
Tok tok tok!
Diluar Mba asni mengetuk pintu.
Ia mendapat telepon dari Adam, agar mengecek keada'an Lara dirumah. Namun, beberapa kali mengetuk Lara tak kunjung membuka pintunya. Mba asni mengira Lara sedang tertidur pulas, tapi lama kelama'an fikiranya cemas.
"Ra... Buka, Ra! Ini mba asni." teriaknya dengan menambah ritme dan kekuatan ketukanya.
"Biasanya, tidur sepulas apapun Lara, pasti bangun kalau pintunya diketuk seperti ini." gumamnya.
Mba asni lalu membuka paksa pintu Lara, lalu masuk kedalam dengan berlari. Ia mencari Lara kekamar, namun tak Ia temukan. Hanya baju yang barusan Ia pakai tergeletak dilantai. Dengan ragu, Mba asni melangkahkan kakinya kekamar mandi, dan betapa Ia terkejut melihat kondisi Lara yang sedang menenggelamkan diri di bak mandi.
"Astaghfirullah... LARA!" teriaknya.
Mba asni dengan sekuat tenaga meraih Lara dari bak mandi itu, meski tubuhnya harus ikut basah. Diangkatnya kepala Lara terlebih dahulu, agar bisa membuatnya bernafas cepat.
Mba asni menepuk-nepuk pipi Lara hingga memerah, lalu Lara menarik nafas panjang, dan terbatuk.
"Ra... Akhirnya sadar. Kamu ngapain sih? Mau bunuh diri, kenapa?"
__ADS_1
"Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Lara, dengan mengusap wajahnya dari air.
"Lah, ini tadi ngapain? Berendem lama-lama dibak mandi, udah lama kayaknya sampai hampir kehabisan nafa." omel Mba asni padanya.
"Engga, syukurna ngga sampai kepikiran bunuh diri. Lara masih waras kok, Lara cuma pengen ngademin kepala sama otak aja," ucap Lara, lalu keluar dari bak mandi. Ia lalu meraih handuk, dan melilitkan ditubuhnya.
"Ra... Lara kenapa jadi seperti ini? Lara sakit, tapi bukan sakit fisik."
"Lara sakit jiwa maksudnya? Engga, Lara masih waras." jawabnya, dengan nada datar.
"Lalu... Kenapa Lagi?" tanya Mba asni yang begitu penasaran dengan perubahan sikap adiknya itu.
Mba asni mengerenyitkan dahinya, memijat kepalanya, lalu menghampiri lara.
"Apa?" tanya nya, dengan duduk disamping Lara, dan mengeringkan rambut Lara dengan handuk.
"Mamana Dion dan Mas adam, itu adalah Ibu kandung Lara. Orang yang Lara cari selama ini." jawab Lara.
Mba asni begitu terkejut, hingga menghentikan kegiatanya, dan memutar tubuh Lara untuk menghadapnya.
__ADS_1
"Ra.... Jelaskan lebih lengkap, apa ternyata kamu dan Dion adalah saudara kandung?"
"Syukurnya engga, Kami bukan saudara kandung. Tapi, Lara ngga mau mempertaruhkan cinta Dion, dan melibatkanya dalam semua ini."
"Apa tujuan Lara?"
"Ngga ada, hanya memberi pelajaran sedikit, pada Ibu yang tega menelantarkan anaknya." jawab Lara.
"Mungkin ada alasan tersendiri dia melakukan itu, Ra."
"Alasannya karena tak tahan hidup miskin. Dan bahkan, setelah kaya pun tak mau lagi mengingatnya. Baginya, Lara sudah mati."
"Ra.... Ingat, balas dendam tak baik."
"Lara ngga balas dendam, hana ingin membuatnya ingat Lara. Dan.... Lara ingin dekat denganya, itu saja. Mas adam sebagai anak kesayangan keluarga itulah, yang bisa mewujudkan semuanya." Lara tersenyum, lalu membalikan kembali tubuhnya dan menikmati setiap belaian Mba asni dirambutnya.
Mba asni yang mendengar semua perkata'an Lara pun bingung harus menjawab apa. Lara sebenarnya anak yang baik, yang mampu mewujudkan semua impian dengan kerja kerasnya meskipun sulit. Mba asni hanya bisa mendo'akan, yang terbaik untuk Lara kedepanya.
"Semoga, dengan sayang dan cintanya Adam, bisa membuat hati Lara luluh, dan bisa melupakan semua obsesi buruknya. Dan, semoga saja dengan sayangnya Nyonya ana pada Lara, bisa membuat Lara perlahan mema'afkanya, dan mema'afkan diri Lara sendiri. Hanya Lara namanya, tapi jangan hatina pun ikut Lara." batin Mba asni, yang begitu tulus dengan Lara.
__ADS_1