya.


Tak terasa, sudah Dua tahun Lara tinggal disana, sekolah dengan peralatan seadanya. Mengendarai sepeda tua milik Suami Uni evi. Lebih nyaman, daripada harus naik angkot, ataupun jalan kaki. Karna jarak yang ditempuh cukup jauh.

__ADS_1


Lara bukan tak ingin mencari tempat tinggal yang lain. Melainkan Ia hanya tak ingin mempersulit hidupnya lagi, terlebih kerna mereka semua sudah begitu baik padanya.


Lara sudah kelas Tiga SMA sekarang, sedang ingin fokus dengan ujian akhirnya, hingga nanti Ia bisa mendapatkan beasiswa untuk masuk kedokteran.


Hari ini, Lara datang kesekolah tanpa semangat seperti biasanya, malas, lelah, dan begitu tak ingin menginjakan kakinya disana. Bukan karan bosan, tapi hari ini adalah hari ibu. Dimana semua temanya akan mengadakan acara dengan mengundang Ibunya masing-masing, sedang Lara tak bisa melakukanya. Iri? Jelas tidak, Lara hanya tak ingin larut dalam kesedihan dan rindu yang begitu pedih.


Acara dimulai. Seperti biasaya, semua siswa akan maju kedepan kelas, dan menyanyikan lagu persembahan untuk Sang ibu tercinta, menatap ibu masing-masing dengan air mata yang bercucuran, lalu berlari berhamburan untuk memeluk ibu masing-masing. Lara hanya diam ditempat tanpa ekspresi dan menatap mereka semua dengan tangisnya masing-masing tanpa menghiraukan perasa'an Lara. Hingga akhirnya Ia lari dan pergi dari ruangan itu, menuju gudang belakang, seperti biasanya ketika Ia kabur.


"Apa cuma pada waktu seperti ini mereka banjir air mata, dan seolah begitu menyayangi Ibu mereka? Padahal, biasanya mereka selalu membicarakan keburukan /ibu masing-masing, yang tak mampu menuruti perminta'anya. Hhh, Munafik..." Gerutunya.


"Siapa yang kau bilang munafik?" sahut seorang Pria tampan yang menghampiri Lara dipersembunyianya.


"Siapa kamu? Kenapa bisa kesini? Ini tempatku." balas Lara.


"Kamu memang biasa digudang bersama para tikus? Perkenalkan, Aku Dion. Pemilik-..."

__ADS_1


"Hey, aku hanya tanya namamu, bukan pekerja'an ayahmu, atau bahkan kekaya'anya. Kamu anak baru?" sambung Lara.


"Hey, aku hanya ingin menjawab pertanya'anmu itu sekaligus, karna aku malas, jika harus menjawab pertanya'an berulang-ulang." balas Dion, dengan senyum manis bergingsulnya.


__ADS_2